Ayah Bunda September 16, 2009
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.19 comments

MasyaAllah, sungguh masih tidak menyangka, sebentar lagi saya dan suami akan menjadi orang tua. Rasanya, hmm bingung saya bagaimana harus menuliskannya. Campur-campur. Alhamdulillah di umur 20, anak saya sebentar lagi (tinggal hitungan hari, insyaAllah) akan lahir. Sedangkan suami tercinta, di umurnya yang ke-25, insyaAllah akan mempunyai jagoan kecilnya. Subhanallah, sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh sebuah puisi terindah sekalipun.
Seiring menunggu kehadiran buah hati, kami pun sudah memikirkan, panggilan apa yang akan di tujukan pada kami nantinya. Dari awal, suami saya ingin dipanggil “Abi”, padahal, saya ingin dipanggil “Bunda”. Abi-Bunda? Rasanya gak klop ya? Hehe.. akhirnya, saya pun mengalah dan nurut dengan suami…, dengan bersedia untuk dipanggil “Ummi”.
Hmmm…namun, seiring berjalannya waktu…entah mengapa, rasa ketidaknyamanan atau istilah kerennya “gak sreg” untuk dipanggil “Ummi” makin menjadi-jadi…meski saya pribadi senang, bila suami dipanggil Abi, tapi saya tidak sreg untuk dipanggil Ummi. Karena menurut saya, panggilan tersebut –maaf bagi yang tidak berkenan-, mrusak tata bahasa ^^. Kenapa merusak? Okelah, kalo anak kami yang memanggil ummi-abi, yang artinya ibuku dan ayahku. Tapi, orang lain tentunya juga akan memanggil ke saya dan suami, “ummi-abi”. Misalnya : “dede cakep, umminya kemana?” kalau diterjemahkanà”dede cakep, ibuku-nya kemana?”. Aiiih, itulah yang membuat saya gak sreg sampai sekarang, gak pas gitu kalau buat kita, orang Indonesia. Memang sih, panggilan “Ummi” sudah lazim di Indonesia yang maksudnya adalah“Ibu”, tapi mungkin karena saya orangnya agak-agak perfeksionis, tetap menganggap hal itu adalah suatu kesalahan
(*panggilan yang salah koq di “lazim-lazim”kan
) –maaf bagi yang tidak sependapat
-
Alhamdulillah, dibulan-bulan terakhir menjelang melahirkan, suami tercinta akhirnya mengalah, dan bersedia untuk dipanggil “Ayah”, yang tadinya, suami merasa panggilan “ayah” berasa “tua” di telinganya..hihi.. padahal menurut saya sih engga
. Sekarang, suami malah senang memanggil-manggil dirinya dengan “ayah” ^_^
Dan kini, kami pun siap menanti kehadiran buah hati, sembari menanti, panggilan “Ayah&Bunda” yang keluar dari mulut mungilnya nanti, insyaAllah
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 16 September 2009]
Tuliskan Saja~! Agustus 31, 2009
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.3 comments

Saya memang bukan seorang penulis buku terkenal, boro-boro menjadi “penulis buku terkenal”, menjadi “penulis buku” saja belum*. Menulis bagi saya adalah sama saja dengan meninggalkan jejak-jejak sejarah. Karena setiap apa yang saya tulis, bisa dibaca, dicetak, disimpan, dan yang paling penting adalah membuktikan bahwa saya pernah hidup di dunia ini.
Sering kali ide untuk menulis, apapun itu, baik itu puisi, ide, pengalaman hidup, dll. Tiba-tiba muncul begitu saja, namun juga bisa lenyap, dalam hitungan detik. Maka dari itu, saya pribadi sering menuliskan puisi-puisi saya di Hp. Jika tiba-tiba sesuatu yang bernama inspirasi itu datang.
