jump to navigation

Berkunjung ke Kebun Mawar, Garut, Jawa Barat Februari 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Pulang dari Kawah Darajat kami langsung menuju Kebun Mawar yang letaknya di Jl. Raya Kamojang. Tidak Jauh setelah Kampung Sampireun. Karena hari itu bertepatan dengan hari Jumat, dan sudah menjelang dzuhur, maka papa, bapa mertua, ayah khalid, rayyan, adi dan rubi turun lagi ke bawah menuju masjid untuk shalat jumat. Sedang kami yang perempuan dan anak-anak laki-laki yang masih kecil 😀 dipersilahkan untuk menikmati Kebun Mawar terlebih dahulu. Anak-anak senang di Kebun Mawar karena tempatnya luas sehingga mereka bebas berlarian kesana-kemari.

Di Kebun Mawar, banyak  terdapat aneka bunga dan tanaman. Disana juga terdapat penginapan, seperti private villa yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Para pengunjung yang bukan tamu penginapan dilarang masuk ke Villa. Tempatnya juga beragam ,mulai dari Villa yang besar, rumah kecil, sampai hanya menyewa kamar saja, bisa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Udaranya yang sejuk serta di kelilingi taman yang indah, serta kebersihan yang terjaga membuat Kebun Mawar ini cocok disebut sebagai salah satu tempat romantis di Garut 🙂

~*Afra Afifah*~

[22 Februari 2015]

Iklan

Ke Kawah Darajat, Samarang, Garut, Jawa Barat~! :) Februari 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Di awal tahun 2015 ini tepatnya tanggal 1 januari kemarin, kami sekeluarga (tanpa Sausan dan Hisyam) pergi ke Garut, ke rumah mertua saya di Limbangan. Sebelumnya kami hendak menuju dusun bambu di Lembang Bandung, tapi apa daya.

10443535_10205422231453442_1883169041741601311_n

Rupanya masih musim liburan, jalan menuju Lembang macet sangat. Jadinya setelah shalat dzuhur-ashar di Masjid Darut Tauhid dan makan siang di tempat makan sekitar masjid, kami langsung putar arah menuju Garut. Namun ternyata, mau pulang pun sulit, macetnya luar biasa, sampai menjelang maghrib kami baru lepas dari kemacetan di Bandung.

10269508_10205421147746350_956142131021682328_n

Hikmahnya adalah: kalau masih musim liburan jangan pergi ke Bandung doeloe :p Alhamdulillah kami sampai di Limbangan malam hari. Disambut dengan suka cita oleh keluarga di Garut. Setelah istirahat sebentar, shalat, kemudian langsung dihidangkan masakan Ibu Mertua yang lezat. Alhamdulillah ^^

Keesokan harinya, setelah shalat subuh kami langsung menuju Kawah Darajat. Ini merupakan kali ketiga bagi saya ke Kawah Darajat, dan sepertinya saya mulai bosan untuk balik ke tempat ini lagi (maksudnya Kode: yuk cari tempat wisata lain lagi di Garut 😀 ) . Namun bagi papa mama dan adik-adik saya ke Kawah Darajat merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

 10931338_10205422287854852_446766184082184620_n

Kami berangkat sekitar pukul 5.30 dari Limbangan, karena perjalanan ke Samarang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari rumah mertua. Khawatir macet bila kami telat pergi kesana. Di kawah darajat anak-anak berenang di air panas beserta ayahnya, sedang yang perempuan menikmati pemandangan saja. Hehe

10915274_10205421200267663_1425290788500143693_n

Rupanya Ibu mertua tercinta bawa bekal makanan, nasi, lengkap beserta lauk dan lalapan dan tentu saja, sambel garut! Gak dibuat dari rumah dong sambelnya, kebiasaan Mamah (panggilan ibu mertua) kalau bepergian dan mau nyambel , bawa ulekan dari rumah 😀 . Jadi sambelnya bener-bener fresh. Masyaallah nikmatnya..

10441223_10205421177427092_1206005091065182272_n

Di cuaca yang sangat dingin, kawah darajat ini lebih dingin dibanding Puncak Bogor, kami makan nasi hangat lengkap dengan sambel garut buatan mamah yang fenomenal itu hehe. Satu piring tentu saja tidak cukup 😀

1461518_10205421178427117_1578550662899193687_n

Satu hal yang masih patut dijadikan catatan bagi pengelola Puncak Darajat adalah soal kebersihannya. Kebersihannya Kurang. Padahal hal itu harusnya jadi hal utama yang harus diperhatikan bagi pengelola wisata.

