Dalam Doaku Juni 30, 2008
Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.Tags: Sapardi Djoko Damono
25 comments

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…
Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…
~*Sapardi Djoko Damono*~
[ Kumpulan Sajak "Hujan Bulan Juni", 1989 ]
Sonet: X Juni 30, 2008
Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.Tags: Sapardi Djoko Damono
8 comments

Siapa menggores di langit biru
Siapa meretas di awan lalu
Siapa mengkristal kabut itu
Siapa mengertap di bunga layu
Siapa cerna di warna ungu
Siapa bernafas di detak waktu
Siapa berkelebat setiap kubuka pintu
Siapa mencair di bawah pandangku
Siapa terucap di celah kata-kataku
Siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku
Siapa tiba menjemputku berburu
Siapa tiba-tiba menyibak cadarku
Siapa meledak dalam diriku
: siapa AKU
~*Sapardi Djoko Damono*~
[ 1968 ]
Untuk Sahabatku… Juni 28, 2008
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.16 comments

Waktu itu, disaat kita bercengkrama sambil ditemani suara hujan…
Kau berkata padaku…
Bahwa smuanya tlah berbeda…
“Aku bukanlah aku yang dulu…
Tak perlu kau tangisi…
Dan tak perlu kau sesali perubahanku…
Karena aku, tak pantas untuk kau tangisi…
Karena aku, tak pantas untuk mendapatkan air matamu…
Air matamu terlalu mahal jika hanya sekedar tuk menangisiku
Inilah aku…
Dan sungguh… aku berbeda…
Aku… bukanlah seseorang yang dulu kau kenal…”
***
Saat itu pula…aku ingin menghilang ditengah hujan…
Agar kau tidak mengetahui…
Bahwa aku menangis karenamu…
***
Sungguh aku mencintaimu, sahabatku…
~*Afra Afifah*~
[ Jakarta, 29 Juni 2008]
~Ketika aku merindukan dirimu yang dulu~
Penanti Pelangi Juni 28, 2008
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.11 comments

Sedari subuh kunanti…
Namun sosokmu tetap saja bak ditelan bumi…
Siang tadi hujan turun…
Tapi…aku tak melihat pelangi…
Dan sekarang…
Disini… ditempat ini, aku kan terus kuatkan hati…
Seperti dirimu yang senantiasa menguatkan hati…
Sambil berucap…
“Setelah hujan, pasti kan ada pelangi…”
***
Ya, mungkin hujan dilain hari…
~*Afra Afifah*~
[Kamar Inspirasi, 29 Juni 2008]
Ketika Hujan… Juni 27, 2008
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.9 comments

Ketika hujan turun…
Aku pun memohon kepada Dzat yang memilikiku…
Allah…
Jagalah ayah dan ibuku…
~*Afra Afifah*~
[ Jakarta, 16 Juni 2008]
Jika Cinta Bisa Memilih… Juni 19, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.21 comments

Subhanallah…saya tertegun setelah membaca tulisan Pak Irvan yang berjudul “Jika Orang Yang Jatuh Cinta Bisa Memilih”. Seolah-olah saya bisa ‘melihat’ sebuah rumah kuno yang berhawa dingin itu, beserta seorang kakek dan kisah yang tersembunyi di dalamnya. Sebuah kisah yang mengharukan, namun juga sangat disayangkan.
Seperti yang telah ditulis oleh Pak Irvan, dalam kisah tersebut dikisahkan tentang seorang kakek yang akrab dipanggil Eyang Gus. Konon, di masa mudanya Eyang Gus pernah jatuh cinta kepada seorang gadis dan menjalin hubungan cinta dengan gadis tersebut. Begitu cintanya Eyang kepada gadis itu hingga dia memutuskan untuk menikahinya. Sayang, niat itu tak kesampaian. Cintanya tak berakhir di pelaminan. Saking cintanya terhadap gadis itu, Eyang tak menjalin hubungan cinta dengan gadis lain lagi. Eyang tak pernah menikah seumur hidupnya.
Pak Irvan juga mengutip sebuah tulisan dari seorang Ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, yang berbunyi : “jika orang yang jatuh cinta bisa memilih maka ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta”. Ya, saya sangat setuju dengan hal itu. Jika saja orang yang jatuh cinta bisa memilih…
Namun ironis kisah Eyang Gus tersebut. Karena menurut saya, cinta itu tak harus memiliki. Jika kita sudah jatuh cinta kepada lawan jenis dan sudah berusaha untuk mendapatkannya, namun jika Allah berkata lain. Maka itulah yang terbaik untuk kita, insyaAllah. Saya selalu yakin akan hal itu. Lantas, mengapa harus hidup membujang seumurhidupnya..? Toh cinta masih bisa ada meski tak memiliki orang yang kita cinta. Dan cinta yang baru pun akan menyambut kita. Yakni, cinta kepada pasangan hidup yang telah ditentukan untuk kita.
Ah…jadi teringat puisi yang pertama kali saya posting diblog saya ini. Memang benar seperti apa kata penyair yang juga telah dituliskan oleh Pak Irvan dalam blognya : “Tak seorang pun di muka bumi yang lebih sengsara dari seorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya. Setiap saat engkau lihat ia selalu menangis, entah karena enggan berpisah atau karena rindu yang membara. Jika sang kekasih jauh, ia menangis karena rindu, jika dekat ia menangis karena takut berpisah.”
Hidup memang penuh misteri, termasuk juga cinta. Karena cinta, adalah bagian dari misteri kehidupan. Wallahu a’lam.
**Untuk lebih lengkapnya, silahkan membaca tulisan Pak Irvan disini**
~*Afra Afifah*~
[Kamar Inspirasi, 20 Juni 2008]
Indahnya Majelis Ilmu Juni 16, 2008
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.22 comments