Ya! Dan ternyata memang sebaiknya begitu. Jangan di tunda-tunda! (kalau ada waktu luang sih
), jika tidak, maka seperti yang saya ketik tadi, ide itu bisa lenyap begitu saja. Jangan takut untuk salah menulis, isi yang tidak karuan, ataupun berapa banyak yang akan ditulis. Tuangkan saja semua ide yang ada di pikirian kedalam tulisan. Tulis, dan tulis saja! Toh, saya yakin, para penulis besar dan buku-buku mereka telah beredar dimana-dimana, sebagian besar mereka belajar dari 0, di tolak di berbagai penerbit buku, Koran, maupun majalah. Memang tidak ada yang instan di dunia ini. Berlatih dan berlatihlah terus. Semoga suatu saat nanti, dengan tulisan, kita bisa mengubah dunia.
(*semoga suatu saat nanti saya bisa menulis sebuah buku)
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 31 Agustus 2009]
November Rain~ November 8, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.70 comments

Suara dan kesyahduan akan turunnya hujan di malam ini membuat hatiku tergerak untuk menulis. Sungguh, malam ini aku merasakan suatu perasaan yang begitu luar biasa… Bahagia…ya, aku sangat bahagia…karena musim hujan yang selama ini aku tunggu pun datang, bersamaan dengan kehadiranmu…
November ini, langit jakartaku sering sekali terlihat gelap, menandakan bahwa rahmat Allah akan segera turun dari langit…
Namun, hal itu tidak membuat suasana hatiku sendu dan kelabu layaknya suasana langit yang kulihat, tidak… justru sebaliknya, suasana hatiku sangat cerah….seperti musim semi dan bermekarannya bunga-bunga sakura nan indah di belahan bumi yang bernama Jepang nan jauh disana…
Sungguh Allah…aku sangat mencintai hujan…maka tidak selayaknyalah hujan dijadikan sebagai suatu kesalahan karena banjirnya kota kelahiranku ini…
Sungguh Allah…kamilah yang bersalah…kamilah yang bersalah karena meski kami tau bahwa membuang sampah disembarang tempat akan menyebabkan banjir…tapi tetap kami lakukan…
kami pun makin gencar menebang pepohonan demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya…sehingga tidak ada lagi kawasan sebagai daerah serapan air hujan…
Namun sungguh lucu ya Allah…kami yang bersalah, justru malah kami yang selalu menyalahkan turunnya hujan…
Padahal, bukankah hujan adalah rahmat yang Engkau turunkan dari langit…?
Di tengah hujan…aku bisa menangis sepuasku…karena orang-orang tidak akan tahu bahwa aku sedang menangis…
Saat hujan turun…aku pun bisa tertawa bahagia…karena sungguh aku mencintai hujan…Dan ketika hujan berhenti…aku pun dapat menghirup segarnya udara kota tanah kelahiranku ini…kota yang setiap harinya penuh dengan asap polusi…
Dan Engkau pun tau ya Rabbku…hanya ketika hujan dan setelahnya aku bisa menghirup udara jakarta dengan sedikit kelegaan…ya, hanya sedikit…dan hanya sebentar…karena itulah aku bersyukur…
Dan mudah-mudahan, suatu hari nanti…aku bisa lagi melihat pelangi…pelangi yang pernah kulihat waktu ku kecil dulu…pelangi indah, yang selama ini kutunggu… untuk mengisi hari-hariku…
Dan aku pun yakin, hari itu akan segera tiba…
~*Afra Afifah*~
Jakarta, 8 November 2008
[Ketika Hujan Turun, Di Malam Yang Penuh Cinta]
”Allahumma Shoyyiban Nafi’an…”
-ya Allah…turunkanlah hujan yang bermanfaat…-
Menghargai Proses Diri Dan Orang Lain Oktober 31, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.64 comments

“Life is an everlasting learning,
learn how to be honest to your own heart
and learn to have a big opened heart to love deeply
and to forgive quickly.”
[Anonymous]
Hidup Adalah Sebuah Proses…
Hidup adalah sebuah proses. Sebuah proses dari kita tidak mengerti apa-apa, yang saat itu, kita masih sangat bergantung pada Ibunda kita. Sampai sekarang. Ya, sampai saat ini. Sampai telah banyak yang kita ketahui tentang kehidupan. Meskipun masih banyak hal yang belum kita ketahui.