10403345_10205421180667173_5309393610269809584_n

Skitar pukul 11siang kami pulang dari Kawah Darajat untuk menuju Kebun Mawar di Jalan Raya Kamojang. Benar saja, ketika kami turun, mobil-mobil sudah memenuhi jalanan menuju kawah darajat. Alias macet. Alhamdulillah kami nda kena macet 🙂

[bersambung]

Ngemil Es BATU Januari 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

1957233-esbatues-620X310

Huff..gimana yah..saya emang doyan banget sama yang satu ini.. tapi suami paling “gak doyan” ngeliat saya makan ini :p. Saya menjadi “pemakan es” 😀 sejak kecil..okeh, bahkan waktu SD saya seringnya makan bunga ES di freezer kulkas. Bukan ES BATU.. oh nooooooo.. ya tapi dulu ngerasa nikmat banget.. :p *kacau neh*

Anak kecil mana tau kalau bunga es di freezer itu nda bersih :mrgreen: ah, yasudahlah..yang penting sejak hamil Khansa udah berenti makan bunga es. Whottt?? yaaaa yaa begitulah :p
gara-garanya waktu itu lagi “ga tahan” pengen “ngemil” trus pas aku makan tu bunga es ada rasa sabun..yaiks!! alhamdulillah kapokkk..alhamdulillahhhhhhhh

Tapi malah beralih ke es batu. Es batu yang tipis2..serpihan es nya gitu yg kecil-kecil yang klo digigit “greges-greges” hadoohh.. ya gimana tapi nikmat banget sih -_-

Kalau makan di tempat umum ngeliat es batu juga aku gigitin..suami udah berulang kali mengingatkan uhuhu tapi kok susah bener ya.. oke, aku gak begitu suka kerupuk seperti aa, tapi aku doyan bener es batu :p >_<

Kalau orang-orang sering nanya: “emangnya gak ngilu ya?”
Saya malah nanya balik: “emangnya ngilu ya?”

Gimana cara menghentikannya ya..? oh iya, aku sudah kecanduan -_-

Cukup Sekian dan Trimakasih :mrgreen:

*Postingan Pembuka di Tahun 2015* LOL

~*Afra Afifah*~

[Tugu Tanah Baru Town House, 22 Januari 2015]

Tuh kan, habis saya nulis tulisan ini, lagi nyari pict di google malah baca artikel-artikel soal “gemar ngunyah es batu” nah, mudah-mudahan saya bisa menghentikan kebiasaan ini. Mohon doanya ya! 😀

Bekerja dari Rumah Desember 13, 2014

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.
Tags:
2 comments

Salah satu impian saya sejak SMA adalah bisa bekerja dari rumah. Saya kuliah bukan untuk mengejar karir yang cemerlang di perusahaan besar. Melainkan untuk menambah wawasan.. menambah teman dari berbagai kalangan.. membentuk pola pikir..dan terutama supaya bisa ikut kajian islam di kampus.

Karena pada zaman saya kuliah..kampus yang sudah rutin mengadakan kajian islam ilmiah adalah UI. Lagipula.. karena saya anak perempuan..saya tidak diizinkan kuliah jauh-jauh seperti di Bandung. Apalagi di Jogja..

Sejak SMA saya juga yakin.. selain saya memang tidak ingin berkarir..entah mengapa saya yakin yang akan jadi suami saya kelak juga tidak akan memberikan izin untuk saya bekerja di perusahaan.. kecuali menjadi pengajar alias guru.. kalau jadi guru juga maksimal guru SD kayaknya hehe. Dan? Terbukti setelah menikah 😀

Ketika kuliah saya sudah mengajar privat disana sini.. sejak mulai mencoba mencari uang sendiri itu saya banyak belajar.. bahwa nyari uang itu susah.. sampai pernah pulang mengajar dari pasar minggu setelah maghrib.. saya yang saat itu mengendarai motor menuju rumah ortu yang dulu masi di pejompongan (sekitar senayan..jkt pusat) terjebak macet yang luar biasa..plus hujan pula. Ditengah hujan dan bisingnya lalu lintas Jakarta saya berteriak kalau saya tidak mau bekerja diluar rumah.

Sejak saat itu tekad saya makin bulat..untuk tidak bekerja diluar rumah..apalagi saya sudah merasakan sendiri bagaimana beratnya ninggalin anak dari pagi sampai pukul 3sore..karena saya harus kuliah di Depok. Masuk jam 8pagi. Pulang jam 12 siang. Sampai rumah jam 2 atau jam 3sore. Saat itu yang saya rasakan ya kepikiran Khalid terus di rumah.

Karena itu pula..saya tau betul perasaan para ibu pekerja yang mesti menitipkan anak-anaknya di rumah bersama pengasuh. Berat banget..itu pasti.

Kita juga ga pernah tau kondisi masing-masing keluarga. Karena itu saya sangat bersyukur bisa tetap bekerja meski dari rumah. Serta mendapat dukungan penuh dari suami..orang tua.. dan mertua.

