Ke Taman Matahari~! :) April 22, 2013
Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.Tags: catatan perjalanan
6 comments
Pada tanggal 16 Februari 2013 yang lalu, mertua saya beserta adik-adik ipar dari Garut, datang ke rumah kami di Depok. Karena keesokan harinya 17 Februari, adik saya Dalila Sadida akan melangsungkan pernikahan. Mertua saya senang sekali bisa datang nengokin cucu-cucunya
. Dan memang, setelah acara pernikahan adik saya, mertua sudah berencana untuk mengajak kami jalan-jalan. Maka hari senin tanggal 18 Februari, suami, begitupun dengan mertua saya sudah mengambil cuti sehari untuk liburan.
Awalnya, mertua ingin mengajak ke TMII, saya sih OK-OK saja, namanya juga diajak jalan-jalan. Hayuk aja. Tapi, saya tetap memberikan beberapa referensi alternatif dan memberikan gambaran apa saja yang ada di TMII, dan tempat liburan lain. Kenapa ingin ngajak ke TMII? maklum, karena mertua asli Garut dan tinggal di Garut, belum pernah ke TMII bgitupun dengan suami saya. Jadi pengen liat di TMII itu ada apa aja. Tentu saya bilang di TMII itu kita bakal liat anjungan rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia, kalau yang asik untuk anak-anak sih ke Museum IPTEK, dll.
Saya juga memberikan gambaran kalau hari senin itu pagi-pagi pada jam kerja ya, sabar aja, kalau Jakarta macet. Atau, kita mau pergi ke luar Jakarta (tapi yang lokasinya tidak terlalu jauh?). Jadi, lebih enak jauh sedikit tapi tidak macet dibanding jarak dekat tapi terjebak macet. Setelah memberikan berbagai referensi ke suami, mertua dan adik-adik ipar dari website http://www.LiburanAnak.com dan ternyata tempat-tempat yang ingin kami kunjungi malah kelewat jauh dan sudah biasa (menawarkan suasana pedesaan, hehe ini mah pulang ke Garut aja balik ke suasana pedesaan lagi
) . Tiba-tiba saya teringat lokasi wisata yang tidak terlalu jauh,di Gadog, dan kami semua juga belum pernah berkunjung kesana: Taman Matahari.
Alhamdulillah, kami tepat memilih hari untuk berlibur, yakni hari senin. Perjalanan menuju puncak, lancar jaya. Di Taman Matahari pun, sedang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Jadi, tidak ada antrian, tidak ada pula melihat lautan manusia.
Karena Taman Matahari itu wisata air, jadi ada baiknya selain anak-anak, orang tua yang mendampingi juga membawa baju salin. Saya hanya membawa kaos kaki cadangan, mestinya saya bawa salin juga karena mau tidak mau, adaa aja yang membuat abaya kita basah.
Kalau tidak ingin repot membawa bekal dari rumah, di Taman Matahari juga terdapat banyak tempat makan yang cukup enak masakannya dan masih tergolong murah. Dan ternyata, di Taman Matahari juga ada Fasilitas RAFTING!!! Saya langsung antusias, tapi qodarullah saya tidak membawa baju salin, hiks. Jadi tidak bisa nyobain rafting di Taman Matahari deh
This slideshow requires JavaScript.
So far, Taman Matahari tempat yang cukup asik untuk berwisata keluarga (kalau membawa anak-anak), tapi datangnya ketika sepi tentu saja bukan pada saat musim liburan karena pasti penuh dan sesak sekali.
Pulangnya, saya membeli oleh-oleh kerajinan dari kayu berbentuk vas bunga dengan bunga-bunganya yang cantik untuk Ibu saya, dan satu lagi untuk Ibu mertua.
Liburan yang menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, Alhamdulillah.
~*Afra Afifah*~
[Waktu Subuh, Tugu Tanah Baru Town House]
Bagaimana Aku Tidak Mencintaimu…? April 9, 2013
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.Tags: pernikahan
3 comments

bagaimana aku tidak mencintaimu?
bahkan sebelum berangkat ke kantor masih menyempatkan untuk membantuku mencuci piring dan mencuci pakaian?
.
bagaimana aku tidak mencintaimu?
bahkan ketika anak sulung kita mengompol dicelana, sedang aku tau kamu sudah telat ke kantor, tapi kamu tetap ingin mengambil alih tugasku?
.
bagaimana aku tidak mencintaimu?
jarak masjid sunnah itu 10 menit naik motor, tapi kamu bersemangat sekali untuk shalat berjamaah disana..
