jump to navigation

Pengalaman Menegangkan di Garut Agustus 30, 2010

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
Tags:
8 comments

pemandangan dari teras rumah mertua

Garut. Ah…tidak bosan-bosannya saya menceritakan soal pengalaman saya di kota kelahiran suami saya tercinta ini. Seperti pengalaman menegangkan, yang saya alami bersama suami saya. Pengalaman ini bermula sekitar awal juli yang lalu, setelah saya baru menyelesaikan sidang skripsi saya. Sudah hampir setengah tahun tidak pulang ke Garut, karena kesibukan kuliah dan terutama skripsi saya yang amat menyita waktu, uang, tenaga dan pikiran, saya, suami beserta anak kami pun kesampaian juga untuk melepas rindu dengan keluarga di sana.

jalan-jalan bersama suami 🙂

Singkat cerita, saya dan suami biasanya jalan-jalan berdua dengan menggunakan sepeda motor untuk keliling kampung yang dipenuhi dengan sawah, sungai dan bukit-bukit yang indah. Namun karena sekarang sudah ada anak, anak kami pun kami ajak serta. Tapi tidak untuk sore itu, sebenarnya sudah dari siang suami ingin mengajak saya untuk pergi ke Garut kota, tepatnya di daerah sukaregang, pusat industri kulit yang terkenal di Garut. Namun karena mungkin saat itu suami masih lelah, barulah sore harinya ia mengajak saya untuk pergi bersamanya.

sukaregang

Kami berangkat pukul setengah lima sore. Belum sampai di Sukaregang, matahari sudah mulai pergi dari peraduannya. Perjalanan kami tempuh cukup lama. Perkiraan sekitar satu sampai setengah jam. Dari rumah mertua yang berada di Limbangan, ke Garut kota. Melewati hamparan sawah yang luas, jalan desa, danau, rel kereta, dan pasar. Saya dan suami tak lupa memakai jaket yang tebal, karena udara Garut apalagi di sore hari, cukup dingin, ditambah kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang cukup tinggi.

salah satu situ yang kami lewati

Meskipun suami orang Garut asli, namun ia sendiri pun belum pernah ke sukaregang, maklum, masa SMA ia habiskan di Bandung , kuliah di Depok, dan bekerja di Jakarta. Jadi saya pun bisa memaklumi mengapa ia tidak tahu jalan ke Sukaregang. Kami pun bertanya kepada orang-orang yang berada di pinggir jalan. Sesampainya di Sukaregang, maghrib telah tiba. Kemudian kami langsung melihat-lihat kerajinan kulit disana mulai dari jaket kulit, sandal, sepatu, tas, gantungan kunci, dll. Tak lupa kami pun berbelanja beberapa barang seperti sandal untuk papa, bapa mertua dan saya, serta sarung tangan.

jaket kulit asli garut

Dan pengalaman menegangkan itu pun dimulai…

Hari sudah malam ketika kami keluar dari pusat perbelanjaan. Terdengar adzan Isya dari kejauhan. Gerimis pun turun, menambah udara Garut yang dingin menjadi semakin dingin. Perjalanan pulang dimulai…

Sudah skitar 15 menit perjalanan, kami baru sadar kalau ternyata kami sudah nyasar, cukup jauh. Huah….mulai teganglah saya.. karena memang kondisi saat itu sangat membantu saya untuk tegang >_< . Mulai dari hari sudah malam, suami tidak tau jalan pulang karena sudah nyasar terlalu jauh dan karena suasana sudah gelap(tentunya), udara saat itu bgitu dingin menusuk tulang, yang sangat berasa adalah pergelangan tangan yang tidak ditutup sarung tangan, serta kaki, padahal saya sudah mengenakan celana panjang dan kaos kaki. Tapi sungguh, saat itu saya membutuhkan jaket atau apapun untuk mengurangi rasa dingin yang saya alami. Masih di pinggir jalan yang gelap, suami pun bertanya kepada orang disekitar. Ternyata tujuan kami (Limbangan), malah semakin jauh jika kami melewati jalan itu, tapi untuk balik arah pun sudah tanggung, karena kami sudah cukup jauh nyasarnya. Akhirnya suami memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanan, melewati pasar…(saya cukup tenang karena suasana ramai), barulah kemudian kami melewati jalan raya yang sudah cukup sepi. Bapa dan Mamah pun tak henti menelfon, menanyakan keberadaan kami, karena hari sudah cukup larut, khalid dirumah pun sudah rewel gak karuan. Makin cemaslah saya…