Dan inilah…ruang kerja saya 🙂

10406498_10205075931516160_7898923760399415684_n

Nothing is Sweeter Than Togetherness We Share : Taman Safari 2014 [1] November 13, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
1 comment so far

“Nothing is sweeter than togetherness we share” [J.CO] . One of the Best Moment in my life. Rekreasi bareng mama, papa, suami, anak-anak, keponakan, adik-adik, juga adik-adik ipar. Alhamdulillah. Kami pergi ke Taman Safari tanggal 13 Oktober 2014, sehari setelah pernikahan Sausan dan Auf hehe. Tentu sudah izin dulu sebelumnya ke pengantin baru untuk mengadakan acara pergi bersama ini. Karena setelah menikah, Auf hanya seminggu di Jakarta. Setelahnya pulang lagi ke Balikpapan untuk bekerja. Weekend pekan itu juga kebetulan sudah ada acara keluarga besar di Jagorawi Golf. Selain kami memang juga menghindari pergi saat weekend, karena biasanya lebih macet daripada weekdays. Dengan menggunakan dua mobil, kami pergi dari Jakarta sekitar pukul 9.30 pagi.

Khalid Khansa senang diajak ke Taman Safari lagi, setelah sebelumnya pergi bersama kakek-nenek dan om-tante nya yang dari Garut, setahun yang lalu. Awalnya kami ingin ke Taman Bunga Nusantara, tapi karena sudah cukup sering kesana, kami ganti opsi lain: Taman Safari. Papa Mama dan adik-adik juga sudah lama tidak ke Taman Safari lagi.

Tamasya bareng Papa-Mama, adik-adik dan anak-anak kemarin itu, merupakan kali pertama kami jalan sekeluarga bareng-bareng. Awalnya saya yang bilang ke mama untuk mengadakan jalan-jalan bareng ini, tapi setelah bilang ternyata mama juga punya pikiran yang sama dengan saya. Alhamdulillah sehati 😀

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gak bisa dituliskan dengan kata-kata betapa senangnya saya pergi bareng dengan orang-orang tercinta. Alhamdulillah semua senang, setelah ini, rencananya sudah ada dipikiran saya untuk mengadakan rutin jalan-jalan bareng gini lagi. Seperti yang sering dilakukan ortu saya dulu ketika kami masih kecil-kecil. Gambar Kutipan dibawah ini cocok sekali seperti yang ada dipikiran saya sejak lama, thats why i love travelling. Kemana aja, asal bareng orang-orang tercinta ^^ BYzHMa-CUAAZuq4

Pernikahan Sausan dan Taufan November 12, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Tepat sebulan yang lalu, 12 Oktober 2014, adikku Sausan Shalihah menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Taufan Ali Nuryanto (Auf). Akad dan resepsi pernikahan berlangsung di Masjid Puri Cinere. Perkenalan Sausan dan Auf melalui proses ta’aruf. Awalnya, teman saya yang berdomisili di Jogja menawarkan Auf ke saya untuk adik saya. Tapi adikku masih kuliah, memangnya ikhwannya mau ? begitu jawaban saya. Adik saya tidak boleh berhenti kuliah karena nikah. Itu memang sudah menjadi persyaratan dari Papa. Seperti saya dan Dida juga dulu begitu. Iya ikhwannya gak masalah, begitu jawaban teman saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Ikhwannya juga suka dan pandai berbahasa Jepang, sama kan kayak Sausan?” Eh, iya sih, jarang-jarang ada ikhwan yang suka dan pandai berbahasa Jepang, tapi itu kan bukan syarat utama. Hehe. Syarat utama tentu laki-laki yang berakhlaq baik juga shalih, sehingga diharapkan ia dapat membimbing adik saya dengan baik, insyaallah.

Singkat cerita saya jadi mak comblang untuk adik saya (lagi). Saya Kepoin FB-nya Auf. Ketika membacanya pertama kali. Lhoh ini kok mirip banget sama Sausan ya? Udah namanya mirip. Taufan-Sausan. Bahasa Inggrisnya juga lumayan, dan Sausan emang yang bahasa inggrisnya paling lumayan diantara kami kakak-beradik (menurut saya). Bukan itu saja, tapi dengan “membaca” FB-nya secara keseluruhan dan diambil kesimpulan secara umum, memang “terbaca” banyak sifat yang mirip dengan adik saya. Aha, ya, mereka memang sama-sama Introvert. Hehe. Ketika saya menyuruh keduanya mengikuti Test Psikologi via Internet pun hasil keduanya sama: Pemikir Analitis 😀 Ada satu hal yang cukup membuat Sausan bertanya-tanya, yaitu soal tinggi badan sang calon. Maklum, Auf tinggal jauh di seberang pulau, Balikpapan. Karena Sausan juga anak perempuan yang paling tinggi diantara kami berempat. Jelas tingginya diatas 165cm, karena tinggi saya segitu 😀 . Tentunya wajar bila perempuan ingin pasangannya lebih tinggi atau minimal sama dari dirinya. Sama seperti saya juga dulu bertanya-tanya soal tinggi badannya Aa. Hehe.

