jump to navigation

I Loveeee Ice Cream So Much Mei 18, 2008

Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.
5 comments

Waduh gimana ya..saya kalau udah liat tukang Ice Cream di kampus, pengennya langsung beli aja… kebetulan sahabat-sahabat saya juga suka… 😀 Biasanya sih, kami beli Ice Cream tergantung ‘kebutuhan’ (keinginan apa kebutuhan hayo ngakuu jujuuur :p ) Hehe iya keinginan yg mendekati kebutuhan deh huehehe.. Ada saat dimana kami sangat ‘buuutuh’ Ice Cream, yakni ketika UTS atau UAS usai. Maklum, tingkat stress kita cukup tinggi saat-saat itu. Makanya, Ice Cream lah yang kami jadikan sebagai salah satu obat yang ampuh untuk ‘membunuh’ stress bagi mahasiswi-mahasiwi ceria seperti kami hahaha

Anakku, Bukan Anak Pembantu Mei 18, 2008

Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.
7 comments

Saya merasa kasihan dan miris melihat kondisi murid-murid saya. Sebagian besar murid-murid saya berasal dari keluarga yang super sibuk. Setiap mendapatkan murid baru, biasanya saya selalu menanyakan apa pekerjaan orang tuanya, ibunya bekerja di luar rumah atau tidak. Kalau iya, pergi bekerja dan pulang kerja jam berapa. Nyatanya, sebagian besar mereka menjawab “Papa dan Mama pergi biasanya sebelum jam 6 pagi dan pulang di atas jam 6 sore, bahkan lebih…”

Hmm…jadi yang menggantikan dan otomatis yang menemani dan ‘mendidik’ mereka di rumah adalah para pembantu mereka. Kasihan sekali mereka, pikir saya. Karena masa kecil dan remaja adalah masa dimana seorang anak sangat butuh bimbingan dari orang tua mereka, terutama Ibu. Miris rasanya ketika beberapa murid saya sangat menyenangi dan hapal lagu-lagu orang dewasa. Bahkan tak jarang, saat sedang belajar, murid saya sering menyanyi lagu ‘Mulan Jameela’ yang ketika itu pula saya perintahkan untuk berhenti menyanyikannya. Murid saya rata-rata masih dibawah umur 10 tahun. Ketika pembantu yang menggantikan orang tua sebagai ‘pendidik’, begitulah imbasnya. Anak juga sering tidak patuh dan kelewat manja. Hal itu yang saya perhatikan dari mayoritas mereka, murid-murid saya, meski saya sendiri belum melaukan penelitian lebih dalam mengenai kondisi mereka.

Oke, karena ibu dan bapak mereka bekerja, penghasilan keluarga menjadi lebih bertambah. Mereka memang anak-anak keluarga menengah keatas. Tapi, apakah anak-anak yang harus ‘dijadikan korban’? Saat mereka tumbuh, orang tua mereka tidak mengawasi. Karena begitu sibuk dengan urusan dan pekerjaan mereka masing-masing. Hhhh…Bukankah jika seseorang sudah beranjak dewasa malah akan menjadi sangat sulit untuk merubahnya? Seseorang yang sedari kecil dimanjakan, semua serba tersedia, tidak ada pengawasan orang tua, akan sangat berpotensi besar mempunyai perilaku yang menyimpang ketika mereka dewasa.Terjerumus kedalam jurang narkoba dan seks bebas contohnya. Lihat saja, betapa banyak anak-anak dan remaja sekarang yang mengkonsumsi narkoba? Dan betapa banyak para remaja wanita yang hamil diluar nikah?? Naudzubillahmindzalik…

Anak-anak yang sedari kecil terbiasa menonton acara-acara televisi yang tidak mendidik, terbiasa mendengarkan lagu-lagu, terbiasa berpakaian terbuka, terbiasa tidak shalat, terbiasa tidak membaca alquran dan tidak dibiasakan mendapatkan pendidikan agama, bagaimana jadinya ketika mereka dewasa nanti…? Zaman sekarang saja kehidupan rasanya sudah semakin rusak. Bagaimana dengan Zaman anak-anak kita nanti ..? Apa saja yang dilakukan orangtua selama ini…? Apa saja peran kalian…? Apakah harta dan kehidupan yang serba ada bisa membahagiakan anak-anak..? Apakah harta merupakan tolak ukur kebahagiaan seseorang…?

Teruntuk diri saya, para orang tua, dan calon orang tua…semoga kita bisa merenungkan dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita nanti…karena sesungguhnya mereka adalah investasi akhirat kita…

~*Afra Afifah*~

[ Kamar Inspirasi, Sabtu 17 Mei 2008 ]