.
bagaimana aku tidak mencintaimu?
sepulang kerja masih menyempatkan mengajak main anak-anak kita..
.
bagaimana aku tidak mencintaimu..?
ah…aku sudah kehabisan kata-kata.. perbuatanmu, sikapmu, perhatian yang kamu berikan..
.
jazakallahu khayran zaujiy.. barakallahufik..
semoga Allah senantiasa memudahkan smua urusanmu..
aku mencintaimu karena Allah..
.
~*Afra Afifah*~
[teruntuk ayah anak-anakku, Sofyan Nugraha]
.
-Tugu Tanah Baru, Depok-
Muslim Wedding Organizer Maret 28, 2013
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini, Lembar Kehidupan.Tags: Bisnis, pernikahan, wedding organizer
2 comments
Persiapan pernikahan Farsa dan Dida kurang lebih H- sebulan. Bukan dari jarak lamaran ke pernikahan sebulan , bukan. Melainkan karena kesibukkan mama dan Dida, jadinya baru bisa diurus H- sebulan. Sudah dari jauh hari saya sarankan untuk nyicil dalam mempersiapkannya, tapi ya mau gimana, Dida sibuk PKL di PP Darul Quran di Cikarang, sedang mama sibuk dengan urusan sekolah. Kalau saya? tentu saja ga bisa gerak sendiri karena pastinya perlu diskusi dulu sama dida dan mama.
Akhirnya setelah perbincangan dengan dida dan mama. Kami memutuskan untuk memakai Wedding Organizer (WO) dalam pernikahan Dida. Karena tidak mungkin juga kalau ngurus sendiri semua seperti waktu pernikahan saya. Sebab waktu sudah H- sebulan, dan semuanya masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Alhamdulillah, WO nya ngertiin banget..semua tergantung permintaan customer, dan tentunya budget customer. Dari tim WO sendiri, mereka banyak memberikan masukan kepada kita.
Bersadarkan pengalaman waktu nikahan saya dulu, dan tidak pakai WO. Sebenarnya biayanya hampir sama dengan pakai WO. Kenapa hampir sama? Ya karena kami dulu mempersiapkannya dalam waktu singkat. Jarak lamaran-pernikahan hanya sebulan. Mesti mikirin sendiri semua tentang pernikahan, berikut “perintilan2nya”. Gimana bajunya, makanannya, dll. Kebayangkan ribetnya? Makanya kenapa kami putuskan untuk pakai WO saja. Kecuali, teman-teman yang mau nikah dan tidak mau pakai WO, sudah tau percis, perkiraan biaya yang akan di keluarkan, serta mempunyai banyak link untuk menekan biaya. Kalau tidak? Bisa jadi yang tidak pakai WO bisa lebih mahal dibanding pakai WO lho
Ketika memutuskan memakai WO. Saya langsung menulis daftar pertanyaan untuk ditanyakan dan didiskusikan dengan tim WO. Buatlah daftar pertanyaan ini secara terperinci, karena justru “perintilan-perintilan” pernikahan itu yang cukup merepotkan mengurusnya. Contoh dari daftar pertanyaan yang saya tulis adalah:
- Jilbab yang digunakan pengantin wanita, kami ingin yang panjang, menutup dada, pun dibagian belakang panjang, apakah bisa? (*saat itu adik saya mencontohkan ingin jilbab model wanita melayu)
- Pengantin wanita tidak menggunakan sanggul, apakah bisa?
- Pernikahan ingin di hijab, apakah bisa dan seperti apa model hijabnya?
- Baju ingin bertemakan broken white dan abu-abu
- Baju adik-kk pengantin ingin gamis, tidak kebaya
- Pilihan makanan seperti apa?
- Pelaminan bisa milih seperti apa?
- Dll
Intinya, baiknya jauh-jauh hari jalin komunikasi yang baik dengan WO, dan ingatkan tim WO keinginan kita seperti apa. Alhamdulillah pernikahan adik saya berlangsung lancar meski subuhnya sempat turun hujan. Saya sendiri datang bersama suami, anak-anak beserta mertua dan adik-adik ipar yang datang dari garut H-1 pernikahan Farsa dan Dida.
This slideshow requires JavaScript.
Bila teman-teman ada yang ingin menikah dan ingin menggunakan WO yang kami gunakan. Bisa hubungi saya ya ^^ via twitter @afraafifah atau Facebook http://www.facebook.com/afra.afifah , karena sekarang Ibu saya tergabung dalam marketing WO tsb. Hehe
Salam sukses!