Hingga pada akhirnya, Auf datang jauh-jauh dari Balikpapan untuk melakukan proses nazhar dengan Sausan. Kami sepakat untuk bertemu di Restoran Mang Engking UI. Karena Auf tidak begitu suka dengan keramaian. Jadi, sepertinya mang Engking cukup nyaman untuk kami semua. Sausan ditemani saya, suami saya beserta Khalid Khansa. Alhamdulillah. Tidak lama berselang, Auf langsung datang ke rumah menemui Papa. Yaudah, begitu aja. Langsung aja. Iya. Ternyata keduanya setuju untuk terus melanjutkan proses. Ehm. Saya yang kaget. Lho ini gak mikir-mikir lagi apa san? udah langsung oke gitu abis liat barusan? 😀 dan jawabannya iya. Wow. Yasud 😀 alhamdulillah.

Tidak lama dari proses nazhar, papa mama dan Sausan berangkat ke Balikpapan untuk bertemu dengan Auf dan keluarga. Alhamdulillah berjalan lancar juga, dan dapat oleh-oleh kepiting kalimantan (Lhoo). Iya, maklum, jarang-jarang makan kepiting. hihihi. Pada pertemuan itu, dibicarakan lagi tanggal menikah. Dan ternyata sebulan setelah hari tersebut. What? cepet amat? yakin nih? iya, yakin. Auf-nya juga mau cepat kak, jawab Sausan. Iya sih. Oke lah kalau begitu. Jadi, selama sebulan persiapan pernikahan Sausan kami juga cukup sibuk. Mulai dari memilih tempat, catering, baju pengantin, dll.

Mama memutuskan untuk tidak memakai WO untuk kali ini, tidak seperti pernikahan Dida. Saya tegaskan kalau tidak pakai WO, kita siap untuk cape. Banyak survei sana-sini. Namun alhamdulillah dimudahkan Allah. Meski memakan waktu dan tenaga juga pastinya. Tapi hikmahnya, jadi banyak tau range harga tempat akad dan resepsi di beberapa Masjid. Tau catering yang Oke. Tau tempat beli baju yang oke di Tanah Abang hehe. Alhamdulillah, akad dan resepsi berjalan dengan lancar.

Semoga pernikahan Sausan dan Auf menjadi sakinah, mawaddah wa rohmah. Diberikan banyak kesabaran dalam menghadapai ujian kehidupan. Serta dikaruniakan anak-anak yang shalih dan shalihah sebagai penyejuk mata kedua orangtuanya. Aamiin.

~*Afra Afifah*

[12 November 2014]

5 November 2014 November 6, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Hari ini jatah usiaku berkurang, sudah 26 tahun aku hidup di dunia. Aku hanya berharap umur-umur yang aku lalui diberkahi Allah, dan semakin berkurangnya usiaku, semoga semakin dewasa dalam menghadapi problematika kehidupan yang datang silih berganti. Karena sesungguhnya, tidak ada gunanya bila dikaruniai umur yang panjang, tapi tidak digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Dan kematian, bisa datang dengan tak terduga. Semoga Allah menyabut nyawaku dalam keadaan Husnul Khotimah.
Rabu pagi di tanggal 5 November 2014 ini, aku masak kare jepang. Tinggal ikutin instruksi dari bungkus kemasannya, karena aku beli bumbunya aja hehe. Alhamdulillah enaak. Tidak lupa aku bekali anak-anak dengan pao karakter yang lucu-lucu. Khalid minta Angry Bird, sedangkan Khansa, memilih Hello Kitty.

10650029_10204822947871727_1702453767117059048_n

1966921_10204822957831976_2457929334429462887_n

10469368_10204824169622270_2667237440113961104_n

Hari ini pertama kalinya juga aku ikut ta’lim bersama orangtua walimurid Annash lainnya di Rumah Ibu Nina, beralamat di Noor Residence, Pejaten Barat. Ustadz yang mengisi Ust. Ali Basuki Hafizahullah. Sudah lama aku ingin sekali mengikuti ta’lim rutin khusus ummahat ini, hanya saja belum bisa, karena habis antar Khalid, aku harus balik lagi ke rumah orangtua di Jagakarsa untuk menjaga Khansa, kalau-kalau dia mau Pup or Pee, dan makan juga tentunya. Ngajak Khansa ikut serta juga belum memungkinkan, karena aku bakal lelah sekali jagain dia kesana kemari, dan bisa dipastikan dia akan tertidur di jalan dalam perjalan pulang ke Depok. Repot banget pastinya, karena yang tidur bukan Khansa aja, tapi Khalid juga hampir selalu tertidur di motor bila sudah 3/4 perjalanan pulang. Kalau tertidur di mobil sih ga masalah insyaallah, anak-anak bisa aman dan nyaman. Nah ini bawa dua anak dan dua-duanya tertidur di motor. Bisa dibayangkan? 😀 udah jadi “makanan sehari-hari” sih buatku. Makanya itu sebelum jemput Khalid, aku usahakan sudah boboin Khansa, supaya ketika Khalid sudah dijemput, dan kami akan balik ke Depok, khansa udah seger lagi, gak ikut-ikutan tidur. (*sambil berharap tabungan kami bisa segera terkumpul untuk membeli mobil, aamiin, one day, insyaallah ^^ )