Setiap manusia itu berbeda-beda. Tiap-tiap kita pastilah mempunyai keunikan sendiri. Serta mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita, bisa sampai kepada titik dimana sudah banyak yang kita ketahui tentang kehidupan, tak lain berasal dari proses belajar. Waktu balita kita belajar agar bisa berbicara. Belajar supaya kita bisa berjalan. Belajar bagaimana kita bisa mengucapkan terimakasih kepada Ayah dan Ibu kita. Waktu kecil, ketika kita belajar berjalan…lalu terjatuh…bangkit lagi, kemudian terjatuh lagi… lalu bangkit lagi…dan begitu seterusnya. Orangtua pun tidak menyalahkan kita atas jatuhnya kita. Justru sebaliknya, mereka selalu menyemangati kita untuk tetap berusaha agar bisa lancar berjalan. Bila kita terjatuh, mereka membantu… Bila kita menangis, mereka menenangkan dan menghibur kita… Mereka tidak mengejek kita karena belum bisa berjalan. Mereka, juga tidak pernah meremehkan kita karena sering terjatuh sewaktu belajar berjalan. Karena mereka, adalah orang-orang yang selalu menghargai proses belajar kita.
Tapi kini, ketika sudah beranjak dewasa. Mengapa sulit sekali bagi kita untuk menghargai proses diri dan orang lain? Ketika kita sudah mendapat ilmu yang lebih, baik ilmu dunia maupun ilmu agama, mengapa dengan ilmu yang kita miliki, malah membuat kita lebih mudah menghakimi orang lain? Padahal setiap orang membutuhkan proses yang berbeda-beda. Padahal, proses belajar kita tidaklah sama…
Kita Semua Belajar Dari Kesalahan…
“Lihatlah si fulanah, pakai jilbab koq pendek dan ketat gitu”. “Lihatlah si fulan, sudah tau hukumnya menjaga pandangan, tapi koq pandangannya malah gak dijaga!”. Ahhhh…iya, si fulan dan di fulanah tadi memang belum bisa menjalankan syari’at dalam hal berpakaian dan menjaga pandangan. Tapi, apakah berarti kita mempunyai hak untuk men-judge mereka? Apakah berarti kita punya hak untuk meremehkan atau mengejek mereka? Padahal perbedaan kita dan mereka adalah kita sudah mengetahui tentang hukum syar’i dan biiznillah, kita bisa melaksanakan aturan tersebut dengan baik. Sedangkan mereka, mungkin belum mengetahui tentang apa-apa yang sudah kita ketahui. Atau mungkin, mereka sudah tau, tapi mereka masih butuh proses untuk itu. Salahkah mereka? Wallahu a’lam. Toh setiap manusia tak lepas dari kesalahan. Kita semua belajar dari kesalahan.
Karena Setiap Orang Berbeda. Maka Jangan Disamakan…
Lantas, apa yang harus kita lakukan..agar mereka bisa mendapatkan ilmu yang telah kita ketahui lebih dulu disbanding mereka? Jawabannya adalah mudah, berikanlah contoh dan nasihat yang baik
. Sering kali, mungkin tidak kita sadari, tauladan yang baik itu lebih baik dari 1000 nasihat sekalipun.
Jangan Asal Menasehati…
Sayangnya, banyak dari kita yang “asal” dalam menasehati. Mungkin cara kita yang kurang lemah lembut, atau tidak dengan hikmah yang baik dalam penyampaiannya. Ataukah, kita salah dalam “memilih” orang untuk kita nasehati
. Bayangkan, jika kita melakukan kesalahan yang sebenarnya kita tau bahwa itu salah, tapi terpaksa kita lakukan atau banyak faktor yang membuat kita akhirnya terjatuh dalam kesalahan. Atau mungkin, kita memang masih dalam proses untuk keluar dan bangkit dari kesalahan yang kita lakukan. Tiba-tiba, ada orang yang ujug-ujug menasehati kita. Seolah-olah dialah yang paling tau tentang masalah kita. Seolah-olah, dia yang paling tau soal kondisi kita. Dan seolah-seolah ialah yang paling benar.
