jump to navigation

Dilindes Mobil September 28, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
7 comments

Pernah ngerasain dilindes mobil? Uhuhuhu, jangan sampe ya… tapi saya pernah! Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala* Kejadiannya hari kamis pekan lalu, setelah saya mengantar suami ke sbuah perusahaan di jalan Tb Simatupang, Jakarta Selatan. Jalanan pagi itu maceettt sekali, masyaallah.. padahal sudah menggunakan motor, tetap saja sulit untuk bergerak. Hal ini pula yang sering membuat saya bertanya-tanya, apa para pengendara mobil itu tidak stress menghadapi kemacetan Jakarta stiap hari??

Sebelumnya, di depan Citos (Cilandak Town Square), motor yang saya kendarai sudah ditabrak dari blakang oleh seorang “mas2”, cukup kencang, alhamdulillah yang penyok cuma plat nomer saja. Sempat kesal juga dengan orang tsb, lah wong lagi macet gitu ko bisa-bisanya nabrak dari blakang? Dikejar setoran kali ya.. wallahu a’lam.. ya sudahlah..

Tiba di lampu merah perempatan departemen pertanian, (lurus arah depok, kiri arah mampang, kanan arah ragunan) saya pun berhenti, menanti lampu hijau. Lampu hijau pun menyala, saya siap-siap mengangkat kaki saya dari aspal sambil pelan-pelan menge-gas motor saya, namun tiba-tiba, saya rasakan kaki saya sakit sekali, saya pun tidak bisa menjalankan motor saya, karena kaki kiri saya sudah berada tepat dibawah ban sbuah mobil avansa hitam. Ya Rabb, sakitnyaaaa… 😥 namun ternyata pengemudi avansa tsb tidak sadar jika iya sedang melindas kaki saya, spontan saya pun menggebrak-gebrak bagian depan mobil tsb dengan tangan kiri saya sambil sedikit berteriak, dan tentu saja, menahan sakit. “pak!! pak!! kaki saya pak!!”, meski belum tau perempuan atau laki-laki yang mengendarai mobil tsb, bgitulah triakan saya. Pun setelah kaca mobil tsb terbuka, ternyata benar, pengemudi tsb seorang laki-laki dengan membawa seorang penumpang yang juga laki-laki. Tetap saja pengemudi tsb belum “ngeh” kalau mobilnya masih melindas kaki saya.. Astagfirullah…. Akhirnya setelah “ngeh” barulah kaki saya bisa terlepas, dan ya..sakit sekali… tak kuasa saya dengan sdikit bersuara keras mengatakan padanya”Hati-hati dong pak kalau jalan!! Liat-liat!!” eh eh eh… malah saya yang kena marah balik, “mbak tuh yang salah..!!” “HAH???” salah gimana?? Tangisan saya pun meledak, saya tinggalkan saja bapak-bapak tsb, dengan pelan-pelan mencoba mengendarai motor dengan kaki yang sangat sakit..ternyata, saya dan mobil tsb terjebak lampu merah lagi. Saya merasa saya tidak salah, saya yakin itu. Bukankah hal yang wajar jika lampu merah, maka kedua kaki saya pun menginjak aspal?dan toh saya ada di sebelah kanan depan mobil tsb, ketika lampu hijau, seharusnya, pengemudi mobil tsb sdikit bersabar untuk memberikan kesempatan kepada para pengendara motor untuk jalan duluan (yang memang berada di depan dan samping kanan mobil tsb).