Afra Afifah
[Tanah Baru Depok]
Dibalik Cerita [Farsa & Dida] Maret 13, 2013
Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.Tags: pernikahan
4 comments
Alhamdulillah, adikku yang pertama, Dalila Sadida telah menikah dengan Farsa Septia Adi Nugroho, seorang ikhwan bersuku Jawa kelahiran 1987. Sebelumnya sih, nda nyangka klo bakal punya adik ipar orang Jawa asli. Hehe. Tapi suku nda masalah, mau suku sunda, betawi , minang ,batak, dll asal si Dida-nya mau sama orang itu ya its ok
Jagi begini, saya sering mikirin gitu ya..ini kapan adik-adik saya mau nikah?
hehe. Kayaknya waktu di SMA saya udah sering baca buku-buku nikah, sharing tanya ini itu soal pernikahan, antusias tinggi kalo ngebahas pernikahan :p dan diawal kuliah juga sudah suka ikut seminar pernikahan (nah yaa ketauan ya!)
loh iya gak apa-apa, ini saya jawab jujur ko. Karena menikah itu butuh ilmu, dan ilmu bisa kita cari dari buku, sharing orang-orang yang sudah berpengalaman dan bisa juga didapat dari mengikuti seminar pernikahan
. Memang , pada kenyataannya praktek itu gak semudah teorinya. Tapi tetap saja ilmu itu dibutuhkan, teori dibutuhkan untuk menjalankan “test praktek” kita bukan? Kalau gak punya panduan, kalau gak punya ilmu, alhasil bisa banyak problem pernikahan yang sulit untuk kita atasi. Karena ga ngerti mesti gimana cara menyelesaikannya.
Oke, balik lagi ke adik-adik saya. Nah itu kan tadi sedikit cerita saya ya. Masalahnyaaa, adik-adik saya itu BEDAAA, gak kayak kakaknya yang satu ini haha
Tiap saya tanya kapan nikah, mereka lebih memilih menghindar atau jawab sekenanya..
intinya? Gak antusias ciyn! Kenapa ya?
Ini jujur yang membuat saya cukup bingung. Padahal contoh paling baik adalah ibu kami, yang nikah setelah lulus SMA, di umur bliau yang baru 18th. Sedangkan saya menikah umur 20awal (berarti udah kemunduran dari mama kan
)
Yah, tapi saya kalau ada kesempatan tetap suka isenk bertanya. Jadi kapan mau nikah?
Atau, Eh, waktu kk umur 20 awal kk udah nikah lohhh. Menjelang umur 21 kk udah melahirkan Khalid loh. Dan biasanya mereka (terutama Dida dan Sausan) sudah mesem-mesem aja ditanya begitu dan ktawa-tawa gak jelas *hadeeh *tepokjidat
Sampai suatu hari, pada akhirnya Dida bilang serius kalau dia sudah siap. Siap dalam artian siap menjalani proses ta’aruf. Alhamdulillah. Ya, darisitulah saya tanya kesana sini. Teman-teman saya. Akhirnya kepengen nikah juga dia :p
Sebelumnya saya sudah jelaskan proses ta’aruf itu tidaklah proses yang mudah, karena dibutuhkan tenaga, pikiran, perasaan, juga dana dan, tentu saja: waktu. Jadi, sabar aja kalau emang belum jodoh. Prinsipnya:
kalau ngeliat CV suka , dalam artian OKE nih CVnya.
Ya lanjut nazhor.
klo nazhor trus ga suka? Yaudah ga usah dipaksa..cukup sampai disitu.
Kalo setelah nazhor masih tetep yakin, atau tambah sreg, atau siap-siap aja menerima calon, ya lanjut minta yang bersangkutan untuk datang menemuni ayah si wanita. Dan tentu sambil KEPO sana sini hehe saya pakai bahasa KEPO biar mudah ya. Ih kok KEPO??
Yaiyalahh masa yaiya dong?? Ya KEPO calon pasangan sebelum nikah hukumnya WAJIB lah, masa kita mau trima gitu aja?? Emangnya nikah itu kayak membeli kucing dalam karung?? Asal milih, yak dapat! Trus, nikah deh!? Yak nggak seperti itu tentunya. Pastinya kita mesti selidiki dulu, asal-usul sang calon, akhlaq sang calon, pendidikan, tingkat keilmuannya, gimana perilakunya dirumahnya, gimana ia memperlakukan ibunya, atau saudara perempuannya? (kalau punya) dll. Ingat, KEPO sang calon sebelum nikah itu PENTING banget! Kamu gak mau menyesal seumur hidup kan jikalau dapat pasangan hidup yang SALAH? Tentu smuanya sudah takdir Allah, tapi manusia TETAP diwajibkan untuk berusaha sebelum takdir terjadi, bukan?
