jump to navigation

Berkunjung ke Kebun Mawar, Garut, Jawa Barat Februari 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Pulang dari Kawah Darajat kami langsung menuju Kebun Mawar yang letaknya di Jl. Raya Kamojang. Tidak Jauh setelah Kampung Sampireun. Karena hari itu bertepatan dengan hari Jumat, dan sudah menjelang dzuhur, maka papa, bapa mertua, ayah khalid, rayyan, adi dan rubi turun lagi ke bawah menuju masjid untuk shalat jumat. Sedang kami yang perempuan dan anak-anak laki-laki yang masih kecil 😀 dipersilahkan untuk menikmati Kebun Mawar terlebih dahulu. Anak-anak senang di Kebun Mawar karena tempatnya luas sehingga mereka bebas berlarian kesana-kemari.

Di Kebun Mawar, banyak  terdapat aneka bunga dan tanaman. Disana juga terdapat penginapan, seperti private villa yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Para pengunjung yang bukan tamu penginapan dilarang masuk ke Villa. Tempatnya juga beragam ,mulai dari Villa yang besar, rumah kecil, sampai hanya menyewa kamar saja, bisa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Udaranya yang sejuk serta di kelilingi taman yang indah, serta kebersihan yang terjaga membuat Kebun Mawar ini cocok disebut sebagai salah satu tempat romantis di Garut 🙂

~*Afra Afifah*~

[22 Februari 2015]

Ke Kawah Darajat, Samarang, Garut, Jawa Barat~! :) Februari 22, 2015

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
add a comment

Di awal tahun 2015 ini tepatnya tanggal 1 januari kemarin, kami sekeluarga (tanpa Sausan dan Hisyam) pergi ke Garut, ke rumah mertua saya di Limbangan. Sebelumnya kami hendak menuju dusun bambu di Lembang Bandung, tapi apa daya.

10443535_10205422231453442_1883169041741601311_n

Rupanya masih musim liburan, jalan menuju Lembang macet sangat. Jadinya setelah shalat dzuhur-ashar di Masjid Darut Tauhid dan makan siang di tempat makan sekitar masjid, kami langsung putar arah menuju Garut. Namun ternyata, mau pulang pun sulit, macetnya luar biasa, sampai menjelang maghrib kami baru lepas dari kemacetan di Bandung.

10269508_10205421147746350_956142131021682328_n

Hikmahnya adalah: kalau masih musim liburan jangan pergi ke Bandung doeloe :p Alhamdulillah kami sampai di Limbangan malam hari. Disambut dengan suka cita oleh keluarga di Garut. Setelah istirahat sebentar, shalat, kemudian langsung dihidangkan masakan Ibu Mertua yang lezat. Alhamdulillah ^^

Keesokan harinya, setelah shalat subuh kami langsung menuju Kawah Darajat. Ini merupakan kali ketiga bagi saya ke Kawah Darajat, dan sepertinya saya mulai bosan untuk balik ke tempat ini lagi (maksudnya Kode: yuk cari tempat wisata lain lagi di Garut 😀 ) . Namun bagi papa mama dan adik-adik saya ke Kawah Darajat merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

 10931338_10205422287854852_446766184082184620_n

Kami berangkat sekitar pukul 5.30 dari Limbangan, karena perjalanan ke Samarang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari rumah mertua. Khawatir macet bila kami telat pergi kesana. Di kawah darajat anak-anak berenang di air panas beserta ayahnya, sedang yang perempuan menikmati pemandangan saja. Hehe

10915274_10205421200267663_1425290788500143693_n

Rupanya Ibu mertua tercinta bawa bekal makanan, nasi, lengkap beserta lauk dan lalapan dan tentu saja, sambel garut! Gak dibuat dari rumah dong sambelnya, kebiasaan Mamah (panggilan ibu mertua) kalau bepergian dan mau nyambel , bawa ulekan dari rumah 😀 . Jadi sambelnya bener-bener fresh. Masyaallah nikmatnya..

10441223_10205421177427092_1206005091065182272_n

Di cuaca yang sangat dingin, kawah darajat ini lebih dingin dibanding Puncak Bogor, kami makan nasi hangat lengkap dengan sambel garut buatan mamah yang fenomenal itu hehe. Satu piring tentu saja tidak cukup 😀

1461518_10205421178427117_1578550662899193687_n

Satu hal yang masih patut dijadikan catatan bagi pengelola Puncak Darajat adalah soal kebersihannya. Kebersihannya Kurang. Padahal hal itu harusnya jadi hal utama yang harus diperhatikan bagi pengelola wisata.

10403345_10205421180667173_5309393610269809584_n

Skitar pukul 11siang kami pulang dari Kawah Darajat untuk menuju Kebun Mawar di Jalan Raya Kamojang. Benar saja, ketika kami turun, mobil-mobil sudah memenuhi jalanan menuju kawah darajat. Alias macet. Alhamdulillah kami nda kena macet 🙂

[bersambung]