jump to navigation

Kehamilan Kosong April 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
2 comments

Banyak peristiwa yang saya alami beberapa bulan terakhir ini, yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Seperti di awal tahun 2015 ini, tepatnya pertengahan januari kemarin, saya lepas IUD yang dipasang setelah saya kembali haid saat Khansa berusia 9 bulan. Memang berbeda pada saat setelah melahirkan Khalid, saya langsung dapat haid kembali setelah selesai nifas. Waktu masih punya anak satu, saya dan suami tidak berminat untuk KB, tapi tetap berupaya untuk menjaga jarak umur anak, tapi ternyata Qodarullah, saat Khalid usia 6 bulan, saya sudah hamil lagi.

Berawal dari situ akhirnya setelah Khansa kami memutuskan untuk KB, untuk menjaga jarak usia anak, yang awalnya kami ingin minimal berjarak 2tahun. Karena saya ada varises, jadi saya tidak disarankan oleh dokter dan bidan untuk KB hormonal (minum pil atau suntik), jadi hanya bisa menggunakan IUD. Akhirnya mau tidak mau, pasang IUD.

Alhamdulillah, pertengahan januari lepas IUD, di bulan Februari saya langsung hamil. Saya tidak mengalami morning sickness, tapi “night sickness”, ketika malam badan sudah lemas, kepala pusing, inginnya ya langsung tidur saja, istirahat. Senang sekali rasanya, karena saya pribadi sudah ingin punya anak lagi. Karena jujur saja awalnya sempat khawatir, Allah tidak ridho kalau kami punya anak lagi. Melihat ada beberapa teman yang juga sudah punya anak dua tapi belum dikaruniai anak lagi meski mereka ingin. Semua tidak lepas dari takdir Allah.

Akhir Februari di cek di RS Mitra Keluarga untuk USG pertama kali, belum terlihat kantong hamil, meski sudah ada penebalan dinding rahim yang artinya insyaallah benar, saya positif hamil. Namun qodarullah, ketika USG kedua sekitar pertengahan Maret, dokter Sofani mengatakan kalau berdasarkan hasil USG, usia kandungan saya sudah 6 minggu, tapi kalau berdasarkan HPHT usia kandungan saya sebenarnya sudah 9minggu, jauh sekali jaraknya. Kemudian dokter mengatakan lagi bahwa ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama, saya Blighted Ovum (Kehamilan Kosong) atau kemungkinan kedua, saya lupa HPHT-nya. Dokter bilang mudah-mudahan yang kedua. Tapi, justru saya yakin sekali HPHTnya benar, karena anak ketiga ini memang sudah saya nantikan. Tidak seperti ketika hamil Khalid dan Khansa dulu yang belum ada pengalaman, dan saya memang tidak pernah mencatat atau ingat HPHT saya. Cukup tersentak saya mendengarnya, meski berusaha tetap tenang. Setelah keluar dari ruangan dokter, saya langsung browsing mengenai BO tsb dari HP. Melihat info yang saya dapat dari internet dan foto kondisi kehamilan BO, entah mengapa saya yakin dokter benar, kalau saya BO. Sedih? tentu saja, karena ada harapan disana. Tapi ya, sedih yang biasa-biasa saja, sewajarnya saja. Karena saya tau semuanya sudah takdir Allah kalau memang benar BO.

Sepekan setelah USG kedua, tepatnya hari sabtu siang,  qodarullah saya keluar flek, tapi ini sepertinya bukan flek lagi, namun seperti darah haid, kaget sekali saya dan suami, meski jumlahnya tidak banyak, tapi jelas berwarna merah dan keluar terus. Anehnya, saya tidak sakit perut. Makanya masih bertanya-tanya. Apa yang terjadi. Karena sudah siang dan sepertinya tidak mungkin dapat antrian di RS dan karena ada hal lain, hari senin pagi akhirnya kami baru ke RS Mitra Keluarga Depok. Dalam perjalanan menuju RS, saya merasakan sudah seperti haid, ko rasanya makin banyak yang keluar. Akhirnya di USG lagi dan ya, benar saya BO. Kondisi kantong hamil sudah mengalami kerusakan. Setelah di USG kemudian dokter memberikan opsi, apakah dibersihkan dengan menggunakan obat , ataukah di kuret. Kalau menggunakan obat, pasien akan merasakan kontraksi yang kurang lebih sama seperti proses melahirkan, dan itu membutuhkan waktu 1-3 hari atau lebih, dan hasilnya belum tentu bersih 100% . Atau dikuret, yang insyaallah langsung bersih. Tanpa pikir panjang, saya dan suami memilih di kuret. Karena saya sendiri juga bingung kalau saya minum obat dan suami sedang kerja. Siapa yang akan menolong saya ketika saya kesakitan saat kontraksi, dan gimana ketika darah mengalir terus. Belum lagi hasil minum obat masih 50:50. Hari itu juga saya dikuret, suami izin tidak masuk kerja untuk mengurus dan menunggui saya di Rumah Sakit.

11049111_10206102808347439_2162513092229494626_n

Khalid yang sedang sekolah diminta suami dijemput oleh adik ipar. Sedang Khansa bersama saya dan suami di RS. Menunggu dari sebelum dzuhur, dari di cek dengan alat rekam jantung. Cek darah (sudah lama sekali saya tidak disuntik dan diambil darah) , ketika perawat mencari nadi saya saya pikir akan mudah, karena saya sendiri bisa melihat dengan jelas, tapi ternyata saya sok tau hehe. Justru pembuluh darah saya tipis sekali meski akhirnya tetap bisa diambil darah, alhamdulillah. Setelah diambil darah dan tentu saja dalam kondisi puasa, kami ke lantai dua, ruang tindakan, ruang melahirkan normal sepertinya, atau memang ruang kuret? entahlah saya kurang memperhatikan ruangan yang lantainya hijau itu.
11033869_10206102647543419_5337698478200998860_n
Dari siang sampai sekitar setengah lima sore, baru mulai dikuret. Saya dibius total, alhamdulillah tidak merasakan sakit apa-apa, hanya merasakan  sakitnya jarum yang berisi obat yang di tempelkan diatas pergelangan tangan kiri saya, sungguh tidak nyaman. Bahkan baru kali itu pula saya diberi alat rekam jantung, seperti yang biasa saya lihat di Film dan dihidung saya ditempeli selang oksigen. Ya, jujur saja, sakit itu memang tidak enak. Nikmat sehat adalah nikmat yang sering kita lupakan, padahal sangat mahal harganya.