Tapi bgitulah musibah, qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala*, saya pun terus menangis selama menunggu lampu hijau lagi. Saya sudah tidak peduli sekitar saya, apakah ada pengendara motor lain yang bertanya “kakinya gak knapa2 mbak?” saya tidak peduli..saya terus menangis menahan sakit.. sedih karena suami saya tidak berada disitu..i need him so much for that moment…

Lampu hijau menyala, saya pun mulai menjalankan motor saya kembali, dan masih-tetap-menangis.. di depan departemen pertanian, saya berhentikan motor saya, untuk mengecek apakah kaki kiri saya baik-baik saja.. Namun ternyata, ada seorang bapak pengendara motor yang peduli terhadap saya yang meliat kejadian tsb, lalu memberhentikan motornya juga.. dan tak disangka, mobil avansa tsb pun berhenti diblakang saya.. .Alhamdulillah sudah tidak dengan amarah, kedua bapak-bapak yang berada di mobil tsb menanyakan keadaanku, tapi tetap saja mereka mrasa tdk bersalah, meski mau bertanggung jawab untuk membawaku ke poliklinik departemen pertanian, yang ternyata kedua bapak tsb adalah PNS disana.

Saya masih saja tetap menangis, saya bingung harus bagaimana, karena badan saya sudah cukup lemas, yang saya khawatirkan adalah saya pingsan dijalan. Saya sempat menolak untuk dibawa ke poliklinik, saya berpikir bahwa saya harus pulang ke rumah orang tua saya di jagakarsa, barulah saya minta diantar sesegera mungkin ke tukang urut. Karena setelah dilihat,alhamdulillah tidak ada luka, namun tetap saja kaki saya merasa sangat sakit. Tapi setelah dipikir lagi, baiklah kedua bapak itu mau bertanggung jawab, dengan masih menangis, saya pun mengangguk tanda setuju.

Sayang sekali gerbang mobil dan motor di pisah, saya pun bingung bagaimana harus mengikuti mobil avanza tsb. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu di depan gerbang, karena mobil tsb pun langsung melaju bgitu saja. Saya tunggu hamper setengah jam, kedua bapak tsb tak kunjung datang. Sambil menunggu mereka, saya juga menunggu ayah dan adik saya yang sudah saya hubungi. Dengan cepat ayah dan adik saya menjemput saya dan langsung membawa saya ke tukang urut Haji Naim, tukang urut yang terkenal di Jakarta.

Lima hari telah berlalu, tadi pagi saya control kembali ke bu Ella, seorang ibu yang mengurut kaki saya, saya pikir, perbannya sudah bisa dibuka, ternyata, setelah di urut lagi, kaki saya maish terasa sakit, diperban lagilah kaki saya, sampai hari sabtu nanti. Mudah-mudahan kaki saya segera sembuh. Dan sebagai pelajaran buat saya, lain kali jika ingin bepergian menggunakan motor, saya harus memakai sepatu (terutama bila jarak yang ditempuh cukup jauh) alhamdulillah saya memakai sepatu kala itu, kedua, yang saya lupa adalah, jika orang lain merugikan saya, entah ia menabrak, dsb, saya harus segera minta nomer hpnya, kalau bisa, alamat rumahnya, untuk meminta pertanggung jawaban.

*Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ’seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’

Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala
(Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti
dilakukan-Nya).’

Karena sesungguhnya (kata) ’seandainya’ itu akan
mengawali perbuatan syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

~*Afra Afifah*~

Griya Rahmani , 28 September 2010

Iklan

Lebaran Sunda vs Lebaran Betawi September 27, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
2 comments

Tidak seperti lebaran pada tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini, saya resmi menjalani lebaran ala urang sunda 😛 . Tentu saja, hal itu karena saya ikut berlebaran di kampung halaman suami, di Garut, Jawa Barat. Lebaran-lebaran sebelumnya, saya biasanya mengikuti ‘ritual’ lebaran ala betawi, alias gaya lebaran kluarga besar mama saya. Ternyata, lebaran betawi memang mempunyai keunikan tersendiri, tapi juga melelahkan hohoho.