Bisa ikut ta’lim tanpa membawa anak-anak bagiku di masa sekarang-sekarang ini merupakan suatu “kemewahan” , karena aku jadi bisa konsen mendengarkan dan mencatat dengan baik penjelasan dari Ustad, sama ketika masih single dulu. Kalau bawa anak? yah, ada aja maunya ntar 😀 minta ini itu, ga betah duduk diem lama (iyalah) dst dst..weuh banyak 😀 mesti nyiapin banyak “amunisi” untuk mensiasati anak-anak supaya tetap “tenang” dan sabar sampai kajian selesai hehe.

Ada yang lucu ketika dalam perjalan menuju Rumah Ibu Nina tadi pagi, mba Meta Ummu Amare yang duduk disebelahku bilang:

“waduh ini kebanyakan isinya bumil-bumil ya, mudah-mudahan gak ketularan (hamil)”.

Lalu saya menimpali “wah kalau saya malah udah kepengen hamil lagi hehe, emangnya Amare berapa bersaudara mba?” tanyaku.

Mba Meta menjawab “baru dua sih, tapi kan umurku udah 41 tahun gitu lhoo” .
“hah? 41?” kaget juga aku, karena aku menyangka umur beliau masih 35-an seperti hampir sebagian besar ummahat annash.

Kemudian aku melanjutkan: “ibuku umur 45 lho”
Eh, malah lebih kaget lagi mba meta hahaha “haaah? emangnya Afra umur berapa?”
“umur 26” jawabku.
“Apa?? afra 26??” tanya Ummu Filzah menimpali.
“wah mestinya kita gaulnya sama ibunya Afra ya, ya ampuun.. ” kata Mba Meta.

hehe, ya memang aku merasa aku ummahat yang paling muda di Annash sih (sejauh ini dari pengamatanku 😀 ) .
Lalu ketika mobil yang kami tumpangi sudah sampai di rumah Ibu Nina, mba meta berkata lagi “widih keren ya pake spatu kets gitu, masih muda asik ya bisa pake bgituan, keren aja gitu liatnya”
hahaha ada-ada aja mba Meta.. dalam hatiku sih (ini soal selera, aku memang lebih suka dan lebih nyaman pakai kets dibandingan pakai spatu flats cewek) 😀

Sesampainya di rumah, alhamdulillah Pizza dan Lasagna yang aku pesan ke Ummu Razan datang, pizzanya enaaak, lasagnanya juga ^^ . Aku pesan bukan dalam rangka hari lahirku. Hehe. Kebetulan aja dua hari sebelumnya aku membaca status FB Ummu Razan yang sedang buka PO untuk Pizza dan kue-kue lain yang beliau bikin. Pesan paling lambat hari selasa sore. Rabu pengiriman. Aku yang udah lama ingin mencoba Pizza-nya Ummu Razan jadi gak sabar untuk segera menghubungi beliau. Akhirnya kesampaian juga 😀 Menjelang sore, aku kelelahan. Karena masih mengurus orderan, packing, dan mesti kirim paket ke JNE. Biasanya aku panggil kurir atau suamiku yang antar ke JNE. Tapi qodarullah aa masih belum sembuh betul untuk membantu mengantarkan paket ke JNE.

10685500_10204824815478416_730342730558116746_n
Sepulangnya dari JNE aku bener-bener tepar, ya hari rumah cukup berantakan, karena semenjak siang aku udah kelelahan. Menjelang jam 11 malam, Aa bangunin aku untuk shalat Isya, alhamdulillah. Dan surprise, aa juga udah banyak membantu merapikan ruangan. Merapikan kamar, ngurus anak-anak ketika aku tepar tadi. Tentu saja juga menjaga Khansa di rumah supaya aku nda kelelahan lagi seperti beberapa hari sebelumnya, makanya aku bisa ikut ta’lim hari ini. Alhamdulillah.

i-love-zawji-131288868733
Jazakallahu Khayran Aa, it’s mean a lot for me. Bagiku perhatian-perhatian semacam itu yang paling aku butuhkan, it’s priceless. Bersabar ketika aku kelelahan dan rumah belum bisa ke handle dengan baik, gak protes sama sekali rumah berantakan. Padahal aku sendiri maunya klo suami pulang ya rumah sudah rapi, urusan anak-anak beres. Lebih sering aku yang protes kalau rumah berantakan. Aku emang gak bisa liat yang berantakan. Pusing. Malah bisa gelisah dan sulit mengerjakan yang lain bila ngeliat rumah berantakan. Tapi suamikulah yang sering menenangkan aku untuk bersabar dan mengerjakannya satu-satu dan pelan-pelan “insyaallah nanti beres juga bunda, sabar ya, aa tau bunda cape” Masyaallah. Barakallahufik suamiku.