Sekitar ba’da maghrib saya terbangun, dengan sebelumnya suami saya dan perawat mencoba membangunkan saya. Alhamdulillah sudah selesai, kata suami saya. Dan saat itu yang saya inginkan adalah makan. Ya, saya langsung puasa ketika memutuskan untuk kuret (karena sebelumnya tidak ada rencana untuk dikuret pada hari itu). Tidak berapa lama kemudian makanan khas rumah sakit datang, jangan bayangkan rasanya dengan masakan restoran. Karena saya lapar jadinya saya habiskan semuanya hehe. Kecuali ada minuman berwarna merah, sepertinya jus semangka, Tapi saya tidak minat, bayangkan kalau supnya saja hambar gimana minumannya 😀

11182315_10206102660383740_4791139459690731076_n

Saya makan sendiri karena suami sibuk mengurus administrasi rumah sakit, sampai setelah suami shalat isya dan menunggu proses administrasi selesai. Sekitar jam 8 lewat kami pulang, dengan kondisi saya yang masih lemas. Lemas sekali sampai-sampai saya terus berpegangan suami saya karena takut jatuh. Anak-anak sejak sore sudah diungsikan ke rumah kakek-neneknya. Sampai rumah sekitar pukul 9 malam. Kemudian saya mandi, sholat, dan kembali tidur. Alhamdulillah’alakullihal. Belum rejekinya :’)

11174922_10206102673904078_7574708474836307663_n

Iklan

Pernikahan Sausan dan Taufan November 12, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Tepat sebulan yang lalu, 12 Oktober 2014, adikku Sausan Shalihah menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Taufan Ali Nuryanto (Auf). Akad dan resepsi pernikahan berlangsung di Masjid Puri Cinere. Perkenalan Sausan dan Auf melalui proses ta’aruf. Awalnya, teman saya yang berdomisili di Jogja menawarkan Auf ke saya untuk adik saya. Tapi adikku masih kuliah, memangnya ikhwannya mau ? begitu jawaban saya. Adik saya tidak boleh berhenti kuliah karena nikah. Itu memang sudah menjadi persyaratan dari Papa. Seperti saya dan Dida juga dulu begitu. Iya ikhwannya gak masalah, begitu jawaban teman saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Ikhwannya juga suka dan pandai berbahasa Jepang, sama kan kayak Sausan?” Eh, iya sih, jarang-jarang ada ikhwan yang suka dan pandai berbahasa Jepang, tapi itu kan bukan syarat utama. Hehe. Syarat utama tentu laki-laki yang berakhlaq baik juga shalih, sehingga diharapkan ia dapat membimbing adik saya dengan baik, insyaallah.

Singkat cerita saya jadi mak comblang untuk adik saya (lagi). Saya Kepoin FB-nya Auf. Ketika membacanya pertama kali. Lhoh ini kok mirip banget sama Sausan ya? Udah namanya mirip. Taufan-Sausan. Bahasa Inggrisnya juga lumayan, dan Sausan emang yang bahasa inggrisnya paling lumayan diantara kami kakak-beradik (menurut saya). Bukan itu saja, tapi dengan “membaca” FB-nya secara keseluruhan dan diambil kesimpulan secara umum, memang “terbaca” banyak sifat yang mirip dengan adik saya. Aha, ya, mereka memang sama-sama Introvert. Hehe. Ketika saya menyuruh keduanya mengikuti Test Psikologi via Internet pun hasil keduanya sama: Pemikir Analitis 😀 Ada satu hal yang cukup membuat Sausan bertanya-tanya, yaitu soal tinggi badan sang calon. Maklum, Auf tinggal jauh di seberang pulau, Balikpapan. Karena Sausan juga anak perempuan yang paling tinggi diantara kami berempat. Jelas tingginya diatas 165cm, karena tinggi saya segitu 😀 . Tentunya wajar bila perempuan ingin pasangannya lebih tinggi atau minimal sama dari dirinya. Sama seperti saya juga dulu bertanya-tanya soal tinggi badannya Aa. Hehe.

Hingga pada akhirnya, Auf datang jauh-jauh dari Balikpapan untuk melakukan proses nazhar dengan Sausan. Kami sepakat untuk bertemu di Restoran Mang Engking UI. Karena Auf tidak begitu suka dengan keramaian. Jadi, sepertinya mang Engking cukup nyaman untuk kami semua. Sausan ditemani saya, suami saya beserta Khalid Khansa. Alhamdulillah. Tidak lama berselang, Auf langsung datang ke rumah menemui Papa. Yaudah, begitu aja. Langsung aja. Iya. Ternyata keduanya setuju untuk terus melanjutkan proses. Ehm. Saya yang kaget. Lho ini gak mikir-mikir lagi apa san? udah langsung oke gitu abis liat barusan? 😀 dan jawabannya iya. Wow. Yasud 😀 alhamdulillah.

Tidak lama dari proses nazhar, papa mama dan Sausan berangkat ke Balikpapan untuk bertemu dengan Auf dan keluarga. Alhamdulillah berjalan lancar juga, dan dapat oleh-oleh kepiting kalimantan (Lhoo). Iya, maklum, jarang-jarang makan kepiting. hihihi. Pada pertemuan itu, dibicarakan lagi tanggal menikah. Dan ternyata sebulan setelah hari tersebut. What? cepet amat? yakin nih? iya, yakin. Auf-nya juga mau cepat kak, jawab Sausan. Iya sih. Oke lah kalau begitu. Jadi, selama sebulan persiapan pernikahan Sausan kami juga cukup sibuk. Mulai dari memilih tempat, catering, baju pengantin, dll.

