jump to navigation

Naik Motor ke Puncak~! :D [Part 1] Mei 10, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags: , , ,
1 comment so far

Juni 2013 dan 18 April 2014

Ada pengalaman luar biasa di bulan dan tanggal tersebut. Kalau di bulan Juni 2013, saya beserta suami juga Khalid Khansa dan Adi (adik ipar) pergi ke puncak kawah darajat di Garut, naik motor. Di tanggal 18 April 2014 kami ke Puncak Bogor naik motor 😀

Juni 2013

Dalam rangka pulang kampung ke Garut, seperti biasa, saya ingin jalan-jalan menikmati kota kelahiran suamiku itu. Aa bertanya “ade pengen jalan-jalan kemana emang?”. Kemudian aku sebut saja “Kawah Darajat” , karena sebelumnya kami sudah pergi ke kawah kamojang, tapi belum pernah ke kawah darajat. Dan taukahhh kalian bahwa si Aa yang lahir dan besar di Garut sampai lulus SMP, belum pernah ke kawah darajat 😀

Kalau ke kawah kamojang kami hanya pergi berdua, saya dan Aa. Karena waktu itu masih baru punya Khalid, Khansa belum lahir. Jadi Khalid bisa dititipkan di rumah mertua untuk sementara, namun kali ini kami mengajak serta anak-anak. Karena mertua juga sedang sibuk baik bapa maupun mamah.

“Naik motor gak apa-apa de? Mobilnya Rubi (adik ipar) kan lagi “ditaro” di Bandung?” begitu kira-kira pertanyaan Aa.

“loh gak apa-apa, justru enak jalan-jalan naik motor, kapan lagi..?” jawabku. Bisa jadi ini kesempatan sekali seumur hidup. Karena kalau sudah punya anak lagi (anak udah 3 misalnya), gak mungkin juga saya naik motor berkelana bawa 3orang anak, kecuali hanya berdua sama Aa, tapi waktunya, kapan lagi? Pun kalau sudah kebeli modil sendiri (insyaallah) Kalau sudah punya mobil, gimana jadinya dibolehin naik motor, kapan lagi? Wallahu a’lam 😀

Karena naik motor dan bawa anak-anak, gak mungkin kami berkendara “sendiri” karena itu kami ajak adik bungsu Aa untuk turut serta. Jadilah kami berlima berangkat. Saya, suami, Khalid, khansa dan Adi. Dengan 2 motor. Awalnya si Aa yang bawa motor, namun karena Aa mudah mengantuk dan memang suami saya akui sendiri bawa saya lebih mahir dan gesit mengendarai motor dibandingkan dirinya, maka selanjutnya saya yang bawa motor, sampai Kawah Darajat. Tapi saya sangat berterimakasih kepada suamiku tercinta, telah diberi kesempatan “nge-track” ke kawah darajat. Hahaha

Pengalaman yang tak terlupakan, insyaallah. Sebenarnya waktu itu sudah dari pagi saya mau pergi, tapi, bukan suami saya namanya kalau gak punya banyak persiapan, dan pertimbangan, hehe. Sedangkan istrinya ini suka gak banyak mikir. Akhirnya berangkat agak siang, menjelang dzuhur. Padahal perjalanan menuju kawah darajat dari rumah mertua saya di Limbangan itu sekitar 2jam menuju puncak. Kami pun shalat jamak qashar dulu di masjid dipinggir jalan, yang juga dikaki gunung yang dikelilingi sawah 🙂 lalu melanjutkan perjalanan, sampai ketemu alfa mart, membeli perbekalan seperti air minum dan cemilan, kemudian lanjut lagi.

Ada satu hal yang saya suka lupa kalau berkendara di Garut adalah: sarung tangan! Iya, sebenarnya bukan untuk melindungi dari panasnya matahari, tapi justru melindungi tangan dari dinginnya udara disana. Apalagi ketika sudah menuju kawah darajat.