Nasihat yang diberikan mungkin memang adalah nasihat yang baik. Tapi kalau caranya tidak baik dan tidak pas diberikan ke kita, dalam waktu, situasi, kondisi..dan bukan diberi nasihat oleh orang yang tepat. Bisa jadi justru nasihat tersebut di tolak mentah-mentah dan si penerima nasihat malah menjauhi si pemberi nasihat dan apa-apa yang “diberikan” oleh si pemberi nasihat.
Misalnya contoh mudahnya adalah ketika kita mengetahui sahabat terdekat kita melakukan kesalahan, apakah lantas kemudian kita langsung menghakiminya? Apakah kita langsung menjauhinya? Dan apakah kita mempunyai hak untuk menjelek-jelekannya…? Tentu saja tidak. Karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Mungkin saja kelemahan kita pada suatu hal adalah kelebihan orang lain. Dan sebaliknya, mungkin saja kelebihan kita dalam suatu hal, adalah merupakan titik lemah orang lain. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan yang pertama kali adalah memberikan contoh yang baik. Kalau pun masih belum “mempan”, ya berikanlah nasihat, dengan sebelumnya jalinlah komunikasi yang baik, untuk mengetahui sebab muasal kenapa ia bisa berbuat kesalahan tsb. Benar begitu? Dan jika belum diterima dan dilaksanakan juga nasihat kita, maka bersabarlah. Serta senaniasa mendo’akan sahabat kita agar Allah membukakan pintu hatinya. Sungguh, hanya Allah Pembolak-balik hati manusia.
Qulil Haqqo Walau Kaana Murron…
Pernah dengar kalimat diatas? Yang berarti : “katakan yang benar walaupun pahit..” Ya, terkadang..kita memang harus mengatakan sesuatu yang benar, meskipun itu ‘pahit’. Namun, apakah jika kita sudah mengetahui pil pahit itu akan kita berikan ke orang lain, lantas cara yang kita gunakan juga mesti ‘pahit’ juga? Ibarat akan menelan pil pahit, kita sering menambahkannya dengan madu. Ataukah mencampurkannya dengan buah pisang, agar pahitnya pil tidak begitu terasa. Seperti halnya memberi nasihat, jika sudah tahu nasihat yang akan kita berikan itu ‘pahit’ bagi sang penerima. Apa caranya mesti ‘pahit’ juga? Tentu tidak bukan?
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti menghiasinya.
Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan menjelekkannya.”
(HR. Muslim no. 2594)
Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan dan kebenaran…
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 1 November 2008 Pukul 02.00 Dini Hari]
-Sebuah Nasihat Untuk Diri dan Orang Lain-
Ikutan Gabung Yuks di Forum Nadiyyah~! Oktober 7, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.49 comments

Teman-teman yang baik, liat gak…ada banner yang “mencolok” sendiri (paling tidak menurut saya), di Blog Diary Hujan ini. Banner apakah itu…? Yups, betul sekali! Banner itu adalah banner-nya forum nadiyyah. Banner yang sebenarnya, agak terpaksa saya tampilkan karena warnanya yang PINK (oh nooo…). Namun sebagai bentuk rasa hormat dan apresiasi saya terhadap ibu Dilla yang sudah bersusah payah untuk meluangkan waktunya untuk membuat dan mendesign forum plus membuat banner tersebut. Akhirnya saya rela insyaAllah untuk memajangnya di Diary Hujan ini yang sebenarnya pemilik blog ini sangat anti terhadap warna PINK hehehe…
Forum Nadiyyah? Forum Apaan Sih Tu…?
Forum Nadiyyah adalah sebuah forum yang dibuat oleh seorang mahasiswi asli kendari-sunda yang sedang kuliah di sebuah kota yang bernama Adelaide. Adelaide? Iya, coba cari kota Adelaide di peta Indonesia, niscaya gak akan nemu kalian kota tersebut di Indonesia (ya iyalah masa…? Ya iya dong
), karena Adelaide itu letaknya di Australi sodara-sodara!
Forum Nadiyyah dibuat dengan upaya untuk menampung uneg-uneg, keluh kesah, kritik, kemarahan, kebahagiaan sekaligus sebagai ajang diskusi bagi para anggota forum. Koq forumnya cewe banget sih (Hello Kitty n PINKY banget) ? Hehehe iya tuh..secara yang buat juga cewe
tapi tenang, forum ini bukan forum khusus perempuan saja koq. Kaum adam juga bisa kasi pendapatnya dan ikutan gabung di forum ini.