Mama memutuskan untuk tidak memakai WO untuk kali ini, tidak seperti pernikahan Dida. Saya tegaskan kalau tidak pakai WO, kita siap untuk cape. Banyak survei sana-sini. Namun alhamdulillah dimudahkan Allah. Meski memakan waktu dan tenaga juga pastinya. Tapi hikmahnya, jadi banyak tau range harga tempat akad dan resepsi di beberapa Masjid. Tau catering yang Oke. Tau tempat beli baju yang oke di Tanah Abang hehe. Alhamdulillah, akad dan resepsi berjalan dengan lancar.

Semoga pernikahan Sausan dan Auf menjadi sakinah, mawaddah wa rohmah. Diberikan banyak kesabaran dalam menghadapai ujian kehidupan. Serta dikaruniakan anak-anak yang shalih dan shalihah sebagai penyejuk mata kedua orangtuanya. Aamiin.

~*Afra Afifah*

[12 November 2014]

5 November 2014 November 6, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Hari ini jatah usiaku berkurang, sudah 26 tahun aku hidup di dunia. Aku hanya berharap umur-umur yang aku lalui diberkahi Allah, dan semakin berkurangnya usiaku, semoga semakin dewasa dalam menghadapi problematika kehidupan yang datang silih berganti. Karena sesungguhnya, tidak ada gunanya bila dikaruniai umur yang panjang, tapi tidak digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Dan kematian, bisa datang dengan tak terduga. Semoga Allah menyabut nyawaku dalam keadaan Husnul Khotimah.
Rabu pagi di tanggal 5 November 2014 ini, aku masak kare jepang. Tinggal ikutin instruksi dari bungkus kemasannya, karena aku beli bumbunya aja hehe. Alhamdulillah enaak. Tidak lupa aku bekali anak-anak dengan pao karakter yang lucu-lucu. Khalid minta Angry Bird, sedangkan Khansa, memilih Hello Kitty.

10650029_10204822947871727_1702453767117059048_n

1966921_10204822957831976_2457929334429462887_n

10469368_10204824169622270_2667237440113961104_n

Hari ini pertama kalinya juga aku ikut ta’lim bersama orangtua walimurid Annash lainnya di Rumah Ibu Nina, beralamat di Noor Residence, Pejaten Barat. Ustadz yang mengisi Ust. Ali Basuki Hafizahullah. Sudah lama aku ingin sekali mengikuti ta’lim rutin khusus ummahat ini, hanya saja belum bisa, karena habis antar Khalid, aku harus balik lagi ke rumah orangtua di Jagakarsa untuk menjaga Khansa, kalau-kalau dia mau Pup or Pee, dan makan juga tentunya. Ngajak Khansa ikut serta juga belum memungkinkan, karena aku bakal lelah sekali jagain dia kesana kemari, dan bisa dipastikan dia akan tertidur di jalan dalam perjalan pulang ke Depok. Repot banget pastinya, karena yang tidur bukan Khansa aja, tapi Khalid juga hampir selalu tertidur di motor bila sudah 3/4 perjalanan pulang. Kalau tertidur di mobil sih ga masalah insyaallah, anak-anak bisa aman dan nyaman. Nah ini bawa dua anak dan dua-duanya tertidur di motor. Bisa dibayangkan? 😀 udah jadi “makanan sehari-hari” sih buatku. Makanya itu sebelum jemput Khalid, aku usahakan sudah boboin Khansa, supaya ketika Khalid sudah dijemput, dan kami akan balik ke Depok, khansa udah seger lagi, gak ikut-ikutan tidur. (*sambil berharap tabungan kami bisa segera terkumpul untuk membeli mobil, aamiin, one day, insyaallah ^^ )

Bisa ikut ta’lim tanpa membawa anak-anak bagiku di masa sekarang-sekarang ini merupakan suatu “kemewahan” , karena aku jadi bisa konsen mendengarkan dan mencatat dengan baik penjelasan dari Ustad, sama ketika masih single dulu. Kalau bawa anak? yah, ada aja maunya ntar 😀 minta ini itu, ga betah duduk diem lama (iyalah) dst dst..weuh banyak 😀 mesti nyiapin banyak “amunisi” untuk mensiasati anak-anak supaya tetap “tenang” dan sabar sampai kajian selesai hehe.

Ada yang lucu ketika dalam perjalan menuju Rumah Ibu Nina tadi pagi, mba Meta Ummu Amare yang duduk disebelahku bilang:

“waduh ini kebanyakan isinya bumil-bumil ya, mudah-mudahan gak ketularan (hamil)”.

Lalu saya menimpali “wah kalau saya malah udah kepengen hamil lagi hehe, emangnya Amare berapa bersaudara mba?” tanyaku.

Mba Meta menjawab “baru dua sih, tapi kan umurku udah 41 tahun gitu lhoo” .
“hah? 41?” kaget juga aku, karena aku menyangka umur beliau masih 35-an seperti hampir sebagian besar ummahat annash.

