jump to navigation

Sonet 13 Maret 20, 2012

Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.
Tags:
6 comments

Titik-titik hujan belum juga lepas

dari tubir daun itu;

ditunggunya kita lewat.

Kupandang ke atas;

sebutir jatuh di bulu matamu,

yang lain meluncur di pelipismu.

Pohon itu kembali menatapmu,

hanya selintas.

 .

Diberkahinya tanganku

yang ingin sekali mengusap basah

yang mendingin di wajahmu.

Kau seperti ingin melakukan sesuatu.

Aku pun mendadak menghentikan langkah sejenak-

jangan tergesa,

agar bisa kaubaca niat titik hujan.

 .

Butir-butir hujan menderas

dari sudut-sudut daun itu

tepat ketika kita lewat.

Kupandang ke atas.

Pohon itu tak lagi menatapmu.

Ada yang membasahi kerudungmu,

meluncur ke dua belah pundakmu.

Dibiarkannya kita melintas.

 .

Kita pun bergegas

agar segera sampai ke ujung jalan tanpa bicara.

Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?

 .

~*Sapardi Djoko Damono*~

Sonet 12 Maret 20, 2012

Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.
Tags:
add a comment

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,

tak ada huruf kapital di awalnya.

Yang tak kita ingat aksara apa.

Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;

tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat-

 .

dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi dihimpitnya.

Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat

harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini-

tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat pada sebuah tanda tanya.

 .

Tapi bukankah kita sudah mencari jawaban,

sudah tahu apa yang harus kita contreng jika tersedia pilihan?

Dan kemudian memulai lagi merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?

.

Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?

Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

.

~*Sapardi Djoko Damono*~

.

.

pict from http://www.photobucket.com

Sonet 11 Maret 20, 2012

Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.
Tags:
add a comment

Terima kasih, kartu pos bergambar

yang kaukirim dari Yogya

sudah sampai kemarin.

 .

Tapi aku tak pernah mengirim apa pun.

kau tahu itu.

Aku sedang kena macet,

Jakarta seperti dulu juga

ketika suatu sore

buru-buru kau kuantar ke stasiun.

 .

Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.

Aku suka membayangkan

kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan

berhenti di warung bakso

di seberang kampus yang sudah sepi.

Kau masih seperti dulu rupanya,

menyayangiku?

 .

Bayangkan kalau kita nanti ke sana lagi!

Di kartu pos itu ada gambar jalan berkelok,

bermuara di sebuah taman tua

tempat kita suka nyasar

melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman

yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh.

Hahaha, dasar!

 .

Aku suka membayangkan

kartu pos itu memuat gambarmu,

residu dari berapa juta helaan

dan hembusan napasku dulu.

.

~*Sapardi Djoko Damono*~

.

.

pict from: here

Sonet 10 Maret 20, 2012

Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.
Tags:
add a comment

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.

Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,

belum penuh dengan coretan?

Ada yang ingin menulis aksara demi aksara

.

dan tak tahu akan mencapai kalimat meski ada tanda seru di ujungnya.

Tidak semua memerlukan tulisan,

(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)

meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.

.

Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai bila penghujan.

Tetapi sama sekali tak terbaca

bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai kemarau.

Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.

.

Kau mengharapkanku kembali seperti itu?

Risaukan kita ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

.

~*Sapardi Djoko Damono*~