Kemudian kami sampai di pertigaan jalan, saya dan suami yakin, jalan yang kami lewati saat berangkat tadi adalah jalan di sebelah kanan kami, tapi untuk memastikan, suami saya akhirnya bertanya kepada dua orang tukang ojek yang masih mangkal dipertigaan jalan itu. Dengan bahasa sunda dan logatnya yang halus, suami bertanya kepada kedua tukang ojek tsb, sayangnya, saya belum banyak mengerti bahasa sunda, jadi saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi setelah perbincangan tersebut, suami malah memutuskan untuk mengambil jalan yang arah kiri. Saya pun bingung. Padahal tadi kami berdua sudah yakin untuk mengambil jalan yang arah kanan. Motor pun mulai memasuki jalan desa yang sepi… Saya bertanya ke suami…”A, apa benar ini jalannya? Ko sepi banget ya?” ya, meski di perkampungan, entah kenapa sepi sekali…mungkin sudah larut, bisa jadi. Tapi saat itu masih sekitar pukul 8 malam. Saya sudah cukup tegang, ditambah lagi ketika bertemu anak-anak ABG yang “untungnya” masih nongkrong di pinggir jalan dengan menggunakan motor-motor mereka. Suami saya pun bertanya lagi, kurang lebih pertanyaannya “de, apa benar ini jalan menuju Limbangan?” anak itu pun menjawab”Wah kalau lewat sini, mah muter jauh kang.. kalau ke Limbangan lewat jalan sebelah sana..(jalan yang arah kanan, yang kami yakin lewat situ arah pulang)” Suami saya pun menambahkan:”bukannya kalau lewat sana sering ada kejadian?” DEG!! Makin panik lah saya..kejadian apa?? 😥 anak itu pun kemudian menjawab:”iya bener juga sih…yaudah lewat sini aja kang”

Saya pun langsung ‘menodong’ suami saya dengan banyak pertanyaan…”kejadian apa a..?” “emang kenapa?” “aa tau jalan lewat sini emangnya?” huhuhu..perasaan saya makin campur aduk, panik, kecewa, marah, takut, dan sedih… saya pun menangis karena ketakutan…karena jalanan benar-benar sepi..tidak ditemukan satu orang pun disekitar kami… dan, cahaya lampu yang ada hanya berasal dari lampu motor kami, tidak ada cahaya lain selain itu. MasyaAllah 😥 .Saya tegang sekali, saya merasa keadaan kami mengkhawatirkan, saya khawatir jikalau motor mogok, ban kempes, atau ada orang-orang jahat yang biasa merampas motor orang-orang yang lewat situ, bahkan sampai merampas jiwa orang lain… itulah mengapa suami saya memilih jalan yang kami tempuh karena ternyata, jalan yang arah kanan tadi sering ada kejadian seperti itu…

Panik…kepanikan saya semakin menjadi-jadi ketika saya tau bahwa suami saya tidak tau jalan yang ia tuju, dan saya melihat dari cahaya lampu motor, bahwa kabut turun menyelimuti kami, dan di kanan kiri kami hanya ada kebun-kebun sepi dan gelap. Saya pun tak kuasa menangis… sampai akhirnya…kami bersyukur bertemu dengan seorang bapak (yang saya tidak tau apakah bliau orang baik atau jahat) yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan menggunakan senter. Suami pun bertanya kembali, syukur alhamdulillah jalan sawah yang suami tau sudah dekat ketika ia bertanya ke bapak tsb yang alhamdulillah orang baik…

Perjalanan masih panjang, tapi suasana hati saya sudah cukup tenang karena paling tidak, suami sudah tahu arah dan jalan yang ia lewati saat itu… suami saya pun berkali-kali minta maaf ke saya untuk tidak lagi-lagi pergi sore hari, apalagi ia belum tau tempatnya…dan minta maaf karena telah membahayakan saya…

Sesampainya di rumah, mertua dan adik-adik ipar pun langsung bertanya apa yang telah terjadi…

Ternyata benar, daerah cibatu yang kami lewati tadi terkenal rawan tindak kejahatan jika malam tlah tiba…sering ada kejadian motor yang lewat disana di jegat lalu dirampas bahkan para perampok itu pun tega merampas nyawa sang pemilik motor. Naudzubillah min dzalik 😦 . Adik ipar pun berkata bahwa ia tidak berani lewat daerah situ jika maghrib sudah tiba…

Qadarullah wa ma’asya fa’ala…mungkin khalid tau ayah dan bundanya sedang dalam keadaan bahaya, jadi ia sangat rewel dirumah.

Semoga kejadian tersebut tidak terjadi lagi pada kami…aamiin…