Kemudian aku melanjutkan: “ibuku umur 45 lho”
Eh, malah lebih kaget lagi mba meta hahaha “haaah? emangnya Afra umur berapa?”
“umur 26” jawabku.
“Apa?? afra 26??” tanya Ummu Filzah menimpali.
“wah mestinya kita gaulnya sama ibunya Afra ya, ya ampuun.. ” kata Mba Meta.

hehe, ya memang aku merasa aku ummahat yang paling muda di Annash sih (sejauh ini dari pengamatanku 😀 ) .
Lalu ketika mobil yang kami tumpangi sudah sampai di rumah Ibu Nina, mba meta berkata lagi “widih keren ya pake spatu kets gitu, masih muda asik ya bisa pake bgituan, keren aja gitu liatnya”
hahaha ada-ada aja mba Meta.. dalam hatiku sih (ini soal selera, aku memang lebih suka dan lebih nyaman pakai kets dibandingan pakai spatu flats cewek) 😀

Sesampainya di rumah, alhamdulillah Pizza dan Lasagna yang aku pesan ke Ummu Razan datang, pizzanya enaaak, lasagnanya juga ^^ . Aku pesan bukan dalam rangka hari lahirku. Hehe. Kebetulan aja dua hari sebelumnya aku membaca status FB Ummu Razan yang sedang buka PO untuk Pizza dan kue-kue lain yang beliau bikin. Pesan paling lambat hari selasa sore. Rabu pengiriman. Aku yang udah lama ingin mencoba Pizza-nya Ummu Razan jadi gak sabar untuk segera menghubungi beliau. Akhirnya kesampaian juga 😀 Menjelang sore, aku kelelahan. Karena masih mengurus orderan, packing, dan mesti kirim paket ke JNE. Biasanya aku panggil kurir atau suamiku yang antar ke JNE. Tapi qodarullah aa masih belum sembuh betul untuk membantu mengantarkan paket ke JNE.

10685500_10204824815478416_730342730558116746_n
Sepulangnya dari JNE aku bener-bener tepar, ya hari rumah cukup berantakan, karena semenjak siang aku udah kelelahan. Menjelang jam 11 malam, Aa bangunin aku untuk shalat Isya, alhamdulillah. Dan surprise, aa juga udah banyak membantu merapikan ruangan. Merapikan kamar, ngurus anak-anak ketika aku tepar tadi. Tentu saja juga menjaga Khansa di rumah supaya aku nda kelelahan lagi seperti beberapa hari sebelumnya, makanya aku bisa ikut ta’lim hari ini. Alhamdulillah.

i-love-zawji-131288868733
Jazakallahu Khayran Aa, it’s mean a lot for me. Bagiku perhatian-perhatian semacam itu yang paling aku butuhkan, it’s priceless. Bersabar ketika aku kelelahan dan rumah belum bisa ke handle dengan baik, gak protes sama sekali rumah berantakan. Padahal aku sendiri maunya klo suami pulang ya rumah sudah rapi, urusan anak-anak beres. Lebih sering aku yang protes kalau rumah berantakan. Aku emang gak bisa liat yang berantakan. Pusing. Malah bisa gelisah dan sulit mengerjakan yang lain bila ngeliat rumah berantakan. Tapi suamikulah yang sering menenangkan aku untuk bersabar dan mengerjakannya satu-satu dan pelan-pelan “insyaallah nanti beres juga bunda, sabar ya, aa tau bunda cape” Masyaallah. Barakallahufik suamiku.

~* Afra Afifah*~
[Menjelang Tengah Malam, 5 November 2014, Tanah Baru, Depok]

Naik Motor ke Puncak~! :D [Part 2] Mei 31, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags: , , ,
2 comments

18 April 2014

Hari libur nasional. Adik ipar pagi-pagi datang ke rumah, dan semua mengalir begitu aja. Dadakan. Saya ajak Aa jalan.

“ke Bogor yuk a?”
“ ke Puncak yuk? “

Sebenarnya ini pertanyaan yang sering saya lontarkan ke suami :p . Reaksi suami saya kalau saya sudah “mulai kambuh” begitu beliau cuma nyengir aja sambil ketawa-tawa 😀 . Eh tapi kali itu Aa sanggupi.. yuhuu 😀 Aa nanya mau kemana ke Bogornya? Saya jawab asal aja “tajur yuk? Kamu belum pernah kan?” tanya saya. Emmm sebenernya gak pengen-pengen amat ke tajur. Saya lebih pengen ke puncak, tentu sahaja. Okelah akhirnya tajur menjadi tujuan awalnya.

Yak seperti biasa, perginya siang, jam 10an. Beginilah kalau dadakan :p ngurus ini itu dulu.. beres-beres segala macem dulu. Sebenarnya saya aga males kalau sudah siangan gitu. Enaknya kalau jalan ya dari pagi. Dari subuh kalau bisa. Jadinya puas 😀 Hmm oke jalanin aja. Ga bawa perbekalan apa-apa. Hahaha sama aja kayak waktu ke kawah kamojang dan kawah darajat. Ampuun! Berani ke Bogor karena ada adik ipar. Jadinya konvoi lagi 2 motor. Kalau cuma satu motor mana berani. Kalau berdua aja sama Aa sih oke ya. Tapi kalau bawa anak-anak. Ngga deh..

Oke, saya yang bawa motor tentunya 😀 saya bonceng suami dan khansa. Sedangkan Khalid sama Adi. Aa navigatornya. Karena saya gak tau jalan. Suka jalan, tapi ga tau jalan :p . Dari rumah kami di tanah baru menuju juanda. Terus mentok, belok kanan, terus aja..terus dan terus… ehh ternyata udah nyampe bogor! “wah ternyata bogor ‘deket’ ya a..asik nih tinggal ke juanda belok kanan..lurus aja :p” ucap saya ke Aa. #modus

Terus dan terus.. di perbatasan hampir bogor kota, kami mampir dulu di indomaret. Beli cemilan dan minuman dingin. Cuaca saat itu terik sekali. Melepas lelah sebentar kemudian kami lanjutkan perjalanan. Tentu saja saya yang masih bawa motornya 😀 Perjalanan makin seru karena sudah masuk kota bogor, banyak pohon besar. Adeem. “wahhh kita udah di bogor!! Dengan riang saya berkata ke Aa.. “wahh banyak wiskulll… wahh beneran ya ini naik motor pertama kali ke bogor hahah..biasanya selalu naik mobil atau dulu pas jaman kuliah pernah naik kereta trus naik angkot bareng Awis n Rousta..jalan-jalan, dan..pegeell :p “