Pernah gak teman-teman mengalami kejadian seperti ini :
Ada orang yang kamu gak kenal, atau belum terlalu mengenal kamu. Tiba-tiba udah “menasehati” kamu dengan “sesuka hati”? Atau udah ngelarang ini itu…? Padahal dia sama sekali gak tau kondisi kamu dan apa masalah yang sedang kamu hadapi? Gimana sih rasanya? Gak enak banget kan? Bikin gimanaaa gitu… Meskipun hal-hal yang dikasi taunya baik..tapi kalau caranya gak baik…malah keseringan buat kita “lari menjauh” dari orang-orang yang kayak gitu kan?
Nah…di Forum Nadiyyah ini… tumpahkanlah segala uneg-uneg kamu tentang hal semacam itu…insyaAllah akan dibantu untuk mencarikan solusinya. Eits, forum ini juga gak cuma sebagai ajang curhat juga loh…bagi teman-teman yang hobby IT, bisa juga nanya-nanya atau berbagi ilmu tentang dunia IT. Dan masih banyaaak lagi. Seru kan? Makanya…

Thanks a lot pinky girl
Cinta Itu Tak Terlihat Oktober 5, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.41 comments
Pada dasarnya, saya bukanlah tipekal orang yang gemar membaca novel. Apalagi untuk membelinya. Saya baru akan membaca novel tersebut, jika banyak orang mengatakan novel tersebut bagus, hanya sekedar ingin menuntaskan rasa penasaran saya saja.
Novel pertama yang saya baca adalah Novel Harry Potter karangan J.K Rowling, itu juga hanya buku pertama. Karena kebetulan, waktu di SMP dulu, ada seorang teman les yang memberikan hadiah novel itu ke saya, hmm…lengkap dengan coklat berbentuk hatinya. Dibanding novelnya, sebenarnya saya lebih menyukai hadiah coklat pemberiannya : ) . Kemudian, novel kedua yang saya baca adalah novel “fenomenal” Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El-Shirazy. Novel kedua tersebut, saya baca ketika duduk di kelas 2 SMA. Lagi-lagi, karena teman sebangku saya “penggila” komik dan novel, lalu ia pun menyuruh saya untuk membacanya. Akhirnya, saya pun membacanya dan surprise! Ada beberapa bagian dari novel tersebut yang membuat saya menangis. Tapi, entah kenapa tidak ada niatan di hati saya untuk membeli novel tersebut. Namun, tidak untuk novel yang satu ini : yakni sebuah Novel Pakistan, yang berjudul “Cinta Yang Terlambat” yang ditulis oleh Dr. Ikram Abidi. Ungkapan “Don’t Judge a Book By It’s Cover” mungkin sangat tepat untuk mendeskirpsikan novel ini. Sungguh, cover novel ini jauh dari kata “bagus”. Komposisi warna, dan tulisan di covernya, mungkin banyak membuat orang enggan untuk menyentuhnya. Namun jangan salah, ternyata isi novel tersebut banyak menyimpan kalimat-kalimat dan kata-kata yang begitu indah. Apalagi novel tersebut menceritakan tentang seorang wanita shalihah yang terus berjuang untuk mempertahankan pernikahannya, yang dari awal disebabkan karena sang suami tidak mencintainya.
Berikut ini saya kutip tulisan karya Dr. Ikram Abidi yang terdapat dalam novel tersebut :

Cinta Itu Tak Terlihat
Kenapa kita menutup mata kita ketika kita tidur?
ketika kita menangis? ketika kita membayangkan ?
itu karena hal terindah di dunia ini tidak terlihat…
Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya
SEJALAN dengan kita…
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam
suatu keindahan yang serupa yang dinamakan CINTA
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan….
tapi ingatlah…..melepaskan BUKAN akhir dari dunia
Melainkan awal kehidupan baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang telah mencari…..dan mereka yang
telah mencoba
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai
betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka…..