Yah jadi karena itu pula, saya, sebagai kakaknya dida yang paling sering KEPO-in calonnya dida. Habis, yang saya liat, malah kok yang mau nikah gitu2 aja..dalam artian KEPO-nya kurang maksimal
jadilah saya yang mesti KEPO maksimal. Beruntung kita hidup di zaman internet. Mau nyari tau mudah, bisa dari account sosmed, blog, atau, ya postingan apapun yang terkait dengan seseorang di Internet.
Saya tidak perlu cerita banyak ya, karena proses ta’aruf bagi saya cukup privacy dan cukup orang-orang yang terkait yang cukup tau. Jadi, saya dapat link Farsa ini dari salah satu sahabat saya di SMA, yang entah darimana dia kenal banyak ikhwan-ikhwan jogja. Saya juga ga nanya. Intinya, saya sudah pernah baca CV Farsa ini. Tapi waktu itu belum ditawarkan ke adik saya. Selang beberapa lama, sahabat dunia maya saya, yang waktu itu baru menikah dan saya belum pernah temui. Ngobrol kalau ada teman suaminya yang siap nikah. Dia sebutkan ciri-cirinya. Gak lengkap, secara umum saja. Tapi kok tiba-tiba saya teringat sebuah nama ya? (ya Farsa ini). Saya asal tebak saja, hey ***, anak UGM yang dibekasi itu, huruf depannya “F” bukan? Sontaklah ia kaget “loh iyaaa ..afra tau dari mana?” Makin smangat saya, namanya panjang gak?? FSAN?? Dan, yah, sahabat saya makin kaget “HAH?? Iya BENER ih afra tau darimana???” HAHAHAHHA saya bilang CV nya udah ada di saya beberapa waktu lalu, tapi emang tadinya bukan untuk adik saya. Dan benar-benar saya juga tidak kepikiran untuk “ngasi” ke adik saya sebelumnya.
Berhubung suaminya sahabat saya itu kenal baik dengan Farsa, maka saya berani menawarkan ke adik saya. Karena, ya bisa di KEPO. Bingung saya klo menjodohkan orang, tapi saya-nya saja tidak kenal, atau teman2 dekat saya tidak ada yang kenal. Saya gak mau asal menjodohkan orang. Tentu saja saya mau yang terbaik untuk dia. Terutama seseorang yang bisa membimbing adik saya ke arah kebaikan.
Oke, makin saya persingkat, intinya adik saya sudah baca CV nya, dan nazhornya dirumah ortu kami. Dia langsung datang, nazhor, yang qodarullah pada hari Farsa datang untuk nazhor itu, papa saya mengalami kecelakaan motor :’) tapi Alhamdulillah masih bisa terima tamu (tetap smangat loh ya papa ngajak ngobrol si Farsa, saya sendiri sampe heran yang nunggu dikamar aja).
Ya..trus mereka mau lanjut .. nikah deh.. (tentu saja ga langsung nikah tapi melalui proses tanya-jawab , diskusi ttgl banyak hal berhari-hari, lamaran, dll dll dll (saking banyaknya dll-nya sampe 3x)
Alhamdulillah berjodoh
~*Afra Afifah*~
[Tugu Tanah Baru, Waktu Subuh]
*all pict by google
Sejak Kapan Berteman dengan Internet? [Part 1] Februari 8, 2013
Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.4 comments
Sejak kapan berteman dengan Internet?
Hmm,pertanyaan yang bagus. Seingat saya, dari kelas 3 SMP saya sudah aktif berselancar di dunia maya. Entah apa sebelum itu tapi saya ingatnya pas kelas 3 SMP, anggap saja sejak kelas 3 kalau begitu >_< . Mula berkenalan karena kk sepupu saya, Uni Shanty, yang ketika itu masih tinggal di Jepang dalam rangka menemai sang suami menyelesaikan studi S3-nya, mengirimkan hadiah sebuah modem ke papa saya. Saat itu modem masih jarang, tidak mudah ditemui seperti sekarang ini. Bentuknya masih kaku, kotak persegi panjang berwarna putih, bunyinya pun yang masih…teeeeet..tot tet tot (saya bingung gimana mendeskripsikan suaranya)
intinya, modem tersebut nyambung dengan line telfon. Tidak bisa kita gunakan secara unlimited. Bisa-bisa tagihan telfon ortu saya membengkak. Pakai internet pun juga kalau ada keperluan yang sangat penting saja. Bukan untuk browsing santai.