Saat adzan dzuhur tiba Aa dan Adi shalat jumat dulu di masjid raya bogor, sedang saya menemani anak-anak nunggu aa shalat jumat sambil makan ice cream Mc’D di Mall seberang masjid. Selepas shalat dzuhur..udah mendung sekali. Akhirnya hujan…wahh kami terjebak skitar setengah jam di Mall tersebut. Hujannya terlalu deras. Setelah hujan sudah aga reda kami pun melanjutkan perjalanan dengan memakai jas hujan. Tapi sudah giliran aa yang bawa motor. Karena saya cukup ‘trauma’ bawa motor ketika hujan atau setelah hujan. Namun ga lama hujan reda dan ternyata ada bagian bogor yang kering. Saya lagi yang bawa motor. Karena ya, lagi-lagi si Aa ngantuk :p

Saya mengendarai motor dengan semangatnya. Karena setelah sudah dekat tajur akhirnya aa sepakat kemudian bilang “yauda lanjut aja yuk puncaak” wah dibilang gitu saya mah gak nolak, lanjuttt gaan! 😀 Saya bawa motor sampai tiba di lampu merah gadog. “wahhh kita udah dekat!! (padahal masi jauh -_- 😛 ) wahh belum pernah ke tempat ini naik motor..
Wah maceeett!! (hari libur nasional bro, dan itu hari jumat. Weekend pulak!) kalau pake mobil saya BIG NO deh diajak ke puncak saat itu. Tua dijalan. Nooooooooo!!

Udah di gadog. Gantian aa lagi yang bawa motor. Karena memang jalan ke atas sudah macet sekali. Tapi itulah enaknya pake motor. Bisa selap-selip. Ga gitu berasa lah. Udah “biasa” dengan macetnya Jakarta hehe. (ah masa sihh :p ) Dan senangnya kalau motor boleh jalan terus meski sedang diberlakukan satu arah turun. Ya jadinya cepat naik keatas. Alhamdulillah.. hujan mulai turun lagi rintik-rintik kecil. Sudah dekat curug cilember. Saya bilang ke Aa “mau ke curug cilember ga a?” Aa jawabnya ragu-ragu.. terus giliran udah lewat baru nanya “enak ga curug cilember?” jiaahh biasa dehh >_<

Saya bilang :”yaudah lain kali aja..lanjut aja..kita ke attaawwun aja deh” :p Sesampainya di Attaawun sudah menjelang ashar. Saya lapar , jadi beli baso dulu dan makan sekoteng. Baru makan sebentar hujan lebat turun. Hujan lebat dan angin. Dingin sekali. Untung pakai jaket tebal. Si khansa kegirangan tu dan bilang “eeeuummm dinggiiinnn :D” sambil nyengir. Aa langsung ke masjid karena Khalid belum pipis. Dan ternyata Khalid bisa tahan selama perjalanan belum pipis. Hebat! Tapi kalau dirumah maunya pipis terus kayak orang ga bisa nahan, aneh -_-

Azan ashar berkumandang. Adi menyusul aa untuk shalat ashar berjama’ah.Saat itu masih hujan lebat. Kemudian saya menyusul dengan menyewa ojek payung sambil gendong khansa ke atas, beraat T_T Kaos kaki saya basah..tambah dingin jadinya, karena ga ada persiapan ke puncak. Saya ga bawa kaos kaki cadangan.akhirnya beli kaos kaki di koperasi masjid. 25ribu sepasang. Mahaaal 😛 biasanya saya beli paling mahal 10rebu sepasang hahaha. Lbih murah lagi 10rebu dapet 3pasang hahaha. Yaweslah tetep dibeli karena butuh. Kemudian saya menuju tempat wudhu wanita yang sekalian banyak berjejer kamar mandi. Saya gantiin baju dan popok Khansa dulu. Eh tnyata pampersnya juga kering. Hebat! Lama banget bisa nahan pipis. Lagi-lagi kalau di rumah maunya ke kamar mandi mulu -_- setelah ganti khansa..berwudhu..saya shalat jamak qashar. Usai shalat poto-poto :p sambil menikmati udara dan pemandangan sekitar selepas hujan. Dingin pastinya. Tapi seru.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ga lama saya turun lagi. Makan lagi. Masih lapar. Makan pop mie dan jagung bakar. Beliin Khalid mainan pistol-pistolan dan khansa minta dibeliin kalung dan gelang strawberry yang cuma dia pake setelahnya 2-3kali. Selanjutnya hanya di mainin aja ga mau dipake :p dasar bocah :p .Setelah makan, langsung bergegas pulang. Karena kalau sudah malam bakal repot. Perjalanan pulang masih jauh, belum lagi macetnya. Alhamdulillah ketika turun dari puncak lancar-lancar aja..ga ada macet..tapi ketika pas di lampu merah gadog wahh sudah mulai macet.. tersendat disitu aja sih..mungkin karena jalanannya ga begitu besar..dan ada pasar. Awalnya Aa yang bawa dari puncak sampe masih di kab. Bogor. Tapi selanjutnya saya yang bawa karena Aa bawanya udah mulai selow. Wah ini kapan nyampenya nih klo begini udah malem pulak.. saya deh yang seterusnya bawa.. sampe Depok meski ada beberapa kali gantiannya juga.

Perjalanan terasa lebih berat ketika hujan mengguyur. Kami harus berhenti untuk memakai jas hujan. Dan yang paling berkesan ketika saya bawa motor, dalam kondisi hujan dan malam hari. Oh noo.. kaca mata saya basah dan jadi lebih susah melihat. Biar ga kena hujan, saya condongkan badan saya kedepan dengan konsentrasi penuh. Suami saya sudah cukup ngantuk waktu itu. Waaaa deg-degan juga saya.

Sampai depok ga langsung pulang, tapi makan malam dulu di tempat langganan, Sari Murni. Ada insiden kecil waktu itu, karena mau belok tapi suami saya bilang masih belum belok (kedainya masih terus) saya jadi kagok. Dan bener-bener ga liat lubang yang cukup dalam di depan. Jedug..awww masuklah ke lubang..kaki saya terpentok motor.. suami juga kaget.. kena “omel” dikit 😛 xixixi saya minta maaf karena emang bener-bener ga liat dan siapa sih yang mau masuk lubang..>_< alhamdulillah’alakullihal.