~* Afra Afifah*~
[Menjelang Tengah Malam, 5 November 2014, Tanah Baru, Depok]

Weekdays Activity Oktober 30, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
1 comment so far

Memilih sekolah Annash sebagai sekolah anak-anak kami, bukan tanpa konsekuensi. Kami sudah paham dan mengerti betul kalau Annash itu jauh dari rumah kami saat ini. Perjalanan pagi menggunakan motor kurang lebih 45 menit. Bila ingin mendapatkan “pagi yang indah” saya harus bangun lebih awal. Jam 2.30 Pagi, jam weker saya berbunyi. Jam weker yang sangat membantu membangunkan saya juga suami di pagi hari. Jujur saja kalau alarm jam lain (jam digital atau alarm HP kurang mempan bagi saya hehe) . Jam weker yang ada sekarang adalah jam weker ke-4 yang saya beli. Sebelumnya rusak, ya, karena dibuat mainan anak-anak. Entar dibawa-bawa, dipegang-pegang, trus jatuh. Atau kesenggol. Begitulah. Tapi karena sangat membantu kami, suami pun menyuruh saya untuk membelinya lagi. Dengan catatan (yang sebelumnya juga sudah jadi catatan 😛 : taruh jam ditempat yang tidak terjangkau anak-anak 😀 ) Saya senang menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak dan suami. Tentu saja butuh waktu untuk menyiapkannya. Kuncinya: ya bangun pagi! Bangun disaat azan subuh berkumandang? Wah udah masuk waktu “hectic” itu. Jadi tergesa-gesa, saya gak suka. Gak enjoy. Riweuh deh jadinya. Weekdays bagi saya adalah hari-hari yang sibuk, makanya saya sangat senang hari jumat. Selain memang ada keistimewaan hari jumat dalam Islam, juga karena weekend akhirnya datang 😀 . Butuh rehat dari antar-jemput anak. Karena hampir tiap pagi saya membonceng suami dan anak-anak,  dengan rute:

997086_10204785039284036_7762910353403658201_n

Ilustrasi :p
[foto diatas sebenernya foto hasil keisengan adik saya Fatharani Fariha, waktu kami olahraga di UI seminggu yang lalu, tanpa saya sadari, eh ada foto ini di hp saya :p ]

Rumah Ortu di Kampung Kandang–> Titip Khansa. Lanjut ke: Halte Busway Ragunan–> Suami turun naik busway. Lanjut ke: Sekolah Annash di Pejaten–> Khalid sekolah. Lanjut ke: Rumah Ortu lagi di Kampung Kandang–>Nyuapin makan Khansa lagi, urus dia kalau Pee or Pup, Boboin Khansa sebelum jemput sekolah Khalid, karena kalau dia gak tidur sampai saya jemput Khalid lagi, bisa dipastikan dia bakal tidur di motor dalam perjalan pulang ke Depok T_T . Lanjut: Respon customer di BBM-WA-Line-Instagram-FB yes, of course. Balik lagi jemput Khalid–> Lanjut ke: Rumah Ortu lagi jemput Khansa–> Lanjut ke: Akhirnyaaa: Home Sweet Home. Cape? Yap, gak usah ditanya :D. Apalagi masih ada tanggung jawab packing orderan para customer. Uhuhuhu. Kalau nungguin Khalid sampai jam pulang saya juga bete bila hanya duduk diam ‘terpaku’ dengan Handphone meski sambil jualan. Tapi kalau Khansa sudah sekolah juga, insyaallah saya nunggu anak-anak sampai waktu pulang. Sambil ikut kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk wali murid. Insyaallah. Tapiii sejak kemarin, alhamdulillahhh saya ga anter Khalid lagi. Usul dari ayahnya anak-anak supaya saya ga terlalu cape dan bisa mengerjakan lebih banyak hal di rumah, dibanding dengan rutinitas yang sebelumnya. So, mulai kemarin Khalid diantar ayah sampai LIPIA, karena adiknya suami tinggal di asrama LIPIA. Dari LIPIA, Khalid diantar Adi (adik ipar) ke sekolah. Sedang ayahnya berangkat ke kantor 🙂 Bunda dan Khansa bisa stay di rumah sampai waktu jemput Khalid Sekolah. Waktu sampai di rumah pun jadi lebih cepat. Tantangannya yang masih ada adalah: ketika Khalid tidur saat udah 3/4 perjalanan dari Sekolahnya. Wajar sih, pasti dia cape.. tapi tapi, ya begitu deh bawa 2 anak di motor, dengan yang di belakang tidur. Kalau 22-nya? haha ketawa aja deh ngebayanginnya :p dan ini juga kadang-kadang terjadi [kalau Khansa susah disuruh bobo sebelum bundanya jemput Aa-nya lagi, oh noooooooo T_T ] Well, meskipun capee, tapi saya senaaangg alhamdulillahilladzi bini’matihitatimusholihat 🙂 FYI: anak-anak murid di annash rumahnya juga banyak yang jauh-jauh, bukan khalid aja. Ada yang di cipete, ada yang di permata hijau, tanah abang, cinere, bekasi dll. Masyaallah ^^