Tapi memang dasar rasa penasaran saya tinggi, terkadang saya suka pakai modem tersebut untuk iseng. Taukan apa hal yang terjadi setelahnya? Jelas mama saya “ngomel2” *tandakutip* memarahi saya. “afraaa..ntar tagihan telfon mahaal” yah kurang lebih seperti itu reaksi mama,..hehehe maafkan anakmu ini ma
Oke, jadi cara lain yang saya gunakan saat itu adalah: Buka internet–> bunyi brisik–> konek –> dan ngebrowsing situs-situs yang mau saya buka dan baca artikelnya.. kemudian setelah buka banyak tab, lalu saya matikan koneksi. So, saya bisa baca spuasnya tanpa kena marah sama mama hohooho
Eh ya, dulu browsernya masih pake internet explorer loh haha Mozilla belum terkenal juga seperti sekarang.
Kemudian karena merasa ndak puas internetan di rumah, saya mulai mencari warnet untk nge-net. Meski judulnya gak jelas ke warnet mau ngapain! Dasar anak SMP! Waktu itu, warnet baru mau mulai menjamur. Untungnya saya gak nge-game loh. Ke warnet biasanya saya chatting, buka situs-situs islam seperti MyQuran.com , Ukhuwah.or.id [yang ternyata setelah saya cek, situs ini sudah tidak ada lagi :’) ] , buka email. By the way sejak saya aktif di dunia maya waktu SMP itu, saya sudah sering dapat email “mba afra..saya minta dong tips n trik supaya bisa pintar menulis seperti mba!” Ya ya, saya sudah dikira Afifah Afra Amatullah, nama pena-nya mba Yeni MS, sang penulis yang cerpen-cerpen dan novelnya sering saya baca di majalah An-Nida. Majalah langganan saya ketika SMP, yang pemimpin redaksinya masih mba Dian Yasmina Fajri. Ngomong-ngomong, asik juga bernostalgia disini
Saat itu, saya chatting masih di mIRC , meski saya kurang suka chat disana..karena gak jelas orang-orangnya (random banget klo kata anak jaman skrg :p ) . Saya beralih ke yahoomessenger (chat room) dan ternyata sama randomnya meski saya sudah masuk ke islam chat room. Weleh! Ternyata Banyak orang yang tidak baik diluar sana kawan! . Tetap waspada! Tapi untunglah saya tidak pernah yang macem-macem. Saya jadi merasa nyaman kalau chat di situs islam, seperti myquran atau ukhuwah. Hey, dulu saya belum tau situs-situs seperti muslim.or.id atau muslimah.or.id dan sejenisnya (*ya emang belum ada situsnya juga sih
hehe)
Nick name chat saya waktu itu : Aisha_Zahra, midori_quaff, ukhty green, hahaha yess..dulu saya ckup “freak” dengan warna hijau. Teman-teman saya tau sekali saya sangat cinta warna hijau. Kalau sekarang sih biasa-biasa aja,sudah suka banyak warna. Aisha_Zahra itu nick terinspirasi dari novel ayat-ayat cinta (sebelum di filmkan) ini nick name pas sudah SMA. Dari tokoh aisha dalam novel tsb :p Midori_quaff terinspirasi dari kata midori (dlm bahasa jepang yang artinya hijau, dan quaff itu dari quaffle, bola dalam permainan quidditch-nya Harry Potter :p oh yah, sepertinya saya kebanyakan baca novel saat itu. Hehehe. Ukhty green, yang ini standart banget ya, gak usah diartikan juga udah pada tau kan maksudnya apa
Karena sering chat di Myquran, jadi kenal beberapa teman..tapi saya lupa nick mereka apa. Saya juga pernah kopdaran, waktu itu saya masih SMP. Saya kopdaran dengan ka awie dan istrinya, apa kabar ka?