Udah sakit..eh qodarullah sari murni tutup, jadilah kita beralih ke warung aceh bismillah dekat rumah.. duduk..melepas lelah..jam 8.30 malam..dari puncak euy.. badan cape sekali,luar biasa..tapi dapat pengalaman yang luar biasa juga..alhamdulillah..

Kemudian berpikir.. kapan lagi ya bisa melakukan perjalanan jauh pake motor gini..? 🙂

~*Afra Afifah*~
[Tanah Baru , Depok]

 

 

30th Zaujiy Mei 21, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

21 Mei 2014. Laki-laki yang menikahiku di umurnya yang ke 24,5th kini sudah berumur 30th. Ada 2 orang istimewa dalam hidup saya yang lahir di bulan Mei ini, yaitu Mama(1o) dan Aa(21).

Dia yang selalu menghilang dari dunia “per-Facebook-an” ketika menjelang “ulang tahun”nya. Hehe. Kalau saya sukanya meledek aja:
“repot amat pake deactivated segala ,emang siapa yang mau ngucapin HBD-HBD (baca: Ha Be De) ? GR banget :p “

Dan respon laki-laki yang baik itu:
“biarin aja :p “

Saya pun tertawa 🙂

Ya, saya sebenarnya tau alasan beliau sesungguhnya, hanya ingin meledeknya saja hehe..

Saya sendiri lupa banget kalau ternyata hari ini beliau genap 30th. Ingatnya besok. :p jadinya tadi pagi ceritanya Aa “ngambek bohongan” ketika saya lagi sibuk masak+nyuci piring. “tuh kan lupa” bla bla bla..
Loh? Eh? Emangnya sekarang tanggal berapa? Ohh iyaa 21 mei..masyaallah.. hahaha tertawa geli lah saya..

Aa: “iya ga dikasih apa-apa :p “
Saya: “lohh emang mau dikasih apa thoo?” :p

Kemudian terlintas dipikiran saya, Aa 30th– Mama 45th wah beda 15th ya sama mama.

Ehhh seperti biasa, kalau saya sedang memikirkan sesuatu. Aa sering juga memikirkan hal yang sama. Trus Aa bilang”beda aa sama mama berarti 15tahun ya de”

saya: “tuh kan, tadi aku juga lagi mikirin itu hehe..”

Tidak ada perayaan apa-apa. Karena memang Rasulullah Shallahu’alaihiwasallam tidak pernah mencontohkan perayaan apapun saat hari lahir beliau, tentu hal itu berlaku juga untuk  umatnya 🙂

Semoga selalu dalam rahmat Allah, diberi umur dan rezeki yang berkah, dimudahkan menggapai cita- cita..

Semoga senantiasa bisa menjadi suami dan ayah yang shalih untk Istri dan anak-anak..

Moga makin sayang dan makin sering membahagiakan istri 😀

Aamiin

~*Istrimu, Afra Afifah*~

[21 Mei 2014, disore hari yang gerah menjelang hujan 🙂 ]

Tugu Tanah Baru Town House, Depok.

 

 

Naik Motor ke Puncak~! :D [Part 1] Mei 10, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags: , , ,
1 comment so far

Juni 2013 dan 18 April 2014

Ada pengalaman luar biasa di bulan dan tanggal tersebut. Kalau di bulan Juni 2013, saya beserta suami juga Khalid Khansa dan Adi (adik ipar) pergi ke puncak kawah darajat di Garut, naik motor. Di tanggal 18 April 2014 kami ke Puncak Bogor naik motor 😀

Juni 2013

Dalam rangka pulang kampung ke Garut, seperti biasa, saya ingin jalan-jalan menikmati kota kelahiran suamiku itu. Aa bertanya “ade pengen jalan-jalan kemana emang?”. Kemudian aku sebut saja “Kawah Darajat” , karena sebelumnya kami sudah pergi ke kawah kamojang, tapi belum pernah ke kawah darajat. Dan taukahhh kalian bahwa si Aa yang lahir dan besar di Garut sampai lulus SMP, belum pernah ke kawah darajat 😀

Kalau ke kawah kamojang kami hanya pergi berdua, saya dan Aa. Karena waktu itu masih baru punya Khalid, Khansa belum lahir. Jadi Khalid bisa dititipkan di rumah mertua untuk sementara, namun kali ini kami mengajak serta anak-anak. Karena mertua juga sedang sibuk baik bapa maupun mamah.

“Naik motor gak apa-apa de? Mobilnya Rubi (adik ipar) kan lagi “ditaro” di Bandung?” begitu kira-kira pertanyaan Aa.

“loh gak apa-apa, justru enak jalan-jalan naik motor, kapan lagi..?” jawabku. Bisa jadi ini kesempatan sekali seumur hidup. Karena kalau sudah punya anak lagi (anak udah 3 misalnya), gak mungkin juga saya naik motor berkelana bawa 3orang anak, kecuali hanya berdua sama Aa, tapi waktunya, kapan lagi? Pun kalau sudah kebeli modil sendiri (insyaallah) Kalau sudah punya mobil, gimana jadinya dibolehin naik motor, kapan lagi? Wallahu a’lam 😀

Karena naik motor dan bawa anak-anak, gak mungkin kami berkendara “sendiri” karena itu kami ajak adik bungsu Aa untuk turut serta. Jadilah kami berlima berangkat. Saya, suami, Khalid, khansa dan Adi. Dengan 2 motor. Awalnya si Aa yang bawa motor, namun karena Aa mudah mengantuk dan memang suami saya akui sendiri bawa saya lebih mahir dan gesit mengendarai motor dibandingkan dirinya, maka selanjutnya saya yang bawa motor, sampai Kawah Darajat. Tapi saya sangat berterimakasih kepada suamiku tercinta, telah diberi kesempatan “nge-track” ke kawah darajat. Hahaha

