Ayah Bunda September 16, 2009
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.19 comments

MasyaAllah, sungguh masih tidak menyangka, sebentar lagi saya dan suami akan menjadi orang tua. Rasanya, hmm bingung saya bagaimana harus menuliskannya. Campur-campur. Alhamdulillah di umur 20, anak saya sebentar lagi (tinggal hitungan hari, insyaAllah) akan lahir. Sedangkan suami tercinta, di umurnya yang ke-25, insyaAllah akan mempunyai jagoan kecilnya. Subhanallah, sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh sebuah puisi terindah sekalipun.
Seiring menunggu kehadiran buah hati, kami pun sudah memikirkan, panggilan apa yang akan di tujukan pada kami nantinya. Dari awal, suami saya ingin dipanggil “Abi”, padahal, saya ingin dipanggil “Bunda”. Abi-Bunda? Rasanya gak klop ya? Hehe.. akhirnya, saya pun mengalah dan nurut dengan suami…, dengan bersedia untuk dipanggil “Ummi”.
Hmmm…namun, seiring berjalannya waktu…entah mengapa, rasa ketidaknyamanan atau istilah kerennya “gak sreg” untuk dipanggil “Ummi” makin menjadi-jadi…meski saya pribadi senang, bila suami dipanggil Abi, tapi saya tidak sreg untuk dipanggil Ummi. Karena menurut saya, panggilan tersebut –maaf bagi yang tidak berkenan-, mrusak tata bahasa ^^. Kenapa merusak? Okelah, kalo anak kami yang memanggil ummi-abi, yang artinya ibuku dan ayahku. Tapi, orang lain tentunya juga akan memanggil ke saya dan suami, “ummi-abi”. Misalnya : “dede cakep, umminya kemana?” kalau diterjemahkanà”dede cakep, ibuku-nya kemana?”. Aiiih, itulah yang membuat saya gak sreg sampai sekarang, gak pas gitu kalau buat kita, orang Indonesia. Memang sih, panggilan “Ummi” sudah lazim di Indonesia yang maksudnya adalah“Ibu”, tapi mungkin karena saya orangnya agak-agak perfeksionis, tetap menganggap hal itu adalah suatu kesalahan
(*panggilan yang salah koq di “lazim-lazim”kan
) –maaf bagi yang tidak sependapat
-
Alhamdulillah, dibulan-bulan terakhir menjelang melahirkan, suami tercinta akhirnya mengalah, dan bersedia untuk dipanggil “Ayah”, yang tadinya, suami merasa panggilan “ayah” berasa “tua” di telinganya..hihi.. padahal menurut saya sih engga
. Sekarang, suami malah senang memanggil-manggil dirinya dengan “ayah” ^_^
Dan kini, kami pun siap menanti kehadiran buah hati, sembari menanti, panggilan “Ayah&Bunda” yang keluar dari mulut mungilnya nanti, insyaAllah
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 16 September 2009]
Tuliskan Saja~! Agustus 31, 2009
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.3 comments

Saya memang bukan seorang penulis buku terkenal, boro-boro menjadi “penulis buku terkenal”, menjadi “penulis buku” saja belum*. Menulis bagi saya adalah sama saja dengan meninggalkan jejak-jejak sejarah. Karena setiap apa yang saya tulis, bisa dibaca, dicetak, disimpan, dan yang paling penting adalah membuktikan bahwa saya pernah hidup di dunia ini.
Sering kali ide untuk menulis, apapun itu, baik itu puisi, ide, pengalaman hidup, dll. Tiba-tiba muncul begitu saja, namun juga bisa lenyap, dalam hitungan detik. Maka dari itu, saya pribadi sering menuliskan puisi-puisi saya di Hp. Jika tiba-tiba sesuatu yang bernama inspirasi itu datang.
Ya! Dan ternyata memang sebaiknya begitu. Jangan di tunda-tunda! (kalau ada waktu luang sih
), jika tidak, maka seperti yang saya ketik tadi, ide itu bisa lenyap begitu saja. Jangan takut untuk salah menulis, isi yang tidak karuan, ataupun berapa banyak yang akan ditulis. Tuangkan saja semua ide yang ada di pikirian kedalam tulisan. Tulis, dan tulis saja! Toh, saya yakin, para penulis besar dan buku-buku mereka telah beredar dimana-dimana, sebagian besar mereka belajar dari 0, di tolak di berbagai penerbit buku, Koran, maupun majalah. Memang tidak ada yang instan di dunia ini. Berlatih dan berlatihlah terus. Semoga suatu saat nanti, dengan tulisan, kita bisa mengubah dunia.
(*semoga suatu saat nanti saya bisa menulis sebuah buku)
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 31 Agustus 2009]
Dan Hujan pun Turun… Juli 29, 2009
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.10 comments

Dan hujan pun turun…
Di malam sebelum kita berpisah…
Mungkin hujan tahu… ,isi hati kita saat itu…
.
Dan hujan pun turun…
Menemani kepergianmu…
.
Dan hujan pun turun…
Menemani hari-hariku, yang sepi tanpamu…
~*Afra Afifah*~
[Jakarta, 22 Juli 2009]
Untuk Suamiku… Juli 29, 2009
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.5 comments

Hingga detik ini…
Aku masih tak menyangka…
Bahwa dirimulah yang kan menjadi kekasihku…
Sahabat sejati…
Suami…dan pemimpinku…
.
Aku masih tak menyangka…
Bahwa dirimulah yang kan mengisi hari-hariku…
Melengkapi kekuranganku…
Dan yang kan slalu setia tuk membimbingku…
.
Dan pada akhirnya, kau pun datang bersama datangnya musim hujan yang selalu kunantikan…
Yang selalu kurindukan…
Seperti aku, yang selalu merindukanmu…
Sungguh…
~*Afra Afifah*~
[Ditulis ulang di Jakarta, 30 Juli 2009, ketika puisi ini tersimpan sekian lama di Hp ku]
Sajak Desember Juni 29, 2009
Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.Tags: Sapardi Djoko Damono
20 comments

Kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
Ketika daun penanggalan gugur
Lewat tengah malam…
Kemudian kuhitung
Hutang-hutangku pada-Mu…
Mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar…
dari celah-celah jendela…
Ada yang terbaring di kursi… letih sekali…
Masih patutkah kuhitung segala milikku…
Selembar celana dan selembar baju…
Ketika kusebut berulang nama-Mu;
taram temaram bayang, bianglala itu…
~*Sapardi Djoko Damono*~
-1961-

