Ketika suami yang mengendarai motor, semua berjalan dengan pelan dan santainya (saya suka geregetan sendiri haha) Akhirnya saya minta gantian “udah sini aku aja yang bawa a, kamu ngantuk juga kan,dari pada selow dan berenti terus” :p

Akhirnya saya bawa, dan wow, luar biasa perjalanan menuju kawah darajat, jalannya lebih curam dibanding puncak yang merupakan jalan raya yang cukup besar dan berkelok-kelok. Kalau ke kawah Darajat lebih sering naik turunnya dan jalanannya lebih sempit dibanding jalan raya puncak bogor. Maka saya gunakan gigi satu dan gigi 2 ketika berkendara.

Singkat cerita, sudah sampai puncak kawah darajat dan kabut pun turun. Masyaallah dinginnya. Alhamdulillah ga lama setelah memarkir motor, hujan turun dengan derasnya. Pas sekali. Kami jadi tidak kehujanan diperjalanan. Karena disana pemandian air panas, masi banyak orang yang berenang meski sedang hujan deras dan cuaca sangat dingin.

Saya tentu tidak berenang, Adi pun sedang malas berenang. Jadi sampai sana saya makan pop mie saja dan makan perbekalan lain. Sambil menikmati pemandangan yang sangat indah. Melihat suami dan Khalid berendam sebentar. Dan melakukan hobi saya yang satu lagi: fotografi. Meski masi sangat amatir hehe (dan belum punya DSLR #kode dan mention @Sofyan Nugraha 😛 )

Ketika hujan turun itu saya baru khawatir, bagaimana nanti pulangnya? Jujur saya cukup takut berkendara motor disaat hujan atau selepas hujan yang saat itu jalanan masih licin. Karena pengalaman beberapa kali kecelakaan motor disaat hujan atau selepas hujan itu. Saya gak berani, jadi memang suami terus yang bawa motor saat pulang dari kawah Darajat balik ke rumah mertua. Terlebih lagi saya memang harus memegang Khalid dan Khansa dipelukan saya karena anak-anak pasti cape setelah bermain sebentar di Kawah Darajat tadi.

Bismillah, kami pun pulang, Alhamdulillah hujan sudah berhenti sejak tadi tapi jalanan masih basah, mesti sangat berhati-hati dalam berkendara. Kami tidak berlama-lama karena memang kami berangkat dari dzuhur, biar tidak pulang kemalaman ke rumah mertua di Limbangan. Si Adi tidak menghidupkan motor ketika turun. Ya memang jalanannya bisa dibilang “meluncur kebawah terus”, jarang ada kelokan seperti di puncak bogor.

Diperjalanan pulang kami berpapasan dengan rombongan club motor yang sedang turun pulang juga. Kemudian saya bilang ke Aa : “a, aku mau tuh ikut club motor gitu,seru banget kan bisa jalan-jalan bareng naik motor gitu” (tapi club motor yang syar’i <halah mulai mengkhayal, yg isinya akhwat-akhwat semua ,eh tapi ga bole keluar kota tanpa mahrom juga percuma ya, atau club motor ikhwan akhwat suami-istri> mengkayal mode:on )

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Intinya: saya sangat senang sekali. I feel Life!! Oh saya merasa “ini afra banget” . Memang dari awal nikah saya ingin sekali hiking bareng suami ke gunung-gunung, tapi qodarullah langsung hamil hehe. Jadi ditunda dulu. Tapi suami saya bukan orang yang terlalu suka petualangan kayak saya gini hehe. Meski begitu , Alhamdulillah Aa terus berusaha untuk mewujudkan impian saya.

Salah satunya pergi ke puncak bogor naik motor! Hahahaha

Mungkin itu Ide” gila” bagi sebagian orang, tapi itu memang keinginan saya dari dulu. Pengen pergi ke puncak dengan “ngeteng” naik kendaraan umum, atau naik motor.