Pengalaman yang tak terlupakan, insyaallah. Sebenarnya waktu itu sudah dari pagi saya mau pergi, tapi, bukan suami saya namanya kalau gak punya banyak persiapan, dan pertimbangan, hehe. Sedangkan istrinya ini suka gak banyak mikir. Akhirnya berangkat agak siang, menjelang dzuhur. Padahal perjalanan menuju kawah darajat dari rumah mertua saya di Limbangan itu sekitar 2jam menuju puncak. Kami pun shalat jamak qashar dulu di masjid dipinggir jalan, yang juga dikaki gunung yang dikelilingi sawah 🙂 lalu melanjutkan perjalanan, sampai ketemu alfa mart, membeli perbekalan seperti air minum dan cemilan, kemudian lanjut lagi.

Ada satu hal yang saya suka lupa kalau berkendara di Garut adalah: sarung tangan! Iya, sebenarnya bukan untuk melindungi dari panasnya matahari, tapi justru melindungi tangan dari dinginnya udara disana. Apalagi ketika sudah menuju kawah darajat.

Ketika suami yang mengendarai motor, semua berjalan dengan pelan dan santainya (saya suka geregetan sendiri haha) Akhirnya saya minta gantian “udah sini aku aja yang bawa a, kamu ngantuk juga kan,dari pada selow dan berenti terus” :p

Akhirnya saya bawa, dan wow, luar biasa perjalanan menuju kawah darajat, jalannya lebih curam dibanding puncak yang merupakan jalan raya yang cukup besar dan berkelok-kelok. Kalau ke kawah Darajat lebih sering naik turunnya dan jalanannya lebih sempit dibanding jalan raya puncak bogor. Maka saya gunakan gigi satu dan gigi 2 ketika berkendara.

Singkat cerita, sudah sampai puncak kawah darajat dan kabut pun turun. Masyaallah dinginnya. Alhamdulillah ga lama setelah memarkir motor, hujan turun dengan derasnya. Pas sekali. Kami jadi tidak kehujanan diperjalanan. Karena disana pemandian air panas, masi banyak orang yang berenang meski sedang hujan deras dan cuaca sangat dingin.

Saya tentu tidak berenang, Adi pun sedang malas berenang. Jadi sampai sana saya makan pop mie saja dan makan perbekalan lain. Sambil menikmati pemandangan yang sangat indah. Melihat suami dan Khalid berendam sebentar. Dan melakukan hobi saya yang satu lagi: fotografi. Meski masi sangat amatir hehe (dan belum punya DSLR #kode dan mention @Sofyan Nugraha 😛 )

Ketika hujan turun itu saya baru khawatir, bagaimana nanti pulangnya? Jujur saya cukup takut berkendara motor disaat hujan atau selepas hujan yang saat itu jalanan masih licin. Karena pengalaman beberapa kali kecelakaan motor disaat hujan atau selepas hujan itu. Saya gak berani, jadi memang suami terus yang bawa motor saat pulang dari kawah Darajat balik ke rumah mertua. Terlebih lagi saya memang harus memegang Khalid dan Khansa dipelukan saya karena anak-anak pasti cape setelah bermain sebentar di Kawah Darajat tadi.

Bismillah, kami pun pulang, Alhamdulillah hujan sudah berhenti sejak tadi tapi jalanan masih basah, mesti sangat berhati-hati dalam berkendara. Kami tidak berlama-lama karena memang kami berangkat dari dzuhur, biar tidak pulang kemalaman ke rumah mertua di Limbangan. Si Adi tidak menghidupkan motor ketika turun. Ya memang jalanannya bisa dibilang “meluncur kebawah terus”, jarang ada kelokan seperti di puncak bogor.

Diperjalanan pulang kami berpapasan dengan rombongan club motor yang sedang turun pulang juga. Kemudian saya bilang ke Aa : “a, aku mau tuh ikut club motor gitu,seru banget kan bisa jalan-jalan bareng naik motor gitu” (tapi club motor yang syar’i <halah mulai mengkhayal, yg isinya akhwat-akhwat semua ,eh tapi ga bole keluar kota tanpa mahrom juga percuma ya, atau club motor ikhwan akhwat suami-istri> mengkayal mode:on )

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Intinya: saya sangat senang sekali. I feel Life!! Oh saya merasa “ini afra banget” . Memang dari awal nikah saya ingin sekali hiking bareng suami ke gunung-gunung, tapi qodarullah langsung hamil hehe. Jadi ditunda dulu. Tapi suami saya bukan orang yang terlalu suka petualangan kayak saya gini hehe. Meski begitu , Alhamdulillah Aa terus berusaha untuk mewujudkan impian saya.

Salah satunya pergi ke puncak bogor naik motor! Hahahaha

Mungkin itu Ide” gila” bagi sebagian orang, tapi itu memang keinginan saya dari dulu. Pengen pergi ke puncak dengan “ngeteng” naik kendaraan umum, atau naik motor.

(bersambung Insyaallah)
~*Afra Afifah*~

10 Mei 2014

My Husband is My “Fashion Designer” Maret 10, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags: ,
add a comment

Saya: “a, gamisnya cantik banget yaaa..masyaallahh bunga-bunga..  suka bangett.. boleh aku pakai gamis seperti itu a..?

Suami: “boleh..tapi dirumah aja 😀 ”

*gubrak*

Saya: “klo dirumah mah ngapain pake gamis 😛 “

***

caca3

(mencoba nawar)

Saya: “tapi a, nanti kan jilbabnya polos..gak mungkin lah rame juga..kan gamisnya udah rame bunga-bunga gitu..ntar jilbabnya panjaangg hitam polos gitu misalnya.. gpp kan..?”