Lebaran Pertama Khalid ^_^

Lebaran Betawi

Adik saya, Dida, biasa saya memanggilnya, sudah menuliskan tentang lebaran betawi di blognya. Memang  benar apa yang ditulisnya, biasanya lebaran betawi bisa sampai sebulan. Kalau idul fitri tiba, biasanya kami sekeluarga cepat-cepat mandi dan makan sebelum berangkat ke lapangan terdekat untuk shalat Ied, setelah itu salam-salaman dengan orang tua dan adik-adik. Makan ketupat, kolang-kaling (ah..saya suka sekali kolang kaling buatan nenek dan mama saya, apalagi kalau disajikan dingin-dingin), sambel krecek, semur (yang saya incer biasanya semur buatan nenek :mrgreen: karena mama biasanya membuat sambel krecek saja, yang membuat semur bagiannya nenek 😛 ), dan kue-kue ala lebaran. Setelah bersilaturahim dengan tetangga-tetangga dekat rumah, barulah kami pergi sekeluarga ke rumah nenek, untuk berkumpul dengan keluarga besar mama). Selanjutnya, kami dengan keluarga besar mama biasanya bepergian dengan menggunakan mobil ke keluarga besar mama lainnya yang pusatnya di daerah cipete, Jakarta selatan hehe. Kalau tidak sempat, ya bisa hari kedua, ketiga dan hari-hari selanjutnya. Hari kedua lebaran biasanya adalah jadwal berkumpul keluarga besar minang, alias keluarga besar papa, saya senang dengan gaya lebaran kluarga besar papa, berkumpul semua di satu tempat (biasanya rumah kakak tertua), mengadakan acara, foto-foto, silaturahim, selesai. Kalau di keluarga besar mama, meski sudah berkumpul di satu tempat dan sudah bertemu juga tentunya, “rasanya” tidak “afdhol” kalau belum saling berkunjung ke rumah masing-masing, itulah mengapa, mungkin lebaran betawi butuh waktu sampe satu bulan 😛

Lebaran Sunda

Ternyata, lebaran sunda, mirip dengan lebaran minang, atau masing-masing kluarga berbeda ya?hehe ya bisa jadi. Pagi hari saya siap-siap mandi dan makan untuk bergegas ke lapangan, eh..masjid, untuk shalat ied. Ternyata, di Garut shalat Ied biasanya diadakan di masjid kampung(meski tidak semua), ya padahal sunnahnya kan di lapangan yah hehe…

Setelah shalat, salam-salaman dengan warga kampung, dan saya pun tak luput menjadi perbincangan. “Saha ieu teh?” , bi Eneng, bibinya Aa (suami saya) pun menjawab, “ini teh istrina Aa”. “oh istrina Aa…hayuk atuh mampir ka rumah” dst dst (saya ga ngerti lagi apa yang dibicarakan dan saya juga ga ngerti kenapa panggilan “Aa” begitu melekat pada diri suami saya, sampai guru-guru, tetangga, teman main, saudara-saudaranya pun memanggilnya dengan “Aa” tanpa embel-embel “Aa Sofyan” atau nama lainnya), khutbah ied pun tentunya pake basa sunda haha, ngerti-ngerti dikit deh jadinya :mrgreen:

Selesai shalat, keluarga besar Aa dari mamah (ibunya Aa) berkumpul di rumah emak (neneknya Aa), saya pun ikut.

ayah n khalid mnuju rumah emak : )

Disana saya sudah melihat ketupat and the gank sudah tersedia di lantai hehe.

Acara pun dibuka oleh bapa mertua saya, seteah itu barulah makan-makan, ngobrol-ngobrol, bagi-bagi uang untuk anak-anak(eits, tentu saja Khalid kebagian :mrgreen: )

horeee khalid dapet uangg :mrgreen:

dan setelah acara usai, kami berkunjung ke rumah uwa Aa, serta ke tetangga dekat, barulah pulang ke rumah.

rumah ua ^_^

makan es buah dirumah ua ^^

Memang rumah bibi-bibi Aa sangat dekat dari rumah mertua saya, jadi seperti keluarga besar mamah berkumpul dalam satu kampung, jadi hanya perlu berjalan kaki untuk saling mengunjungi, tapi tidak saling mengunjungi pun tidak mengapa, karena sebelumnya sudah saling bertemu di rumah Emak, cukup ringkas.