ternyata istrinya ka awie adalah teman tante saya (adiknya mama) di Akademi Perusahaan di ciganjur. Dunia sempit ya? Karena teman tante saya juga, maka saya berani kopdaran. Apalagi mereka sudah menikah dan saya juga minta ditemani adik saya. Alhamdulillah..dipikir-pikir.. berasa sekali penjagaan Allah ke saya.. saya tidak kopdaran dengan ikhwan tidak dikenal.. minta ditemani adik.. dan jelas lebih pengen bertemu dan ngobrol dengan istri ka awie, mba muji. Masa-masa labil jaman SMP-SMA itu saya merasa sangat butuh bimbingan seorang kakak. Karena saya anak pertama. Tau sendiri gimana labilnya anak seusia SMP dan SMA -_- . namun sekarang, saya sudah lama kehilangan kontak dengan mereka, mudah-mudahan mereka membaca tulisan saya ini, bahwa saya tidak melupakan mereka. Dari yang waktu itu ka muji lagi hamil anak pertama. Lalu saya datang ketika kelahiran anak pertama (apa anak kedua ya, lupa. hiks) terus anak kedua. Sekarang anaknya sudah brp ya mba?^^
Temen chat lain di ukhuwah.or.id yang kenal sejak lama yaitu si pemenang pertama wirausaha muda mandiri, tahun 2009, yang punya bisnis ini dan itu. Gak perlu saya sebut nama ya, ntar dia ke-GR-an. Yang jelas, pertemanan kami dimulai sejak saat itu.
Dan sejak kelas 2 SMA saya sudah mulai ikut kajian islam yang haq, insyaallah. Sejak aktif di ROHIS SMA pula saya sudah jarang chat di myquran dan ukhuwah. Udah lama sekali ya. Alhamdulillah sedari SMP itu, saya sudah sangat tertarik membaca buku-buku islam. Karena tempat les saya dulu jauh. Rumah di pejompongan, bimbel saya di Jl Dewi Sartika, di cawang, Santa Lusia. Kenapa les disana? Karena direktur Santa Lusia yaitu, ibu Lusia, adalah gurunya ayah saya ketika masih muda. Sebelum masuk UI. Jadilah saya gratis les disana, yang kalau pakai uang sendiri. Cukup mahal biayanya. Alhamdulillah’alakullihal. Karena tempat lesnya jauh, maka saya sering bawa buku untuk menemani perjalanan saya. Pergi dan pulang les. Wih masa perjuangan sekali itu.
Btw, ini dari kenal internet kenapa jadi melebar kmana-mana ya?
biarin lah ya..blog sendiri ini
Oke tulisan ini selesai, saya buat Part 1 dulu aja yah? *Apaa?? MASIH ADA lanjutannyaa?? *hehehe iyaa
*ngomong sendiri*
Selesai
*Part 1
~*Afra Afifah*~
[Tanah Baru, Waktu Subuh]
Rumahku Masih Ngontrak :) Februari 6, 2013
Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.Tags: pernikahan
4 comments
Awal tahun 2013 ini, kami pindah ke Tugu Tanah Baru Town House, Depok, Jawa Barat. Rumah ini merupakan rumah ke-3 yang kami sewa. Rumah pertama kami di Jl Rawa Pule, kukusan teknik UI. Waktu awal menikah, ketika saya masih kuliah. Rumah kedua di Griya Rahmani, Beji. Dan disinilah rumah ketiga kami.
This slideshow requires JavaScript.
Mudah-mudahan rumah keempat sudah bisa beli rumah secara tunai, atau cara lain yang terhindar dari riba. Masih nyewa?? YES!
karena sejak awal kami tidak mau mengambil KPR. Kenapa? Baca disini aja ya
atau disini atau disana
hehehe
Sahabat-sahabat SMA saya sontak tertawa ketika saya katakan bahwa saya dan suami tidak mau memakai KPR ketika mengobrol di acara resepsi pernikahan kawan kami. Saya dan suami mengembangkan senyum saja ^^ karena memang toh pada kenyataannya di jaman sekarang ini keputusan untuk tidak memakai KPR dalam membeli rumah, merupakan keputusan yang cukup “mustahil”. Kalo gitu kapan kebeli (rumah) nya? Pertanyaan inilah yang sering kali kami dapatkan.
Ah..bukankah matematika Allah berbeda dengan matematika manusia? ^^ Allah, akan dengan mudahnya memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka..bila IA menghendaki ..bukankah begitu..?
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Jika kita berusaha, dengan kerja keras dan kerja cerdas, dan tak lupa..senantiasa beribadah dan memohon kepada Allah, ditambah dengan bersabar dalam kebaikan… semua itu mudah bagi Allah…
“WORK HARD..PRAY HARD”
SE.MA.NGAT!!!