CINTA yang AGUNG?
adalah ketika kamu menitikkan air mata dan
MASIH peduli terhadapnya…
adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu
MASIH menunggunya dengan setia
adalah ketika dia mulai mencintai yang lain dan
kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut
berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil….BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan
terbang ke alam bebas LAGI
Ingatlah…. bahwa kamu mungkin menemukan cinta
dan kehilangannya…
tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati
bersamanya….
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang,
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan,
Kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan
kehidupan yang telah kau buat
TEMAN SEJATI… mengerti ketika kamu
berkata ‘aku lupa….’
menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘tunggu sebentar’
tetap tinggal ketika kamu berkata ‘tinggalkan aku sendiri’
membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
berkata ‘bolehkah saya masuk?’
MENCINTAI…..
Bukanlah bagaimana kamu melupakan,
Melainkan bagaimana kamu memaafkan
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti
Bukanlah apa yang kamu lihat,
melainkan apa yang kamu rasakan
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan,
melainkan bagaimana kamu bertahan
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati
dibandingkan menangis tersedu-sedu
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air
mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang
tidak akan pernah hilang….
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG
menang…..
tapi ketika cinta itu TULUS,
meskipun kalah, kita tetap MENANG
hanya karena kamu berbahagia……..
dapat mencintai seseorang……
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri…..
Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti
mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita,
MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang
itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya
Kadang kala, orang yang kamu cintai
adalah orang yang PALING menyakiti hatimu
dan kadang kala, teman yang menangis
bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari…
Ke Salon Muslimah, Kenapa Tidak? Agustus 25, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.23 comments
![]()
“Ukhti… jangan pake karet gelang dunk kalau buat ngiket rambut..”
“Ya ukhty… masa rambutnya gk disisir…? “
Bgitulah percakapan yang pernah saya lakukan dengan beberapa sahabat saya, sejak SMA dulu, hingga sekarang.
Yang paling penting adalah kecantikan akhlaq dan agamanya. Setuju? Ya, tentu saja saya sangat setuju. Lantas, apakah karena alasan itu sehingga para muslimah tidak memperhatikan kecantikan jasmaninya…? Bukan berarti tidak merawat apa-apa yang telah dikaruniakan Allah pada kita kan…? Lagipula, sesungguhnya merawat diri itu bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk suami kita nanti.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”.
(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam
Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
Alhamdulillah…sekarang sudah banyak tersedia fasilitas-fasilitas untuk perawatan kecantikan para muslimah. Salah satunya adalah Salon Muslimah. Harganya pun InsyaAllah terjangkau. Tidak perlu setiap hari kesana
. Sebulan sekali pun insyaAllah sudah cukup. Gak sempat ke salon…? Masih ada cara lain insyaAllah. Bisa dengan berolah raga rutin, makan makanan yang bergizi, seperti buah-buahan dan sayuran yang cukup. Serta tak lupa juga dengan membiasakan merawat rambut, wajah dan tubuh kita setiap harinya.
“Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya.”
(HR. Abu Dawud).
Merawat rambut bisa kita dengan menggunakan vitamin rambut, menggunakan shampoo yang cocok dengan rambut kita, tidak menyisirnya dikala rambut masih basah, tidak mengikatnya dengan menggunakan karet gelang. Bgitu pula dengan merawat wajah, dan hal lain yang serupa : )
Nah…tunggu apa lagi untuk tampil cantik?