Ya, apapun gaya lebarannya yang penting makanannya *lhoh :mrgreen: ga dink 😛

~*Afra Afifah*~

Jagakarsa, akhir September 2010

Ke Kawah Kamojang~! :) September 23, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
6 comments

Tanpa perencanaan sebelumnya, setelah dari kampung sampireun, aa langsung mengajakku ke kawah kamojang! Karena ke kampung sampireun hanya survey sebentar, aa pun menanyakan kepada satpam kampung sampireun tempat wisata terdekat, yang tak lain adalah kawah kamojang. Gak deket-deket amat sih..karena perjalanan dari kampung sampireun ke kawah kamojang ditempuh bisa skitar stengah jam, atau bahkan lebih.

pemandangan menuju kawah kamojang, subhanallah..

Perjalanan pun rata-rata menanjak. Saya sarankan bagi yang berkendaraan bermotor untuk tidak membawa bayi dan balitanya, karena pertama, kita tidak tau kondisi cuaca disana seperti apa, bisa saja dibagian utara turun hujan, lalu dibagian selatan tidak, seperti hujan lokal gitu, maklum daerahnya tinggi sekali, kali ini saya gak lebay ko.  Slain itu, tanjakan maupun turunannya juga lumayan curam, dan tanjakannya panjang (jauh gitu) bagi kendaraan yang ga kuat nanjak, harap berhati-hati.

[bukan papan selamat datang di kawah kamojang, karena jalanan masih mulus beraspal 😛 ]

[ini jalan nyeremin banget deh, mungkin kcuramannya hampir 45 drajat, hanya saja saya bukan fotografer profesional, jadi jalanan terlihat biasa saja, pdahal byk motor2 yang berhenti atau bahkan ga kuat nanjak lg, jd mesti ditolongin org2 disana, bahkan tak jarang, byk penumpang motor yang harus rela turun dr motor untk jalan mnanjak loh.. tapi tenang, ini jalan bukan mnuju kawah kamojang tp ke majalaya, aa dan saya salah jalan(keterusan) jd tibalah di jalan horor ini :p ]

Satu hal lagi yang membuat saya tidak menyarankan untuk membawa bayi dan balita ktika berkendara dengan motor ke kawah kamojang adalah, di areal mnuju kawah (kalau tidak salah dari papan tulisan “selamat datang di kawah kamojang”, sampai tempat penjualan tiket dan seterusnya, jalanan disana penuh ‘bertabur’ batu kali yang cukup besar-besar, mungkin skitar segenggam atau dua genggaman tangan orang dewasa. Dan batu-batu tersebut digunakan untuk menutup tanah, alias ga di aspal lagi..oalaahhhh..udah licin, batu-batunya segede gitu, makin berbahaya toh bagi pengendara motor??khawatir terpleset atau hal-hal lain lah, apalagi jalanan juga tidak datar-datar saja, tapi menurun dan menanjak..kbayangkan gimana harus berhati-hatinya bagi para pengendara motor? Fiuuuuh..kenapa tu jalan ga di aspal skalian sih ya.. (–_–)

[kalau mendekati gerbang ini, kamu akan ngerasa disana lagi hujan gerimis, padahal air-air tsb berasal dari skitar sini, entah darimana asalnya]

[eits, jangan coba-coba berenang disini yaa :mrgreen: ]

Anyway, bagaimana pun meski ga se-asyik di kawah putih ciwidey, tapi ke kawah kamojang juga memberikan kesan tersendiri. Sesampainya di tempat parkir, aku bilang aku lapar dan mau makan dulu, Aa pun mengajakku ke warung-warung yang ada di skitar tempat parkir. Kami memesan mie pake telor, hmm yummy.. dingin-dingin makan mie telor 😀 setelah selesai makan dan istirahat sebentar, kami pun berjalan kaki menuju kawah, disana dari kejauhan saja sudah terdengar suara berisik uap yang keluar dari perut bumi, entah perut ataukah lambung bumi 😛 yang jelas, ada uap kencang yang berbunyi nyaring (seperti bunyi uap ktika air yang kita masak sudah mendidih) yang menyemprot dari dalam tanah.

si bapak yang memasukkan sebilah bambu (–_–)