~*Afra Afifah*~

[Me Time, 23:19, 30 Oktober 2014]

Memilih Sekolah (Annash) Untuk Anak-Anak~! :) Juli 15, 2014

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini, Lembar Kehidupan.
Tags:
7 comments

Khalid (4th) dan Khansa (3th) sudah lama antusias ingin sekolah, setelah melihat anak-anak tetangga yang seusianya dan diatasnya setahun, sudah pada bersekolah. Di Depok sebenarnya banyak KB dan TK, tapi akhirnya saya dan suami sebagai orangtua memilih Sekolah Annash sebagai sekolah anak-anak kami,bi’idznillah.
Saya pribadi “tau” ada sekolah Annash mungkin sejak sekolah ini baru-baru berdiri. Beberapa tahun yang lalu. Tau lewat internet. Bermula dari link ini–> http://sekolah.muslim.or.id/2-tk/an-nash.html dan ini–> https://sites.google.com/site/sekolahannash/
Awal melihat website dan melihat galeri fotonya, saya sudah sreg, melihat fasilitasnya yang bagus, insyaallah. Apalagi melihat kurikulumnya. Dulu websitenya belum seperti yang sekarang www.sekolahannash.com tapi masih berupa alamat link yang cukup panjang. Dan ternyata, teman-teman saya juga mengajar disana, yang saya tau mereka mempunyai background pendidikan yang baik. Seperti lulusan UI, UNJ Pendidikan Anak Usia Dini, dan yang setara dengan itu.
Tapi waktu itu Khalid Khansa masih kecil-kecil, setelah bertanya sana sini kepada teman-teman saya yang berkerja sebagai guru KB-TK dan guru SD, saya memutuskan untuk memasukkan anak ketika usia TK saja. Malah tadinya berpikir untuk langsung memasukkan ke SD saja 😀 . Kenapa gak memasukkan ke Kelompok Bermain/Pre-School? Salah satunya karena saran dari teman-teman bahwa umur-umur segitu masih terlalu kecil untuk “sekolah”, biarkan aja di rumah, main sama bundanya dan kakak/adiknya. Bangun ikatan yang kuat dulu. Lagi pula, masuk KB biasanya hanya 2kali dalam sepekan atau 3kali dalam sepekan.
Ketika usia Khalid sudah cukup untuk masuk TK, saya dan suami berdiskusi, apakah mau memasukkan Khalid ke TK dulu atau langsung SD saja? Mengingat anaknya sangat aktif, dan perkembangan berbicara Khalid tidak seperti anak-anak seumurannya yang mungkin lebih lancar bicaranya. Usia 1-3th Khalid belum bisa bicara,atau mungkin masih sangat sedikit bicaranya. Sempat di terapi wicara di Hermina juga, meski akhirnya kami hentikan karena tidak sreg dengan metodenya (Khalid hampir selalu menangis kencang selama di terapi, khawatir trauma). Namun Alhamdulillah usia 3,5 makin banyak kosa kata dan lama-lama makin jelas pengucapannya. Kami juga memasukkan Khalid ke TK A dulu, tidak langsung TK B, meski dari segi umur Khalid sekarang 4th 9bulan, sudah bisa dimasukkan ke TK B. Insyaallah supaya ketika masuk SD, usia Khalid sudah “matang”.
Oke, balik lagi. Di Depok sebenarnya banyak KB-TK. Bahkan ada KB-TK di samping Komplek yang kami tinggal sekarang. TK sunnah juga ada. Tapi, tentu kami punya keinginan dan harapan-harapan mengenai pendidikan, lingkungan dan tentu saja guru-guru yang mengajar anak-anak kami.
Harapan-harapan kami seperti:

  • Kami ingin anak-anak mendapatkan lingkungan sekolah yang baik, diajarkan alquran dan sunnah, berdasarkan pemahaman para salafusholih.
  • Hal utama untuk usia dini adalah diajarkan adab-adab dan akhlaq yang baik, sesuai quran-sunnah.
  • Diajarkan hafalan alquran, hadist-hadist Rasulullah shallahu’alaihiwasallam. Diajarkan tajwid dan pelafalan yang benar dalam membaca alquran.
  • Dibiasakan untuk berpakaian muslim sejak dini.
  • Tidak diberi PR (apalagi masih TK 😀 ).
  • Anak-anak bisa betah dan bersemangat dan fun kalau mau sekolah. Dan ini terbukti, Khalid antusias sekali ketika akan sekolah, dan malah protes ketika sekolah libur :p
  • Jumlah guru dan jumlah anak yang di handle guru masih wajar. Tidak membludak. Seperti 30 orang dengan guru hanya 1 atau 2. (Bagaimana mungkin 1orang guru bisa menghandle anak-anak sebanyak itu? 2 guru pun belum cukup untuk menghandle anak-anak (apalagi masih usia TK) sebanyak itu.
  • Fasilitas untuk menunjang anak belajar memadai dan membuat anak merasa nyaman di sekolahnya.
  • Di sekolah ini, anak-anak gak diajarin bernyanyi, berjoget-joget, menari, dan sejenisnya. (Seperti sekolah pada umumnya). Itu juga yang kami inginkan. Tapi kok anak-anak bisa betah? Tanya kenapa? 🙂