Ketika Hatiku Berpaling… Agustus 5, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.17 comments

Pertama kali saya membuat blog, saya membuatnya di www.diaryofafra.blogdrive.com, dan sudah beberapa tahun yang lalu, hanya berisi puisi-puisi buatan saya. Sejak itu pulalah, saya makin rajin bikin puisi, padahal dulu saya hanya penikmat puisi, dan waktu itu saya juga berpikir, kayaknya gak banget kalau saya bikin puisi, mungkin bakalan hancur : ) . Namun dugaan saya salah, ternyata banyak teman-teman yang suka dengan puisi saya Alhamdulillah. Tapi pada akhirnya, saya off-kan juga blog itu, dan pindah ke multiply.com. Saya kurang sreg dengan blogdrive, selain itu, ada sebuah kejadian yang membuat saya sedih dan kecewa. Setelah seseorang yang baik hati (insyaAllah) memberitau kepada saya bahwa ada orang lain yang mengikuti (kalau tidak mau dikatakan menjiplak), beberapa puisi saya, dan nama-nama yang saya gunakan di blog saya tersebut
. Namun InsyaAllah sekarang sudah saya maafkan, mari…lupakan masa lalu. Dan songsong masa depan yang lebih cerah~! Hehe… : )
Tapi ternyata, kepindahan saya ke multiply juga mengalami hal yang serupa. Namun kali ini kasusnya bukanlah ada yang menjiplak atau apa, melainkan rasa ketidaknyaman saya nge-blog disitu. Dari diaryofafra.multiply.com, afraafifah.multiply.com, sampai enamserangkai.mutliply.com (yang merupakan blog saya beserta lima orang adik saya).
Pada akhirnya, saya membuat blog untuk yang ketiga kalinya di multiply, beserta kelima adik saya, karena waktu itu saya berpikir, kalau kiranya ada hal-hal yang “mengganggu”, bisa saya cuekin blog tersebut dan biarlah adik-adik saya saja yang memposting dan mengurusnya. Akan tetapi, apa yang terjadi..? setelah berpikir lagi, dan saya pikir nge-blog di MP lebih banyak mudharatnya ketimbang mashlahatnya, akhirnya saya hapus lagi account terakhir saya di multiply.
Selang beberapa lama, saya tidak menjalani hobby saya yang satu ini (baca: ngeblog), saya pun mulai mencari-cari… lahan blog saya yang baru. Setelah cukup lama saya memilah milih, akhirnya…saya putuskan wordpress.com lah sebagai labuhan hati saya yang baru (haduh bahasanyaa..). Dan ternyata, tidak salah pilihan saya kali ini, InsyaAllah. Saya merasa nyaman nge-blog disini, banyak teman-teman baru, dan ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan. Trimakasih buat teman-teman yang sudah sering mampir di blog afra ini yaa…smoga ada manfaat yang bisa diambil dari blog afra ini. Amiin…
Nb: Mohon maaf kepada teman-teman permintaannya belum Afra penuhi agar Afra nge-blog lagi di friendster.com. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa membuat blog yang lebih bermanfaat dari blog yang di friendster : )
Jika Cinta Bisa Memilih… Juni 19, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.20 comments

Subhanallah…saya tertegun setelah membaca tulisan Pak Irvan yang berjudul “Jika Orang Yang Jatuh Cinta Bisa Memilih”. Seolah-olah saya bisa ‘melihat’ sebuah rumah kuno yang berhawa dingin itu, beserta seorang kakek dan kisah yang tersembunyi di dalamnya. Sebuah kisah yang mengharukan, namun juga sangat disayangkan.
Seperti yang telah ditulis oleh Pak Irvan, dalam kisah tersebut dikisahkan tentang seorang kakek yang akrab dipanggil Eyang Gus. Konon, di masa mudanya Eyang Gus pernah jatuh cinta kepada seorang gadis dan menjalin hubungan cinta dengan gadis tersebut. Begitu cintanya Eyang kepada gadis itu hingga dia memutuskan untuk menikahinya. Sayang, niat itu tak kesampaian. Cintanya tak berakhir di pelaminan. Saking cintanya terhadap gadis itu, Eyang tak menjalin hubungan cinta dengan gadis lain lagi. Eyang tak pernah menikah seumur hidupnya.
Pak Irvan juga mengutip sebuah tulisan dari seorang Ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, yang berbunyi : “jika orang yang jatuh cinta bisa memilih maka ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta”. Ya, saya sangat setuju dengan hal itu. Jika saja orang yang jatuh cinta bisa memilih…
Namun ironis kisah Eyang Gus tersebut. Karena menurut saya, cinta itu tak harus memiliki. Jika kita sudah jatuh cinta kepada lawan jenis dan sudah berusaha untuk mendapatkannya, namun jika Allah berkata lain. Maka itulah yang terbaik untuk kita, insyaAllah. Saya selalu yakin akan hal itu. Lantas, mengapa harus hidup membujang seumurhidupnya..? Toh cinta masih bisa ada meski tak memiliki orang yang kita cinta. Dan cinta yang baru pun akan menyambut kita. Yakni, cinta kepada pasangan hidup yang telah ditentukan untuk kita.