Saya tak tahan dengan bunyinya, nyaring, dan sangat mengganggu pendengaran. Makanya saya heran kenapa orang-orang ko bisa tahan mendekati uap tersebut dan bahkan “bermain2” dengannya. Seperti seorang bapak lanjut usia yang memasukkan sebilah bamboo  ke dalam uap tersebut, padahal tekanan uap tersebut cukup tinggi loh.., jadilah bapak tsb menahan sebilah bamboo tsb dengan tenaganya, dan bunyi uap pun terdengar berbeda (meski tetap saja tak enak di dengar). Karena itu, saya lebih memilih menjauh dan melihat fenomena alam yang lain di wilayah tsb.

[nah mlihat dari jarak sgini, cukup aman :mrgreen: ]

Dan saya pun melihat lubang besar yang keluar asap, hmm sepertinya di dalamnya panas yah?heheh air-air diskitarnya pun seperti air mendidih.. saya pun tidak berani untuk menginjaknya secara langsung *yaiyalah nyari perkara ajaa*

[energi panas bumi :)]

[uap yang keluar dari lobang besar dari dalam tanah]

[orang-orang yang sedang menjalani terapi]

si Aa 🙂

Setelah berfoto-foto sebentar, dan membelikan oleh-oleh berupa topi ‘anak gunung’ lucu untuk Khalid, kami pun pulang 🙂

~*Afra Afifah*~

jagakarsa, 24 September 2010

Ke Kampung Sampireun~! :) September 18, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
11 comments

Blog Aa ^^

Siapa sangka, akhirnya Allah meridhoi saya dan Aa untuk menginjakkan kaki kami di Kampung Sampireun, Garut, Jawa Barat. Alhamdulillah. Awal mula tau tentang sampireun, tentu saja dari Aa. Waktu itu sebelum nikah, saya ‘iseng’ melihat-lihat blog bliau, yang ..entah apa yang bliau tulis di blog tsb haha. Di bagian “About Me” dalam blog bliau, terpajanglah sebuah gambar rumah panggung yang berada di pinggir danau, indah sekali. Lalu saya pun bertanya, “itu dimana?” yah kurang lebih seperti itulah pertanyaan saya :mrgreen: Bliau menjawab “itu sampireun, ada di Garut” Huaaa >_< pengen kesana hihi.. ya sejak itulah saya terobsesi ingin kesana, hehe. Karena Aa sendiri pun belum pernah kesana katanya 😛

Saya mulai mencari-cari tau tentang kampung sampireun, jadi sering mampirlah saya ke webnya di www.kampungsampireun.com mlihat webnya, makin bikin saya mupeng pengen pergi ke sana, huhu. Sayang sekali fulus belum sejalan dengan keinginan, alias belum ada duit :mrgreen: yah liat aja kalau nginap per-malam di sana berapa, belum lagi biaya lainnya, hiks..

Tapi waktu liburan setelah lebaran kemarin, tak kusangka Aa pagi-pagi sekali sudah menyuruh saya untuk bersiap-siap pergi. Saya Tanya, “emang kita mau pergi kemana a?”. Kata Aa”kampung sampireun”. Heee??? Yang benar aja, pikir saya saat itu.. booking kamar pun belum, haha. Kata Aa”yah kita coba liat-liat aja dulu,makan disana aja kalau belum bisa menginap”. Cihuy..hihi aku menjadi riang sekali, tak masalah menginap atau tidak, Aa mengajakku kesana saja sudah kesenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya, Alhamdulillah ^^

Jadilah kami pergi ke kampung sampireun, lagi-lagi tanpa Khalid, karena kami menggunakan motor, jarak yang di tempuh jauh, plus musim hujan pula, jadinya Khalid kami titipkan ke Nenek dan Kakeknya dulu : ) . Alhamdulillah, pesan saya kepadanya sebelum berangkat, untuk Anteng di rumah nenek pun ia laksanakan, ini sudah kesekian kalinya pesan saya ia lakukan, trimakasih ya nak : )

pengendara motor di depan kami ^^

Bepergian dengan mengendarai motor seru juga lhoo, lebih berasa “petualangannya” –halah-  :mrgreen: , slain itu bisa langsung liat pemandangan bukit-bukit, danau dan sawah disekitar kami, plus dapat langsung menghirup udara Garut yang sejuk dan segar : )