(bersambung Insyaallah)
~*Afra Afifah*~

10 Mei 2014

45th Mama Mei 10, 2014

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
add a comment

10 Mei 1969- 10 Mei 2014. Semoga Allah memberikan keberkahan atas umurmu, mama. Speechless. Aku kini sudah tidak muda lagi (25th) begitu pun mama (45th) dan papa (58th). Adik-adiku juga sudah besar-besar, si bungsu Rayyan sekarang sudah mau masuk SMA. Mama dan Papa sudah punya 3 cucu, masyaallah.

mama

Ma, setelah menjadi orangtua, afra baru merasakan betapa luarbiasanya perjuangan mama dan papa. Barakallahufikum. Tidak terbayang sebelumnya, iya, benar kata orang-orang yang sering afra dengar ketika afra dan adik-adik masih kecil-kecil. “punya 6 orang anak masih kecil-kecil semua, saya aja anak 2 sudah repot banget” Begitu kata para tetangga, atau ibu-ibu lain. Iya, kalau dulu afra hanya tau “iya betul repot yah” tiap hari rumah “ramai” karena kami kakak-beradik yang sering berantem. Rumah yang hampir selalu berantakan tiap hari, kecuali kalau ada tamu. Hehe. Sekarang, afra sudah cukup banyak mengerti dan membayangkan kerepotan mama dan papa kala itu.

Namun alhamdulillah, ditengah kerepotan membesarkan kami, mama papa masih bisa konsisten untuk mengajak kami shalat berjamaah tiap subuh dan maghrib. Terutama saat maghrib, serta memberikan “kultum” atau mempersilahkan kami anak-anaknya untuk memberikan “kultum”. Meski sering juga afra merasa, “kultum” itu seperti “pengadilan keluarga”. Iya, isinya nasehat tapi merasa kurang sreg kalau ada anak yang dinasehati, tapi ortu dan kakak-beradik tau dan denger juga. Hehe. Ah, tapi coba bayangkan bila tidak ada shalat berjamaah dan waktu khusus untuk saling nasehat menasehati dikeluarga ini. There’s no perfect family. Masyaallah afra sangat bersyukur. Dan afra sangat berterimakasih kepada mama, yang telah mengajarkan afra dan adik-adik belajar membaca alquran dengan tajwid dan makhroj huruf yang benar, mengajarkan qiroati. Walaupun dalam proses pengajarannya ada juga proses “ngomel”nya mama, dan kami sendiri (karena dulu waktu kecil merasa repot, kenapa sih baca quran mesti jelas banget n ribet gini pengucapannya) [padahal memang harus jelas dan benar pengucapannya 😛 ]. Atau ngomel-ngomelnya mama karena menghadapai kemalasan kami. Hehe. Ahhhh..Afra rindu masa-masa itu.

Membayangkan ketika Dida akhirnya pindah ke Bekasi, afra baru berasa sedihnya. Wah, kita anak-anak mama papa sudah besar-besar ya, sebentar lagi akan menyusul insyaallah sausan menikah, kemudian lanjut Fariha, Hisyam dan Rayyan. Kalau sudah berkeluarga gini, berasa banget berharganya berkumpul lengkap bersama keluarga. Apalagi kalau kami mesti tinggal berjauhan. Ternyata “tinggal” bersama ortu dan sanak saudara ga berlangsung lama, selanjutnya kami akan merantau, melanjutkan kehidupan baru bersama suami atau istri kami masing-masing.

Melihat juga umur mama papa yang semakin berkurang, dan afra merasa belum bisa banyak membahagiakan mama papa rasanya sedih. Semoga Allah masih memberikan kesempatan waktu dan rizki yang berkah bagi afra dan adik-adik untuk membahagiakan mama dan papa.

Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian

(HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”)

***

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ayahmu

(HR. Bukhari dan Muslim)

***

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

(QS. Al Isra: 23)

~*Afra Afifah*~

[Tanah Baru, Depok, 10 Mei 2014]