~*Afra Afifah*~
[Tugu Tanah Baru Town House, Depok, Jawa Barat]
Anyway, ada sebuah tulisan yang sangat indah dari Ustadz Syafiq Reza Basalamah, MA [hafidzahullah]
selamat membaca ..barakallahufikum
(more…)
Menyapih Khansa dengan Hypnoparenting Januari 30, 2013
Posted by Afra Afifah in Lembar Kehidupan.Tags: Khansa Kazhima
3 comments
14 Januari 2013. Putriku Khansa Kazhima tepat berumur 2 tahun. Alhamdulillah. Pada tanggal itu juga, saya mulai menyapih Khansa. Meski prosesnya, sudah saya lakukan sebulan sebelumnya? Kok bisa?
tentu bisa, karena saya mencoba untuk menyapih dengan cinta, bahasa kerennya, weaning with love (WWL)
This slideshow requires JavaScript.
Sebelum Khansa tepat berumur 2 tahun, sebenarnya saya sudah sejak lama baca-baca tulisan tentang weaning with love. Mungkin, kalau orang “dulu” , menyapih anak secara “tradisional” dengan cara memberikan sesuatu di PD sang ibu, bisa berupa bubuk kopi yang dicampur dengan sedikit air, atau diberi lipstick merah, sehingga anak enggan menyusu. Tapi, saya tidak menggunakan cara tersebut. Meski sempat terpikir, kalau wwl –nya gagal, terpaksa saya menggunakan cara “tradisional” tsb. Namun saya terus berusaha agar Khansa bisa disapih dengan cinta ^^
Walaupun sudah beberapa kali membaca artikel mengenai wwl, tapi bagi saya yang paling “mengena” adalah ketika saya membaca tulisan dari blog ka cizkah ini disitu tertulis mengenai hypnoparenting. Bagi saya, hypnoparenting sudah tidak asing lagi, sejak khansa belum lahir, saya sudah beberapa kali mempraktekkannya pada Khalid. Kejadian yang paling saya ingat adalah ketika saya beserta suami dan Khalid, ingin mudik pertama kali ke Garut dengan menggunakan Bus. Waktu itu kami pergi malam hari. Sebelum berangkat, saat masih di rumah, saya bisikkan di telinga Khalid:
“Khalid..kita mau mudik ke rumah kakek, Khalid bantu ayah bunda untuk tidak rewel di jalan ya? Gampang banget ko bantuinnya, Khalid tidur aja selama perjalanan. Itu udah sangat membantu ayah bunda, sayang. Kalau sudah sampai, baru Khalid boleh bangun ^^.”
Saya bilang seperti itu, karena di umur Khalid waktu itu, dia hampir selalu bangun malam dan menangis-nangis meraung minta susu. Dan, saya tidak menyangka cara itu berhasil. Khalid tidur sepanjang perjalanan dan bangun, ketika sudah sampai Garut! Masyaallah!
Karena sudah pernah mempraktekkan beberapa kali pula, saya cukup yakin bisa berhasil untuk menyapih Khansa dengan Hypnoparenting tsb. Sebulan sebelumnya, di bulan Desember. Ketika mau menyusu, saya selalu bilang ke Khansa:
“chacha (nama panggilan Khansa) ..nanti kalau udah umur 2tahun..chacha nda boleh mimibun lagi ya? Soalnya chacha kan sudah besar.. kalau sudah besar gak mimibun lagi.. aa Khalid sudah besar..dia hebat udah ga mimibun lagi. Tapii.. karena sekarang ocha belum 2th..ocha masih boleh mimibun hehe”
dan Khansa pun slalu mendengarkan meski ujung-ujungnya tetap merengek minta menyusu. Namun karena belum 2th, saya tetap memberikannya sambil terus mengucapkan hal-hal tsb, setiap dia mau menyusu.
Hari H pun tiba, saya bilang: “Alhamdulillah ade Khonsa udah umur 2tahun..sudah besar..pintar..udah gak mimibun lagi ya?”^^ dia mendengarkan sambil merengek sedikit..awalnya, sempat meronta-ronta. Tetap ingin menyusu. Kemudian saya katakan bahwa “ Khansa sudah besar..Khansa udah gak mimibun lagi.. Khansa insyaallah pasti bisaa!! Khansa kuatt!!”
Ketika ia ingin tidur dan minta susu itu, saya bilang : “sini bunda peluk ocha” tapi dia tidak mau dan tetep rewel..akhirnya saya elus-elus badannya..kakinya..alhamdulillah dia bisa tidur tanpa menyusu. Proses ini hanya berlangsung sekitar 2-3 hari saja.
Selanjutnya dia benar-benar tidak meminta lagi, dan langsung tidur..sekarang stiap mau tidur..dia selalu minta dipeluk..dielus-elus..dicium dan menjadikan lengan bundanya sebagai guling..