Kami sampai di kampung sampireun pukul 09.30 pagi, saat di depan pintu masuk, ada dua satpam yang menjaga, Aa pun bertanya kepada dua orang satpam tersebut: “Pak, kalau mau masuk boleh?” “Disana ada tempat makan pak?” Salah satu satpam pun menjawab”Sebenarnya yang boleh masuk khusus tamu menginap pak, dan sekarang sedang penuh..tapi kalau bapak mau survey sebentar boleh pak..Restoran belum buka, bukanya jam 12 siang nanti pak” Yah, meski restoran belum buka, tapi kami sudah cukup senang bisa diizinkan masuk :). Setidaknya rasa penasaran kami akan kampung sampireun sudah terobati.

Si Aa 😀

menginjakkan kaki di kampung sampireun *agak lebay* 😛

kampung sampireun

salah satu spot kampung sampireun

salah satu spot kampung sampireun

Aa main ikan 😛

salah satu spot kampung sampireun

salah satu spot kampung sampireun

Alhamdulillah, semoga suatu saat nanti bisa mengajak keluarga besar untuk menginap disana 🙂

Garut… So Lovely~! :) September 16, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Tidak hanya killing Bandung, mlihat Gedung Sate, ITB, SMAN 3 Bandung, Daarut Tauhid, Dago, Ibu-ibu penjual bunga mawar di pinggir jalan, restoran disana sini, Aa pun mengajak saya untuk “menikmati” kampung halamannya itu 🙂 Seperti biasa, kalau sudah di sana, Aa mngajak saya untuk killing desa, mliat hamparan sawah yang luas, sungai dan gunung-gunung dari kejauhan, subhanallah. Tak lupa Khalid pun kami ajak serta, tapi ternyata baru diajak jalan-jalan sebentar, dia sudah tertidur hihihi…

Pemandangan Desa 🙂

Berkunjung ke Desa Sebelah ^^

Subhanallah

Maha Suci Allah

jalan-jalan sama Aa n Khalid ^^

Khalid udah bobo ajah :mrgreen:

Aa juga mengajak saya untuk ke Bedeng, hmm sebenarnya bedeng tuh apa ya? :mrgreen: yah pokoknya kalau saya bilang ke Bedeng, berarti Aa mengajak saya mnuju ke suatu tempat yang tinggi, dari sana, kami bisa mlihat pemandangan dari atas bukit, sungguh indah sekali…Maha Suci Allah 🙂 setelah itu tak lupa juga Aa mngajak saya dan Khalid untuk melihat SMP 1 Limbangan, yang tak lain adalah tempat dimana Aa menghabiskan masa SMP nya sebelum melanjutkan sekolah ke SMA 3 Bandung.

jalan-jalan ke Bedeng ^^

SMP 1 Limbangan, Garut

Ayah n Khalid

Khalid seneng banget diajak jalan2 ke SMP ayah^^

SMP Aa : )

SMP Aa (lagi) hehe

 

Hari berikutnya, sahabat lama saya dari SMA, Steffi Triani Arnov, sangat ingin saya kunjungi rumahnya yang berada di Pondok Maula Hegarmanah, Jatinangor. Ia meminta saya tuk mngajak serta Aa dan si Khalid, tuk berjumpa dengannya, putrinya yang baru sekitar 2 bulan (Hayla) dan suaminya, ka Rizky saya dan suami memanggilnya. Kluarga Dokter Gigi, Steffi baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, sedangkan sang suami, sudah menjadi dokter gigi dan sedang menyusun tesisnya di ITB, Alhamdulillah.

ruang tamu rumah steffi : ) (fotonya kealingan tangan Aa 😛 )

akuarium di rumah steffi :mrgreen:

Lama juga kami disana, dari pagi skitar jam 10 kami sampai, dan baru pulang skitar jam 4 sore, karena dari pagi hujan turun sampai sore pun belum berhenti juga, dengan terpaksa kami brangkat pulang lagi ke Limbangan dengan ditemani hujan turun rintik-rintik, karena kalau hari sudah gelap, khawatir lebih berbahaya lagi jalan yang kami lalui, karena harus melewati nagrek yang jalannya berliku dan cukup curam tanjakan dan turunannya, sedangkan kami mengendarai motor.