Setelah mencari info sana sini dan mempertimbangkannya masak-masak, kami menjatuhkan pilihan pada annash. Memang, cukup jauh dari rumah. Tidak bisa hanya berjalan kaki. Tapi, setelah mempertimbangkan jarak dan tentu saja kebaikan-kebaikan yang akan didapatkan (insyaallah) kami tetap memilih annash.
Apalagi di sekolah ini, murid anak laki-laki dan perempuan juga dipisah kelasnya, “padahal” masih usia TK lho^^ serta diajarkan sekali adab-adab dan sunnah-sunnah sehari-hari. Toilet ada disamping kelas. Bersih. Anak-anak KB yang masih usia 2 dan 3 tahun itu. Tentu saja ketika di sekolah dan kalau mau ke kamar mandi/sejenisnya, semua sudah menjadi tanggungjawab para guru. Begitu pula siswa-siswa TK. Ditemani, diajarkan sunnah-sunnah masuk, di dalam toilet dan ketika keluar toilet. Masyaallah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Lingkungan sekolah aman, nyaman dan bersih. Guru-gurunya sangat ramah, welcome dan pandai sekali mengambil hati anak-anak (dalam pengamatan saya setelah 4hari mengantar dan menunggu Khalid di annash). Hampir 99% orang tua (wanita) juga berpakaian syar’i. masyaallah. Ibu gurunya juga berpakaian syar’i. Contoh yang baik untuk anak-anak.
Terlebih di sekolah ini ada peraturan area wajib berbusana muslimah. Petugas sekolah yang laki-laki, (penjaga sekolah). Hanya berjaga di Pos-nya saja. Laki-laki tidak diperkenankan masuk ke dalam sekolah. Jadi, orang tua yang boleh masuk hanya wali murid perempuan, alias ibunya anak-anak.
Saat jam istirahat, anak-anak bermain tetap dalam pengawasan para guru. Anak yang berebutan mainan, akan dilerai gurunya dengan cara yang baik dan diminta guru untuk meminta maaf kepada anak lain yang direbut mainannya.
Ketika anak-anak pulang, guru-guru dan pihak sekolah dengan sigap mengecek satu persatu anak. Apakah sudah dijemput atau belum. Begitu pula dengan penjaga sekolah yang menginfokan dari luar. Apakah si anak sudah dijemput dengan orang yang biasa menjemput atau tidak. Jadi, anak-anak yang telat dijemput, akan main dulu dengan gurunya di dalam. Dijaga oleh para guru . So, ga ada cerita ketika jam pulang, anak dibiarkan keluar begitu saja tanpa pengawasan.
Ohya, satu lagi, di Sekolah Annash juga ada Pusat Studi Islam Annash (Pusdinash) tempat para wali murid belajar Tajwid, dan Bahasa Arab. Waktunya, bersamaan dengan jam belajar anak-anak. Jadi, ketika anak-anak belajar, orang tua juga bisa ikutan belajar di Pusdinash. Saya pribadi sampai menuliskan tuliskan ini belum mendaftar di pusdinash. Karena Khalid baru masuk tanggal 7 Juli 2014 kemarin, baru empat hari masa orientasi siswa, langsung libur lagi sampai setelah lebaran insyaallah.
Meski awalnya sempat ragu karena jaraknya, tapi Alhamdulillah Allah menguatkan azzam kami dan diberikan rezeki sehingga Khalid bisa bersekolah disini (Insyaallah Khansa tahun depan). Melihat juga kebanyakan anak-anak di Annash rumahnya jauh-jauh. Ada yang dari Tanah Abang , Tebet, Bintaro, Permata Hijau, dll.
Semoga anak-anak kami menjadi anak-anak yang Shalih, Cerdas, bermanfaat bagi agama Allah serta orang-orang sekitar. Aamiin ^^

~*Afra Afifah*~
[Tanah Baru, Depok]

Nb: untuk video-video dari sekolah annash, bisa diliat disini

Story Behind Afra’s Birth Date Juli 2, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

1179560218

Kemarin dapat info link aplikasi ini dari seorang teman di Facebook http://a1.funappsworld.com/dobstorys/ , kemudian saya coba dan saya pun dibuat terkesima dengan aplikasi ini. Hebat! 98% akurat mendeskripsikan seorang Afra Afifah. Salut untuk yang buat aplikasi ini, sambil mikir gimana caranya sang programmer membuat aplikasi yang menghasilkan rangkuman yang bisa mendeskripsikan orang dengan cukup akurat :). Awesome~!