Ah…jadi teringat puisi yang pertama kali saya posting diblog saya ini. Memang benar seperti apa kata penyair yang juga telah dituliskan oleh Pak Irvan dalam blognya : “Tak seorang pun di muka bumi yang lebih sengsara dari seorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya. Setiap saat engkau lihat ia selalu menangis, entah karena enggan berpisah atau karena rindu yang membara. Jika sang kekasih jauh, ia menangis karena rindu, jika dekat ia menangis karena takut berpisah.”
Hidup memang penuh misteri, termasuk juga cinta. Karena cinta, adalah bagian dari misteri kehidupan. Wallahu a’lam.
**Untuk lebih lengkapnya, silahkan membaca tulisan Pak Irvan disini**
~*Afra Afifah*~
[Kamar Inspirasi, 20 Juni 2008]
Indahnya Majelis Ilmu Juni 16, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.21 comments

Tabligh Akbar 15 Juni 2008 @ Jakarta Islamic Center
Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam…
Teman, taukah kalian… ? Menghadiri majelis ilmu banyak sekali keutamaannya. Rasanya pun jelas berbeda jika kita “hanya sekedar” membaca-baca buku islam atau membaca artikel-artikel agama dari internet serta mendengarkan kajian para ustad lewat radio, mp3, atau dari internet sekalipun.
Mengapa berbeda…?
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan dunia yang diderita oleh seorang mukmin, maka kelak pada hari Kiamat Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan akhirat yang dideritanya.. Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang berada dalam suatu ke-susahan, maka allah akan memudahkannya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke Surga. Dan tidaklah orang-orang berkumpul pada salah satu dari rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid-masjid), sedang mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketenangan kepada mereka serta diliputi oleh rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat amal perbuatannya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab (keturunan)nya.” [HR. Muslim]
Ya, hati menjadi lebih tenang, semangat pun menjadi tinggi kembali. Secara tidak langsung kita juga termotivasi untuk lebih meningkatkan amalan dan ibadah-ibadah yang kita lakukan, karena kita berkumpul di majelis ilmu, majelisnya orang-orang shaleh dan shalehah. Indah bukan..? Tidak perlu ada beratus orang yang menasehati, tidak perlu ada teguran, tidak perlu ada kebencian, karena yang terpenting adalah suri tauladan. Dan sesungguhnya suri tauladan terbaik adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam…
Carilah teman yang Shaleh dan Shalehah
Keimanan itu bersifat fluktuatif, kadang di atas (dan ketika itulah kita sedang semangat-semangatnya mencari ilmu, beramal, dan berdakwah), namun terkadang juga di bawah ( saat inilah keimanan kita merosot, malas menghadiri majelis ilmu, malas beramal dan meningkatkan amal, apalagi tuk berdakwah..) tetapi itu semua manusiawi. Ya, kita hanyalah manusia biasa, yang tak luput dari lupa, lalai dan dosa. Karena itu, pintar-pintarlah mencari teman dan sahabat yang baik, karena dengan adanya teman dan sahabat yang shaleh dan shalehah, akan senantiasa ada yang mengingatkan kita jika sedang lalai, ada yang dapat memotivasi kita tuk senantiasa bersemangat di Jalan-Nya, dan ada pula yang akhlaq dan ibadahnya subhanallah, yang secara tidak langsung dapat kita jadikan sebagai salah satu contoh yang baik bagi kita.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :
“Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. [Hadits riwayat Bukhari]
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Alhamdulillah, hati saya masih digerakkan untuk menghadiri Majelis-Majelis Ilmu yang ada… dan semoga hati teman-teman juga selalu digerakkan oleh-Nya untuk menghadiri majelis-majelis Ilmu… amiin..
~*Afra Afifah*~
[ Jakarta: Ba’da Shubuh 17 Juni 2008]




