Semoga lain waktu bisa berkunjung lagi ke rumah Steffi dan Steffi pun bisa berkunjung ke rumah saya di Depok atau rumah mertua saya di Limbangan, Garut ^^ Aamiin…

~*Afra Afifah*~

Jagakarsa, 17 September 2010

Keliling Bandung~! September 10, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Liburan kali ini adalah liburan terlama pertama saya di Garut. Biasanya kalau ke Garut  rata-rata paling lama 3 hari 2 malam. Tapi tidak untuk kali ini, kami sekeluarga pergi dari tanggal 2 September dan insyaallah akan pulang tanggal 13 September nanti. Hmm cukup lama bukan 😛  Maka dari itu, kesempatan “emas” ini tidak akan kami sia-siakan bgitu sahajaa 😛

Hari pertama di Garut(3/9), kami gunakan untuk beristirahat seharian karena keesokan harinya saya dan suami berencana untuk pergi jalan-jalan ke Bandung, tanpa Khalid tentunya, kasian kalau Khalid dibawa jauh-jauh (dari Limbangan ke Bandung perjalanan sekitar 2 jam), lagipula, kami mengendarai motor, khawatir Khalid kehujanan di jalan.

Alhamdulillah, impian saya jalan-jalan kliling Bandung dengan mahrom saya pun terwujud. Mungkin masih ada yang ingat postingan saya 2 tahun yang lalu? ketika saya rindu sekali ingin berkunjung ke bandung? kalau lupa, selamat membaca “Bandungku Sayang” yang saya tulis 2 tahun lalu ya 😛

Kami berangkat pukul 9 pagi dari Limbangan. Perjalanan menyenangkan pun di mulai 🙂 . Pertama-tama kami menuju Rabbani Buah Batu, karena suami ingin membelikan saya gamis baru, akan tetapi, sudah dipilih-pilih beberapa kali, tetap saja belum menemukan yang pas dengan selera saya. Akhirnya, kami berangkat lagi, sambil menuju tempat berikutnya, GDa’s Gallery, suami mengajak saya untuk melihat SMA 3 Bandung, SMA dia dulu ^^.

Lalu melihat Taman Lalu Lintas (yang ternyata letaknya sangat dekat dengan SMA 3 Bandung).

Adzan Dzuhur pun berkumandang, kami shalat jama qashar dulu di Masjid Daarut Tauhid, Bandung.

Jl.Geger Kalong Girang, Bandung

Kemudian berjalan kaki ke Butiknya Ghaida, hehe..akhirnya kesampaian juga ngliat butiknya 😛 . Disana kami disambut ramah oleh seorang teteh (saya belum mnanyakan namanya siapa, hiks) yang menjaga GDa’S Gallery. Awalnya sempat kecewa karena ketika tiba disana, dipintu tertulis “tutup”. Hiks, sudah jauh-jauh 😥 .Tapi Aa, alias suami saya mnyuruh saya untuk mengetuk pintunya, mungkin saja ada orangnya, sedang shalat dzuhur mungkin, bgitu kata Aa. Setelah diketuk, masih saja belum ada sautan dari dalam, akhirnya dengan -aga- berat hati saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali, namun baru beberapa langkah, alhamdulillah si teteh yang menjaga memanggil saya untuk masuk. Yihiyy :mrgreen: . Sebelumnya, saya pun meminta izin dulu apakah suami saya diperbolehkan masuk atau tidak, Alhamdulillah diiizinkan 🙂 . Mulai lah saya memilih-milih baju yang memang, bagus-bagus, terlebih kalau dipakai di dalam rumah, karena banyak baju karya teh Gda yang hanya boleh dipakai di dalam rumah sama suami saya hahaha :mrgreen:

pilah pilih baju@GDa’s Gallery

Stiap nemu baju yang pas, saya tanya dulu ke Aa: “gimana a?” kata Aa:”boleh..tapi makenya di dalam rumah aja yaaa 😛 hehe”  Ada baju ungu koleksi teh Gda yang membuat saya penasaran untuk mencoba, dan tentunya membelinya, sayang sekali ternyata setelah masuk ke kamar pas, baju tersebut kekecilan, dan memang kata si teteh yang menjaga, kebanyakan yang membeli, terlebih dulu mesti memesan biar pas sesuai dengan ukurannya, karena baju-baju disana kbanyakan (mungkin hampir smua) adalah ukurannya teh Gda hehe.. Ktika sedang memilah milih baju, terdengar suara dari luar yang memanggil-manggil Gda, perempuan itu pun hendak masuk, namun ktika ia mlihat ada aa di dalam, ia pun urung untuk masuk, ternyata perempuan itu adalah mamahnya Gda, tak lain dan tak bukan adalah Teh Ninih ^^

Belum mendapat yang saya cari, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membeli sendiri produk yang saya jual hahaha. Karena memang cuma itu yang pas dihati, insyaAllah ^_^

Hadiah dari Aa ^_^

Sepulang dari Bandung, kami mampir dulu untuk berbuka puasa di warung nasi Ampera di daerah Rancaekek.

warung nasi Ampera@Rancaekek

Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan pulang menuju Limbangan, alhamdulillah pulang dengan selamat sampai rumah mertua 🙂

nb: Ssstt, bagi yang mau beli atau pesan gamis-gamis cantik, liat aja di FB Griya Shalihah hahaha prosmosiiii :mrgreen: 😛

Mudik For The First Time~! September 9, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
3 comments

Alhamdulillah, akhirnya impian saya untuk bisa mudik tercapai juga…hehehe :mrgreen: .Jujur aja, ini adalah kali pertama saya mudik lebaran, dengan tujuan kampung halaman suami: Limbangan, Garut, Jawa Barat. Dulu, saya iri sekali dengan orang-orang yang kalau lebaran tiba, mereka dengan serta merta  sibuk untuk mempersiapkan kepulangan mereka ke kampung halaman tercinta. Karena saya lahir di Jakarta, Ibu saya orang betawi asli, ayah saya, meskipun asli minang, tapi dari kecil sudah “diungsikan” ke Jakarta karena perang yang terjadi di Sumatera Barat sana. Keluarga ayah dan ibu pun mayoritas sudah berada dan menetap lama di Jakarta.

Namun kini, setelah menikah. Alhamdulillah bisa mudik juga ^^ memang impian saya ingin mudik ke suatu tempat di Jawa Barat, ga mau jauh-jauh juga, cape tau, apalagi kalo udah kejebak macet 😛

Karena lebaran tahun kemarin dirayakan di Jakarta, karena kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk diajak mudik (sedang hamil besar), jadi lebaran sekarang dirayakan di Garut .

Kami berangkat dari Jakarta Pukul 10 malam, naik Bus Budiman Eksekutif tujuan Tasik, karena meskipun masih masuk Garut, Limbangan termasuk daerah pinggiran(bukan garut kota). Perjalanan malam itu cukup cepat, hanya kami tempuh dalam waktu 3,5 jam, biasanya kami tempuh dalam waktu 4 jam, bahkan bisa lebih (kalau terjebak macet). Khalid pun tidur dari awal perjalanan sampai Garut. Alhamdulillah, permintaan saya kepadanya untuk membantu saya dan suami dalam perjalanan ia penuhi, (untuk tidur anteng selama perjalanan), trimakasih ya nak 🙂

tengah malam di bus

Pukul 01.30 pagi, bapa mertua menjemput kami di tempat peristirahatan Bus Budiman, yang sudah dekat dekat Limbangan. Alhamdulillah sampai juga di Garut ^^