jump to navigation

Ayah Bunda September 16, 2009

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.
Tags:
24 comments

Swan_family_by_Linuska

MasyaAllah, sungguh masih tidak menyangka, sebentar lagi saya dan suami akan menjadi orang tua. Rasanya, hmm bingung saya bagaimana harus menuliskannya. Campur-campur. Alhamdulillah di umur 20, anak saya sebentar lagi (tinggal hitungan hari, insyaAllah) akan lahir. Sedangkan suami tercinta, di umurnya yang ke-25, insyaAllah akan mempunyai jagoan kecilnya. Subhanallah, sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh sebuah puisi terindah sekalipun.

Seiring menunggu kehadiran buah hati, kami pun sudah memikirkan, panggilan apa yang akan di tujukan pada kami nantinya. Dari awal, suami saya ingin dipanggil “Abi”, padahal, saya ingin dipanggil “Bunda”. Abi-Bunda? Rasanya gak klop ya? Hehe.. akhirnya, saya pun mengalah dan nurut dengan suami…, dengan bersedia untuk dipanggil “Ummi”.

Hmmm…namun, seiring berjalannya waktu…entah mengapa, rasa ketidaknyamanan atau istilah kerennya “gak sreg” untuk dipanggil “Ummi” makin menjadi-jadi…meski saya pribadi senang, bila suami dipanggil Abi, tapi saya tidak sreg untuk dipanggil Ummi. Karena menurut saya, panggilan tersebut –maaf bagi yang tidak berkenan-, mrusak tata bahasa ^^. Kenapa merusak? Okelah, kalo anak kami yang memanggil ummi-abi, yang artinya ibuku dan ayahku. Tapi, orang lain tentunya juga akan memanggil ke saya dan suami, “ummi-abi”. Misalnya : “dede cakep, umminya kemana?” kalau diterjemahkanà”dede cakep, ibuku-nya kemana?”. Aiiih, itulah yang membuat saya gak sreg sampai sekarang, gak pas gitu kalau buat kita, orang Indonesia. Memang sih, panggilan “Ummi” sudah lazim di Indonesia yang maksudnya adalah“Ibu”, tapi mungkin karena saya orangnya agak-agak perfeksionis, tetap menganggap hal itu adalah suatu kesalahan :mrgreen: (*panggilan yang salah koq di “lazim-lazim”kan :mrgreen: ) –maaf bagi yang tidak sependapat 😉 –

Alhamdulillah, dibulan-bulan terakhir menjelang melahirkan, suami tercinta akhirnya mengalah, dan bersedia untuk dipanggil “Ayah”, yang tadinya, suami merasa panggilan “ayah” berasa “tua” di telinganya..hihi.. padahal menurut saya sih engga :mrgreen: . Sekarang, suami malah senang memanggil-manggil dirinya dengan “ayah” ^_^

Dan kini, kami pun siap menanti kehadiran buah hati, sembari menanti, panggilan “Ayah&Bunda” yang keluar dari mulut mungilnya nanti, insyaAllah 🙂

 

~*Afra Afifah*~

[Jakarta, 16 September 2009]