Suami: “mmm ga boleh…hehe”

Suami: “mau diapain lagi sih say…kamu pake hitam dari atas sampe bawah aja masi diliatin orang, gimana mau pake yang bajunya aja udah cantik banget..ntar makin diliatin lagi..”

Saya: “hoo heee oke2 hehe..”(sedikit GR sambil menerima dengan senang hati dan lapang dada alasan suami) 😛

Saya: “yaudah deh klo gitu khansa aja deh yg aku beliin gamis bunga-bunga yang cantikkk cantikkk mumpung masi boleh haha >_< “

***

Jadi, tiap mau beli gamis atau jilbab, saya hampir selalu nanya dulu ke suami..

Saya: “a..boleh beli jilbab itu gak…?

(kasi liat ke aa) kemudian aa memperhatikan dan memutuskan..
Suami: “mmm nggaa”
Saya: “why? “ (mencoba ngeles lagi 😛 )

Suami: “Itu meski panjang dan 2 rangkap tapi rangkap keduanya ada bunga2nya gitu.. “

Saya: “oooo ok”

Saya: “A klo ini boleh ga..? kan polos? “

Suami: “iya polos tapi warnanya terlalu terang”

Saya: “oooo ok”

Saya: “Klo ini boleh?”

Suami: “mmm ngga..”

Saya: “loh knapa?” (ngeles lg)
Suami: “itu meski udah panjang jilbabnya dan 2 rangkap tapi rangkap pertama dengan kedua beda warna.. “

Saya: “emang knapa..?

Suami: “yang polos aja ya say..”
Saya: “baiklahhhhh” 😀

Percakapan yang biasa saya lakukan dengan suami, mmm sebenernya lebih ke “nge-test” suami, sejauh mana suamiku ini akan “membiarkan” istrinya untuk “melirik” gamis-gamis n jilbab yg cantik hehe

Alhamdulillahhh saya sangat bersyukur mempunyai suami seperti dirinya..

~*Afra Afifah*~

Tanah Baru, Depok

“Boleh” vs “Dong” Februari 28, 2014

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini, Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Sejak menikah, saya banyak belajar dari suami saya. Alhamdulillah. Termasuk dalam pengucapan kata-kata. Salah satunya penggunaan kata “boleh” vs “dong”.

14692823_475

Kayak gimana tuh..? nah kayak gini contohnya.. Biasanya, terutama ke adik-adik saya yang emang ,yah..udah tau lebih dan kurangnya saya dari dulu. Bukan saya saja, tapi juga adik-adik saya pun terbiasa menggunakan kata “dong”, yang ternyata kurang enak didengar bagi suami saya yang orang sunda. Misal:
“tolong ambilin kakak jilbab dong..” . Meskipun sudah menggunakan kata “tolong” dibagian awal kalimat tapi menggunakan kata “dong” sebagai penutup, tidak pas didengar kata suami saya.

Eh iya ya? Masa sih..? perasaan biasa aja..kan udah pakai kata “tolong” . Perasaan “biasa” aja karena memang sudah menjadi kebiasaan saya  bgitu pula dengan adik-adik juga sepertinya.

“Jadi mesti gimana a baiknya..?” tanyaku ke suami.

Kayak gini: misalnya sambil panggil nama salah satu adikku “Sausan, boleh kakak minta tolong diambilkan jilbab..? / “Sausan, boleh minta tolong diambilkan jilbab di kamar..?”

Lebih enak didengar kan..?

“eh iya bener juga ya..” baik, akan aku ubah.. ya meskipun terkadang masi juga pakai kata “dong” karena mungkin udah kebiasaan dari dulu >_< ya pelan-pelan dirubah.. bismillah..

Karena itu pula, saya juga jadi merasa kurang nyaman bila ada orang yang menggunakan kata “dong” dalam suatu kalimat yang kurang pas. Misal : “tolong donggg!” (berasa diminta tolong tapi maksa 😀 )

Atau:

“foto-fotonya dong!”  (apalagi dikasi tanda seru, pake satu tanda seru masi mending klo udah banyak: foto-fotonya dong!!!) haysss >_<

“free ongkir dongg!!”  (minta free ongkir tapi terkesan maksa) 😀

Sekali lagi, semua tergantung konteks kalimat, dan intonasi (kalau bahasa lisan)  dan sikon ketika pengucapan kata tsb. Kata “dong” gak sepenuhnya buruk . Misal : “apa sih apa dong..apa sih apa dong.. pilih ubi apa singkong” #eh :mrgreen:

~*Afra Afifah*~

Tanah Baru, Depok. Pukul 5 Pagi.

[pict by google]

MONEY can’t buy HAPPINESS :) Desember 31, 2013

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.
Tags:
2 comments

Banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang..

Suami yang shalih..anak-anak yang shalih dan shalihah..semuanya itu..tidak dapat dibeli dengan uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

Suami yang senantiasa menasehati istrinya dengan lemah lembut ketika berbuat salah.. tidak dapat dibeli dg uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

Suami yang tiap sholat lima waktu..selalu sholat berjamaah di masjid..tidak dapat dibeli dengan uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

Suami yg perhatian dg kondisi istrinya yg kelelahan tlah mnjaga rumah dan anak2nya seharian,tidak dpt dibeli dgn uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

seorang suami yg perhatian bkn hnya kpd orang tuanya sendiri tapi jg memuliakan mertuanya.tdk dpt dibeli dengan uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

Suami yg adil.. ia memuliakan ibunya tapi tidak “menyingkirkan” istrinya bgitu saja.. tidak dapat dibeli dengan uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

Suami shalih yang cinta thpd istri dan mencukupkan diri dg “hanya” seorang istri..tidak dapat dibeli dg uang #MONEYcantbuyHAPPINESS

tweets by @afraafifah

[11 September 2012]

Bidadari Suami Desember 31, 2013

Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.
Tags:
add a comment

salahkah bila,

seorang suami yang sangat mencintai istrinya,

ingin agar sang istri menjadi bidadarinya di dunia dan di akhirat…?

~*Afra Afifah*~

[17 Desember 2012]