Dalam proses ini, benar saya rasakan, tidak hanya anak yang sedih tidak menyusu lagi. Sang Bunda juga harus siap mental dan kuat mental untuk tegas terhadap diri sendiri bila ingin proses ini sukses. Saya merasakan sedih sekali ketika dia pertama kali disapih. Ketika dia minta susu dan saya tidak memberikannya. Dan masyaallah..waktu cepat berlalu.. amanah sebagai ibu untuk menyusui anak selama 2 tahun sudah saya jalankan..rasanya itu tidak bisa terucapkan dengan kata-kata. Sedih, karena anak-anak cepat besar sekaligus senang. Smua campur aduk. Masyaallah..
Alhamdulillah ..proses penyapihan Khansa berhasil dengan sukses! ^^
~*Afra Afifah*~
[Tugu Tanah Baru Town House, penghujung Januari 2013]
Adik Banyak. Banyak Adik Desember 18, 2012
Posted by Afra Afifah in Afra Punya Opini.6 comments
Gimana rasanya punya adik banyak..? hmm ada suka dan duka, tentu. Apalagi sebagai kk pertama alias si sulung, ada tuntutan dari orangtua untuk menjadikan diri kita sebagai panutan dan contoh yang baik untuk adik-adik.
Terkadang, harapan (kalau tidak mau dibilang tuntutan) itu terasa ringan, biasa-biasa saja..tapi ada kalanya juga terasa berat.. terutama ketika berkaitan dengan kekurangan diri kita secara pribadi.
Berusaha menjadi panutan dan contoh yang baik untuk adik-adiknya, tidak berarti lepas dari kekurangan dan kesalahan diri sebagai manusia, bukan?
Karena itulah, saya katakan mengapa harapan dan tuntutan itu beti, beda-tipis. Tergantung bagaimana situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang-orang yang bersangkutan.
So far, saya merasa senang mempunyai banyak adik. Rumah selalu ramai. Ramai dikala “damai”, dan ramai juga dikala “ribut” hehehe..
Masih hangat dalam ingatan, ketika mama akan melahirkan anak ke-6. Berarti dia adik saya yang kelima. Dulu, saya ingat sempat protes gak mau punya adik lagi. Sempat malu juga. Entah malu karena apa. Saya lupa sebab pastinya, yang jelas, sejak dulu, teman-teman atau orang-orang disekitar saya sering kaget ketika tau bahwa saya enam bersaudara. Dan saya anak sulung. “berarti adik-adik lo masih kecil-kecil dong fra??” ya, pertanyaan semacam itu, dan sejenisnya.
Orangtua sejatinya mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik anak-anak. Terutama bila mempunyai anak yang banyak. Pendidikan, perhatian, perlakuan. Mestilah adil, ke semua anak-anaknya..
Jarak umur yang berdekatan (2th-2th) juga sering kali menjadi pemicu perselisihan diantara kk-adik. Rebutan mainan, misalnya.
Namun, semakin beranjak dewasa, perselisihan itu semakin berkurang. Jarang sekali. Dan bisa hilang. Apalagi bila sudah menikah..
Begitulah yang saya rasakan, terutama bila sudah tinggal jauh dari orangtua dan adik-adik. Rasa rindu yang seringkali muncul dalam diri jika sudah berjauhan…
~*Afra Afifah*~
I love my Big Family. I love you all…
[Jagakarsa, Desember 2012]
Bila Tiba Waktuku… Desember 14, 2012
Posted by Afra Afifah in Aku dan Puisi.2 comments

Bagaimana rasanya..
bila diri ini ditinggalkan orang tercinta untuk selamanya…?
……………..
Bahkan, untuk sekedar membayangkannya saja aku tak sanggup.
……………..
Namun bila masa ku datang…
kumohon, maafkanlah kesalahan-kesalahanku…
doakan kebaikan untukku..
…
tetaplah tegar…
maafkan aku…
..
~*Afra Afifah*~
[Jagakarsa, menanti hujan turun, 14 Desember 2012]
Nasihat-Nasihat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa November 29, 2012
Posted by Afra Afifah in Sang Pujangga.Tags: Taufiq Ismail
3 comments

Jika adalah yang harus kaulakukan Ialah menyampaikan Kebenaran…
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan Ialah yang bernama keyakinan…
Jika adalah yang harus kautumbangkan Ialah segala pohon-pohon kezaliman…
Jika adalah orang yang harus kauagungkan Ialah hanya Rasul Tuhan…
Jika adalah kesempatan memilih mati Ialah syahid di jalan Ilahi..
April, 1965
~*Taufiq Ismail*~

