Tabligh Akbar 15 Juni 2008 @ Jakarta Islamic Center
Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam…
Teman, taukah kalian… ? Menghadiri majelis ilmu banyak sekali keutamaannya. Rasanya pun jelas berbeda jika kita “hanya sekedar” membaca-baca buku islam atau membaca artikel-artikel agama dari internet serta mendengarkan kajian para ustad lewat radio, mp3, atau dari internet sekalipun.
Mengapa berbeda…?
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan dunia yang diderita oleh seorang mukmin, maka kelak pada hari Kiamat Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan akhirat yang dideritanya.. Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang berada dalam suatu ke-susahan, maka allah akan memudahkannya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke Surga. Dan tidaklah orang-orang berkumpul pada salah satu dari rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid-masjid), sedang mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketenangan kepada mereka serta diliputi oleh rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat amal perbuatannya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab (keturunan)nya.” [HR. Muslim]
Ya, hati menjadi lebih tenang, semangat pun menjadi tinggi kembali. Secara tidak langsung kita juga termotivasi untuk lebih meningkatkan amalan dan ibadah-ibadah yang kita lakukan, karena kita berkumpul di majelis ilmu, majelisnya orang-orang shaleh dan shalehah. Indah bukan..? Tidak perlu ada beratus orang yang menasehati, tidak perlu ada teguran, tidak perlu ada kebencian, karena yang terpenting adalah suri tauladan. Dan sesungguhnya suri tauladan terbaik adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam…
Carilah teman yang Shaleh dan Shalehah
Keimanan itu bersifat fluktuatif, kadang di atas (dan ketika itulah kita sedang semangat-semangatnya mencari ilmu, beramal, dan berdakwah), namun terkadang juga di bawah ( saat inilah keimanan kita merosot, malas menghadiri majelis ilmu, malas beramal dan meningkatkan amal, apalagi tuk berdakwah..) tetapi itu semua manusiawi. Ya, kita hanyalah manusia biasa, yang tak luput dari lupa, lalai dan dosa. Karena itu, pintar-pintarlah mencari teman dan sahabat yang baik, karena dengan adanya teman dan sahabat yang shaleh dan shalehah, akan senantiasa ada yang mengingatkan kita jika sedang lalai, ada yang dapat memotivasi kita tuk senantiasa bersemangat di Jalan-Nya, dan ada pula yang akhlaq dan ibadahnya subhanallah, yang secara tidak langsung dapat kita jadikan sebagai salah satu contoh yang baik bagi kita.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :
“Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. [Hadits riwayat Bukhari]
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Alhamdulillah, hati saya masih digerakkan untuk menghadiri Majelis-Majelis Ilmu yang ada… dan semoga hati teman-teman juga selalu digerakkan oleh-Nya untuk menghadiri majelis-majelis Ilmu… amiin..
~*Afra Afifah*~
[ Jakarta: Ba’da Shubuh 17 Juni 2008]



























